Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 37


__ADS_3

...3.7 Dua Botol Wine....


“Wanita tadi…”


“Terlihat sangat baik, tapi ya ampun dia sudah bercerai.” Lanjutnya.


Richard pun tak bisa berkata apa-apa lagi dan sehingga ia hanya bisa menerima setiap ucapan maupun masukan yang diberikan oleh ibunya.


“Ibu bingung kakakmu bisa menikah dengan sangat cepat, tapi kau yang sudah berumur lebih dari 30 tahun belum juga menikah.” Ujar sang ibu.


Sepanjang perjalan menuju pulang ibu Richard pun terus berbicara dan Richard pun hanya bisa menerima setiap ucapan dari ibunya. Namun meski begitu pikiran Richard tidaklah tenang, ia terus memikirkan Anna dan ia begitu merasa bersalah dengan kejadian tadi. Sehingga, ketika sudah sampai Richard pun segera mengirimi Anna pesan teks melalui ponselnya.


‘Manajer Anna, anda sudah sampai rumah?’ Tanyanya melalui pesan teks yang ia kirimkan kepada Anna.


‘Anda pasti canggung ada ibu saya?’


“Haa.. kacau, kacau. Saking terkejutnya, aku sampai tidak bisa bicara apa-apa.” Ungkap Richard kesal dengan dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian Anna pun membalas pesan Richard tadi dengan balasan:


‘Tidak. Ibu anda terlihat sangat baik’


‘Maaf saya tidak memperkenalkan ibu saya dengan baik.’


‘Saya bingung harus bilang apa.’


‘Tidak apa-apa. Memangnya harus diperkenalkan seperti apa…’ Tanya Anna.


“Astaga, kami kan belum resmi pacaran.” Ujar Richard sadar jika dia baru saja salah dalam membuat suatu kalimat.


“Tapi, kenapa dia menambahkan titik-titik ya?” Sambungnya dalam hati.


Richard penasaran akan maksud Anna menambahkan titik pada pesan nya barusan sehingga iapun berpikir jika ia haruslah melakukan sesuatu, karena pada dasarnya ia sudah bertekad untuk memberanikan diri. Ia tidak boleh seperti ini, dan ia harus mengembalikan keberanian yang manajer Anna berikan padanya.


‘Mungkin anda sibu di akhir pekan nanti.. tapi apa anda punya waktu? Kalau sulit. Saya yang akan ke rumah anda.’


‘Sekarang tidak ada orang yang bisa menjaga anak saya.’


‘Anda mau ke rumah saya nanti malam? Nanti saya akan telepon anda.’


‘Maaf menyuruh anda seperti ini.’ Ujar Anna membalas pesan Richard.


“Kenapa dia yang minta maaf?” Tutur Richard dalam hati.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama lagi Richard pun langsung pergi menuju ke rumah Anna tanpa menunggu telepon Anna terlebih dahulu. Karena sesungguhnya Richard merasa sangat berhutang budi kepada Anna dan ialah yang seharusnya berterima kasih karena Anna sudah mau meluangkan waktu untuknya.


Richard yang waktu itu berbeda dengan Richard yang sekarang karena manajer Anna sudah memeluknya, memberanikan diri dan menyelamatkannya.


Pecundang yang ingin mencoba melakukan sesuatu, penakut yang dulunya selalu kabur, sekarang sudah berbeda.


‘Tidak apa-apa saya akan tunggu di depan rumah.’


‘Saya ada di depan apartemen. Anda santai saja sampai anak anda tidur.’ Ujar Richard mengirimi Anna pesan ketika sudah sampai di depan apartemen Anna.


Richard pun sampai di depan apartemen Anna dan menyempatkan diri untuk singgah sebentar untuk membeli wine.


‘Anak saya baru saja tidur. Apa anda bisa naik 10 menit lagi supaya anak saya benar-benar tidur? Saya juga akan ganti baju.’ Balas Anna.


10 menit kemudian Richard pun naik dan menuju ke pintu apartemen Anna, tak begitu lama Anna pun membuka kan pintu untuknya, dan kemudian Richard memberikan wine yang dibeli tadi kepada Anna sehingga Anna pun tersenyum.


“Apa dia ganti baju karena tadi memakai baju yang lebih santai?” Ujar Richard dalam hati, ketka melihat penampilan Anna yang memakai rok hitam dan mengenakan hoodie cream.


Richard pun kembali mengingat ketika dulu Anna menyuruhnya ganti baju dan itu sangat membuatnya senang, tapi sekarang ini bukanlah hari yang seperti itu, pembicaraan yang serius, yang dimana di hari inilah hubungan mereka akan berkembang menjadi hubungan yang pasti.


“Ah, apa aku harus beli bunga juga?” Tutur Richard dalam hati rasanya seperti mau melamar.


“Tidak, yang diperlukan hari ini bukan bunga. Tapi keberaniaan, tegas, percaya diri dan tulus.” Sambungnya.


“Wah, anda langsung buka dua botol?” Ujar Anna.


“Kita habiskan saja hari ini. Sayang kalau disisakan.” Ucap Anna.


“1 orang 1 botol..?” Ungkap Richard dalam hati.


“Apa waktu anda minum bersama saya adalah pertama kalinya anda minum alkohol lagi?” Ujar Richard bertanya.


“Satu atau dua bulan sebelumnya saya minum alkohol dengan tim kantor.” Jawab Anna sambil tersenyum.


“Waktu itu anak saya dijaga bibi. Saya awalnya berniat makan malam saja, tapi saya ingin sekali minum.” Sambungnya dan kemudian melanjutkan lagi dengan berkata:


“Tiba-tiba waktu itu saya sering ke pengadilan keluarga dan bertemu pengacara, dan saat itu juga saya sedang bertengkar dengan suami.” Ungkap Anna.


“Ah…” Sahut Richard berekspresi turut perihatin.


Dan Anna pun kemudian melanjutkan ceritanya:


“Tapi saya takut karena rasa alkoholnya sama sekali tidak pahit. Rasanya manis. Saya ingin terus minum sampai mabuk dan ingin sekali mengumpat.” Tuturnya.

__ADS_1


Richard pun terecengang mendengar ungkapan cerita dari Anna tersebut, sehingga Anna pun kemudian meneruskan lagi ceritanya di masa-masa sulit itu:


“Tapi saya ingat anak saya dan mencoba bertahan, akhirnya saya hanya minum dua gelas bir.”


“Saya kesal karena saya ingin minum soju.”


Seketika Richard pun merasa kesal dengan dirinya sendiri sehingga tanpa sadar tangannya terkepal dengan sendirinya sambil berkata dalam hati:


“Aku harusnya ada di sisinya.”


“Tapi aku malah mengeluh seperti orang bodoh.” Ungkapnya penuh emosi dalam hati.


“Maaf saya datang tiba-tiba.” Ujar Richard kepada Anna.


“Tidak apa-apa. Anda terlihat stress.” Ucap Anna, dan kemudian melanjutkan dengan deheman:


“Hmmm…”


“Saya senang ketika anda mengirim pesan.” Ujar Anna.


“Ah… saya senang tapi saya juga tahu anda perlu bicara.” Sambungnya, dan Richard pun tersenyum lalu berkata:


“Haha… untung saya memutuskan untuk kemari.” Ujar Richard.


“Hari ini lagi-lagi karena aku.” Sambung Richard.


“Sebenarnya saya mengerti kenapa anda ragu-ragu menghubungi saya.” Ujar Anna.


“Tapi karena itu saya jadi lebih berterima kasih lagi.” Sambungnya.


“Tidak, gara-gara aku. Seharusnya aku lebih baik lagi.” Ucap Richard.


“Tidak, harusnya aku tidak membuat situasi seperti ini.” Sambung Richard.


“Maaf, sudah merepotkan hari ini, saya juga tidak bisa bicara dengan baik.” Ujar Richard lagi.


“Ah, tidak, tidak. Saya tidak menyalahkan anda dan ibu anda. Saya mengerti perasaan anda. Saya juga memang banyak pikiran.” Tutur Anna.


“Selama beberapa bulan terakhir saya bisa bertahan dengan baik. Sambil melihat anak saya tidur, setiap hari saya memutuskan kalau saya akan hidup dengan baik.” Sambungnya.


Dan obrolan mereka pun terus berlanjut, sambil menikmati Wine yang dibawa oleh Richard, mereka pun terus berbagi cerita satu sama lain.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2