Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 38


__ADS_3

...3.8 Menyukai Richard....


“Lagi pula selama tiga atau empat tahun terakhir ini suami saya tidak pernah ada. Jadi tidak aka nada yang berubah. Itu yang saya pikirkan.” Ujar Anna melanjutkan.


“Tapi ternyata semuanya berbeda setelah bercerai.” Sambungnya.


“Ah…” Sahut Richard turut prihatin.


Dan kemudian Anna pun kembali melanjutkan:


“Ternyata saya juga bergantung pada mertua saya. Contohnya seperti masalah keuangan.” Ungkapnya.


“Dan saya tidak suka ketika ada orang yang membicarakan soal perceraian saya.”


Anna pun terus menceritakan tentang kesulitannya kepada Richard, dan rasanya tidak ada beban sama sekali ketika menceritakan masa-masa sulitnya itu kepada Richard. Apalagi dengan minuman wine yang mereka minum sangat membantu ia bercerita lepas.


“Kenapa ayahnya tidak pernah kelihatan? Apa sudah bercerai? Kata-kata itu.”


“Orang tuanya sudah bercerai jadi dia tidak punya ayah. Dan kata-kata ini ternyata berbeda.” Ujarnya.


Richard pun kemudian menyahut dengan berkata:


“Sepertinya anda sangat lelah.” Ujar Richard dan Anna pun tersenyum tipis sehingga Richard pun menyadari jika seharusnya bukan kata-kata seperti itu yang ia lontarkan:


“Sial, tanggapanku hanya seperti ini.” Tangkasnya dalam hati.


“Tapi saya harus segera mengatasinya. Harus lebih tegar.” Tutur Anna.


Kemudian Anna pun sempat terdiam sejenak dan selang beberapa detik kemudian iapun kembali berkata:


“Dan ada satu hal lagi.” Ujar Anna yang kali ini dari ekspresi wajahnya terlihat sangat serius.


“Tidak disangka saya akan mengatakannya sekarang.” Tuturnya meneruskan.


Richard pun terlihat bingung dan penasaran akan hal itu. Namun Anna menahan mulutnya sebentar dan kemudian iapun meneguk wine yang sudah terisi di dalam gelas dengan penuh emosi sehingga membuat Richard pun tercengang melihatnya.


“Saya…” Lanjut Anna ketika menghabiskan wine yang yang tadi baru saja ia teguk.

__ADS_1


Richard pun semakin penasaran dan terlihat sudah tak sabar dengan apa yang akan Anna katakana.


“Saya pasti memberikan beban pada anda pak Richard, karena perasaan suka saya terhadap anda.” Ungkapnya.


Sontak mata Richard kembali tercengang.


“…itu yang ada di pikiran saya.” Sambung Anna lagi.


Dua serangan balik yang tiba-tiba. Pertama kata-kata suka. Kedua kata-kata beban. Richard pikir dia yang akan mengutarakan perasaan sukanya terhadap manajer Anna, namun ternyata semunya tidaklah seperti yang ia pikirkan. Sehingga iapun harus menjelaskan dengan baik, dan ia tidak mau diam saja setelah mendengarkan kalau manajer Anna suka padanya.


“Sebenarnya, setelah kita bertemu…” Tutur Anna lagi secara perlahan.


“Kalau bisa mengendalikan situasi dan menjaga pikiran dengan baik apapun yang aka terjadi, saya pikir tidak aka nada yang sulit.”


Anna kali ini benar-benar terlihat serius dan sepertinya ia tidaklah main-main akan pernyataannya barusan, hal itu terlihat dari matanya yang sangat tulus dan penuh perngahayatan.


“Saya sangat senang ketika anda datang ke rumah saya waktu itu.” Sambungnya.


“Aku yang sebenarnya sangat senang, karena kau sudah memelukku, memperbolehkan aku menyentuhmu, dan juga menghiburku.” Ucap Richard dalam hati, dan kemudian Anna pun melanjutkan:


“Hari ini… saya sadar akan banyak hal. Orang ini mungkin tidak bisa mengendalikan situasi. Tapi itu bukan kesalahannya, dan saya tidak bisa melakukan apa-apa.”


“Walaupun punya keberanian, saya tidak bisa mengatakan perasaan saya begitu saja.” Tutur Anna lagi.


“Dan saya tidak mau menyalahkan anda atas situasi yang sulit ini.” Sambungnya dan kembali mengulangi:


“Bukan, saya tidak boleh menyalahkan anda.”


Richard pun semakin gelisah dan tak tertahankan lagi sehingga bibirnya pun mulai berucap dengan penuh emosi di dalamnya:


“Ah…”


“Saya tidak mau lagi mengatakan maaf…”


“Sepertinya aku hanya perlu berteriak dan berkata bahwa aku menyukaimu, aku mencintaimu.”


“Tapi tidak ada kata-kata yang tepat yang bisa saya katakana.” Ungkap Richard dan kemudian iapun menundukkan kepalanya secara perlahan.

__ADS_1


“Bilang saja aku mencintaimu!” Ucap Anna.


“Maaf, saya jadi mengatakan semuanya… Soalnya perasaan saya sedang campur aduk.” Sambung Anna lagi.


Seketika kesedihan Anna pun tak terbendung lagi sehingga air matanya pun mulai menetes dan membasahi pipinya.


“Saya berusaha hidup dengan baik, tapi saya hanya memiliki anak saya, setiap malam menunggunya sampai tidur, dan pagi-pagi sibuknya bukan main, saya tidak punya tempat untuk berpaling atau bersandar.” Ujar Anna sambil menangis.


“Entah sejak kapan, tanpa saya ketahui ada seseorang yang bersandar pada saya, tapi orang itu terlalu jauh, tidak ada yang bisa saya berikan dan tidak ada yang bisa saya dapatkan.” Sambungnya lagi yang masih juga meneteskan air matanya.


Seketika Richard pun mendekat pada Anna dan kemudian ia meraih tangan Anna sambil berkata dalam hati:


“Apa pun yang aku katakana pasti tidak akan bisa menghiburnya. Karena yang menyakitinya adalah aku.” Tuturnya dalam hati sambil mengusap air mata Anna dan kemudian Richard pun seketika memeluk Anna dengan begitu lembut.


“Aku harus memberanikan diri..”


“Bukan, aku tidak tahu apa ini masalah keberanian atau hati yang gelap,dan aku tidak tahu apa ini naluri atau ungkapan cinta.” Sambungnya dalam hati dan secara perlahan Richard pun mengecup dahi Anna dan lalu mengekspresikan betapa ia mencintai Anna dengan cara menicum bibir Anna.


Adegan ciuman pun terjadi antara Richard dan Anna, Richard begitu lembut menempelkan bibirnya ke bibir Anna yang begitu lembut, dan Anna pun dengan lapang dada menyambut bibir Richard.


Ciuman pun terus berlanjut beberapa menit lamanya, dan seketika tangan Richard pun mulai merabah-rabah tali BH Anna, namun tiba-tiba semuanya harus terhenti. Karena anak Anna tiba-tiba saja memanggil ibunya dari dalam kamar.


“Ibu…”


“Ibu..?” Teriak anak Anna.


Tentu saja Anna pun kaget, yang tadinya ia sangat menikmati adegan itu namun tiba-tiba ketika mendengar suara sang anak memanggilnya matanya pun seketika terbuka lebar dan dengan cepat iapun melepas bibirnya yang sudah menempel di bibir Richard.


Anna pun dengan cepat berlari menuju kamar untuk menemui anaknya.


“Iya, ibu di sini, apa kau bermimpi buruk?” Ujar Anna.


Sungguh kesempatan yang hilang begitu saja, pedahal ini adalah momentum bagi Richard. Sepertinya semesta tidak mendukung sehingga dengan sangat terpaksa Richard pun harus merelakan kesempatan dan peluang besar yang sudah sempat ia genggam kali ini.


Beberapa menit kemudian, Richard pun masih menunggu Anna keluar dari kamar namun Anna tak juga kunjung. Ia ingin menghubungi Anna melalui telepon namun sayangnya ponsel manjaer Anna tertinggal di atas meja sehingga iapun mengambil sebuah kertas yang berada di ruangan itu dan mulai menulis.


Kertas itu ia letakkan di atas meja dan berharap manajer Anna akan membaca kertas itu ketika keluar dari kamar nantinya.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2