Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 17


__ADS_3

...2.7 Ada Apa Dengan Suami Anna?...


“Ha? Itu bukannya manajer Anna?!” Ucap Richard tidak dapat mempercayai jika manajer Anna juga da di acara pernikahan mantan pacarnya itu.


“Kenapa dia ada di sini?! Apa dia temannya Nina? Masa? Dia kan lebih tua 4 tahun?” Lanjut Richard masih bertanya-tanya.


“Lulusan universitas yang sama? Atau saudara jauh?” Sambung Richard lagi masih bertanya-tanya.


Kehadiran manajer Anna di acara itu seketika menyihir mata Richard. Anna terlihat begitu cantik, dan sesaat pikiran mengenai mempelai wanita yang cantik itu hilang dari otaknya.


Dan tentu saja Richard pun seketika mengerur dan melambaikan tangan kepada manajer Anna.


“Manajer Anna.” Ujar Richard dari meja sebelah sehingga Anna pun menoleh.


“Pak Richard, kok ada di sini?” Tanya Anna yang juga tak menyangka jika Richard ada di acara tersebut.


“Saya dan mempelai wanitanya ikut klub yang sama di kampus.” Jawab Richard.


“Ya ampun! Anda kenal Nina! Saya teman kakaknya Nina.” Ucap Anna sambil menunjuk kakak Nina yang berada bersamanya sehingga kakak Nina pun juga kaget melihat Richard.


“Kenapa kau ada di sini?” Ucap kakak Nina kaget, dan kemudian Anna pun kembali berkata:


“Kami sangat akrab. Saya kenal dengan keluarganya.”


“Mengagetkan sekali kita bisa bertemu di sini.”


“Iya ya, hahaha.” Ujar Richard sambil menggaruk kepala karena kakak Nina terus memperhatikannya.


“Saya juga sebenarnya tidak mau datang” Ucap Richard namun karena kakak Nina masih terus memperhatikannya iapun mengegur:


“Berhenti melihatku seperti itu.” Ucap Richard dan kemudan kembali berkata kepada Anna.


“Kalau tahu anda di sini, saya dari tadi pasti sudah mencari an..” Ucap Richard belum selesai berbicara tiba-tiba anak Anna pun menangis karena makanannya tertumpah dan mengenai bajunya.


“Hwaaa!!”


“Ah, iya-iya ayo kita bersihkan. Ibu akan berikan makanan yang baru!” Ujar Anna buru-buru mengangkat anaknya lalu pergi membawa anaknya ke toilet untuk membersihakn baju anaknya yang terkena makanan yang tertumpah tadi.


Dan tinggalah Richard dan kakak Nina di meja itu ketika manajer Anna buru-buru pergi membawa anaknya bersih-bersih. Karena merasa canggung dengan kakak Nina, Richard pun juga pergi meninggalkan tempat acara tersebut.


“Ah, Richard tidak ikut ke after party?” Tegur teman-temannya yang mengejeknya tadi.

__ADS_1


“Hei, jangan pergi! Kita harus minum bareng.”


“Biarkan aku pergi kumohon.” Jawab Richard dan kemudian Richard pun berkata dalam hati:


“Haa, malam ini aku akan jadi topik pembicaraan mereka, aku akan masuk ke dalam sejarah klub, dengan julukan pria legendaris, pria yang muncul di acara pernikahan mantan pacar.” Tuturnya dalam hati berprasngka.


Setelah itu Richard pun pergi dari gedung pernikahan itu. Karena terlalu heboh, Richard jadi tidak sempat bicara lagi dengan manajer Anna.


“Masih terlalu cepat untuk pulang ke rumah, apa aku ke toko buku saja?” Ucap Richard dalam hati.


Dan ketika Richard sedikit menyayangkan hal itu, tiba-tiba pesan dari manajer Anna pun masuk.


‘Anda sudah pulang? Mungkin anda ke after party. saya jadi tidak bisa berpamitan dengan anda.’


Tentu saja Richard yang mendapat pesan dari Anna itupun seketika kegirangan dan membuat orang-orang di sekitar melihatnya seperti orang gila. Sehingga dengan cepat Richard pun membalas pesan Anna tersebut.


‘Tidak. saya masih di sekitar hotel. Sedang jalan-jalan.’


‘Tidak sedang menyetir kan? Kalau begitu apa anda bisa membelikan saya kopi?’ Balas Anna.


Dengan senang hati Richard pun menjadi tukang antar kopi, meskipun Richard tidak tahu kenapa Anna selalu memintanya untuk membelikannya sesuatu.


“Terima kasih.” Ucap Anna ketika Richard memberikan kopi yang diminta tadi.


“Kalau ada waktu, apa anda mau duduk di sini sebentar?” Tanya Anna.


“Yes.” Ucap Richard dalam hati senang kegirangan.


“Untung aku beli 2 gelas.” Sambungnya dalam hati.


Sebetulnya apa yang terjadi kali ini sangat ironis bagi Richard, yang mana ini adalah pertama kalinya ia bertemu Anna di luar kantor selain pertemuan pertama mereka pada saat di tim TF waktu itu.


Seketika Richard pun tidak bisa fokus, melihat Anna yang begitu aduhai serta memakai rok yang pendek membuat dia merasa tegang.


Selama ini hubungan mereka sepenuhnya hanya terjadi di dalam kantor. Mereka jarang sekali mengirim pesan di malam hari atau di akhir pekan, dan mereka tidak pernah saling telepon satu sama lain. Hubungan yang hanya terjadi di lingkungan kerja itu sangatlah membuat Richard penasaran.


“Pak Richard.” Tegur Anna, dan Richard pun menoleh.


“Anda pernah pacaran dengan Nina?” Tanya Anna sehingga membuat Richard pun terbatuk-batuk.


“Uhuk, uhuk, uhuk.”

__ADS_1


“A-anda tahu dari kakaknya?” Tanya Richard dan kemudian mengutuk dalam hati.


“Dasar kakak mantan pacar sintng.”


“Tidak, tapi itu terlihat dari wajah kakak Nina. Saya hanya mengira.” Jawab Anna, sehingga Richard pun berkata dengan ekspresi malu.


“Hmm, sebenarnya aku…”


Dan Richard pun mulai menceritakan hal yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Soal ketika ia pacaran dan putus, lalu soal Nina yang datang ke kantor minggu lalu dan memaksa ia datang.


“Baguslah anda datang. Itu pasti akan menjadi hdiah berharga bagi Nina. Saya mengerti perasaan anda.” Ucap Anna setelah mendengar cerita Richard.


“Saya juga berpikir begitu.” Balas Richard.


“Tapi karena itu juga saya bisa bertemu anda di luar kantor.” Sambung Richard seolah-olah ingin menunjukkan betapa bahagianya dia bisa bertemu Anna, namun sayangnya Anna tidak bereaksi sama sekali.


“Iya, menurut anda bagaimana steaknya?” Tanya Anna.


“Apa? Ah, saya? Tidak banyak makan.” Jawab Richard dan rasanya seperti ada yang menusuk, apa yang ia harapkan tidak terjadi sehingga iapun mengambil tisu dan mengelap matanya sambil berkata:


“Huh, saya bahkan tidak menghabiskan setengah makanannya.”


“Pak Richard, apa anda menangis?”


“Saya sedih karena teringat steak yang tersisa.”


“Ya ampun, kenapa menangis hanya karena itu.”


Dan, setelah itu Richard pun berkata bertanya secara serius kepada Anna.


“Abu manajer, jika dipikir-pikir anda tidak pernah cerita soal suami anda. Anda hanya bilang kalau anda berdua tidak tinggal bersama.” Tanya Richard serius, dan sejenak Anna pun terdiam, dan kemudian setelah itu berkata:


“Ah, suami saya.”


“Haa, saya masih saja bilang suami saya.”


“Kalau segan anda tidak perlu cerita. Hanya saja anda tidak pernah cerita soal itu.” Ujar Richard.


“Saya bingung harus mulai dari mana, karena saya memang jarang cerita soal dia.” Ucap manajer Anna.


Dan, tiba-tiba saja percakapan mereka pun harus terhenti karena pada saat itu juga anak manajer Anna bangun. Namun manajer Anna meminta Richard untuk tetap bersamanya sambil ia menyetir mobil dan menuju ke rumahnya.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2