Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 25


__ADS_3

...3.5 Cerita Anna...


“Saya waktu itu ada di rumah orang tua saya, jadi walaupun saya ingin minta tolong, saya tidak bisa menghungi anda.” Ujarnya memberi penjelasan.


“Karena itu saya cuti, dan bibi saya yang mengurus anak saya.” Terangnya melanjutkan.


Anna pun kemudian kembali menuangkan wine ke dalam gelasnya dan kemudian meneguknya lagi setelah itu kembali berkata:


“Bibi saya bisa menjaganya sampai hari ini jadi saya dari kantor cepat-cepat kembali.”


Karena hal tersebut, sehingga Richard pun merasa jika hubungan mereka memanglah masih terbilang jauh dari kata romantis. Karena ketika Anna sakit berat, Anna tidak sama sekali bersender padanya.


“Anda sekarang sudah sehat?” Tanya Richard.


Dan Anna pun memneguk lagi wine nya lalu berkata:


Wah. winenya sneak sekali!” Ungkapnya.


“Saya harus foto labelnya, nanti saya mau beli.” Sambungnya tanpa menjawab pertanyaan Richard tadi.


“Selama ini anda tidak ada kesempatan untuk minum wani, mari minum bersama saya lagi.” Ujar Anna sambil melemparkan senyum kepada Richard.


“Anu, tapi…” Ucap Richard ingin berkata namun mulutnya susah untuk mengungkapkan.


“Wine, ****** yang ada di dalam dompet.” Tuturnya dalam hati.


Mlam yang mereka lewati bersama, dan sebuah pertanyaan yang tidak nyaman masih tertahan di mulut Richard. Tapi, ia ingin menanyakannya sehingga iapun mulai membuka mulutnya karena mendengar jawabannya.


“Apa saya tidak apa-apa datang ke rumah anda seperti ini?” Tanyanya memberanikan diri, dan kemudian melanjutkan dalam hati:


“Kenapa dia memanggil aku ke rumahnya?” Ujar Richard menumbulkan pertanyaan dalam benaknya.


“Ah, bagaimana ya. Orang yang tidak boleh datang ke sini sekarang.” Jawab Anna terlihat seperti sedang berpikir dan kemudian iapun melanjutkan.


“Adalah suami saya.” Ungkapnya. Sehingga, Richard pun tercengang lalu berkata dalam hati:


“Bercana atau bukan? Aku bahkan tidak bisa tertawa.!”


“Suami saya sekarang ada di amerika.” Ujar Anna.


“Iya, anda pernah bilang waktu itu.” Jawan Richard membenarkan.


“Bisa-bisanya dia tidak datang di hari natal dan tahun baru, sudah lama dia tidak pulang.” Pungkas Anna dengan emosi.

__ADS_1


“Bukannya anda bisa ke sana.” Balas Richard bertanya.


“Tapi aku tidak boleh menanyakan hal itu.” Sambungnya dalam hati.


“Anu, tolong ceritakan lagi tentang suami anda. Saya penasaran.” Ujar Richard meminta.


Anna pun kembali meneguk wine yang sudah terisi di gelasnya, dan setelag itu iapun berkata:


“Saya pernah bilang kan dulu kalau saya mau melanjutkan kuliah lanjutan.” Ujar Anna.


“Saya ketemu suami saya ketika studi itu.” Sambung Anna dan Richard pun serius mendengarkan.


Setelah itu, Anna pun kemudian menceritakan tentang suaminya kepada Richard. Mulai sejak awal ia bertemu dengan suaminya dan kemudian menikah sehingga punya anak dan berpisah.


“Suami saya juga kuliah di universitas yang sama, dan kami punya banyak teman yang saling kenal sehingga kami bisa menjadi akrab.”


“Dia pintar dan dia bisa segala hal. Ketika masih kuliah, saya pernah pacaran dengan seniman, anak band yang seumuran dengan saya. Dia main music di jalanan, dan dia hidup dengan bebas.”


“Dia lembut, baik, dan romantic. Tapi karena seperti itu, setelah kerja aku membantu keuangannya, membayar sewa rumahnya, dan membantu biaya rumah sakit ketika ibunya sakit.” Terangnya menceritakan tentang kehidupannya zaman dulu.


“Anda sampai bayar biaya rumah sakit…” Balas Richard, dan kemudian Anna pun kembali bercerita:


“Tapi saya lelah dank arena itu juga kami putus.” Ucap Anna.


“Jadi anda pacaran karena dia sangat berbeda?” Tanya Richard penasaran.


“Mungkin begitu.” Jawab Anna, dan kemudian melanjutkan:


“Saya biasanya suka pria yang lembut, tapi anehnya saya tertarik dengan dia.”


“Tapi dia membantu saya belajar, alhirnya kami pacaran.” Sambungnya.


“Siapa yang mengajak pacaran deluan?” Tanya Richard lagi.


“Tidak tahu, karena kami sangat sering bertemu, suatu hari…” Ucap Anna belum selesai berbicara Richard pun memotong dengan berkata:


“Saya tahu saya tidak boleh bicara seperti ini, tapi itu tidak terdengar romantic.” Ujarnya.


“Betul, tapi itu kan tidak masalah..?” Jawab Anna dan kemudian melanjutkan:


“Ketika mendaftar ke universitas dan sebelum pergi ke luar negeri, kami membicarakan soal pernikahan.”


“Tapi saat itu saya mengetahui kalau ibu saya menderita kanker paru-paru.” Sambungnya.

__ADS_1


“Kanker paru-paru?” Ucap Richard berekspresi terkejut, dan kemudian Anna pun kembali menceritakan:


“Ketika itu saya memaksa suami saya untuk menikah dengan saya sebelum kami berangkat ke luar negeri.” Tuturnya.


“Ayah saya meninggal ketika saya masih sekolah, dan saya jadi tergesa-gesa karena takut kalau ibu juga meninggal.”


“Saya akhirnya tidak ke luar negeri. Suami saya diterima tapi saya tetap memohon-mohon untuk menikah.” Ujar Anna dan masih melanjutkan ceritanya:


“Saya berpikir mungkin saja dia menolak karena terlalu terburu-buru, tapi akhirnya dia pun mau menikahi saya.” Ujarnya dan kemudian melanjutkan dengan berkata:


“Itu pernikahan yang aneh. Rasanya seperti dikejar masa depan yang tidak ada janji.” Tutur Anna berekspresi sedih.


“Lalu kami pergi bulan madu seadanya, dan kami tinggal serumah bersama untuk sesaat sebelum dia pergi ke luar negeri.” Sambungnya, dan mengakhiri ceritnya dengan berkata:


“Hanya itu saja kehidupan saya dan suami saya.”


“Kana da waktu liburan, waktu liburan dia tidak pulang?” Tanya Richard.


“Setengah dari kuliah itu adalah intenrnship. Sebuah perusahaan bisa menawarkan pekerjaan tetap tergnatung dengan performa seseorang ketika sedang menjalani internship. Jadi itu sangat penting.” Jawab Anna dan kemudian melanjutkan:


“Lalu setahun kemudian, saya mengambil cuti dan pergi ke amerika.” Tutur Anna sambil menuangkan wine lagi ke dalam gelasnya.


“Waktu itu masih tidak apa-apa, saya sangat bahagia bisa bertemu denganya setelah 1 tahun. Lalu saya hamil ketika pulang.” Sambungnya.


“Ah…” Ujar Richard.


“Itu memang tidak direncanakan, tapi saya bahagia, tapi masalahnya ternyata bukan ada pada saya, suami saya sangat terkejut.” Lanjut Anna menerangkan.


“Saya terus menghabiskan cuti saya untuk mengunjungi dia di amerika. Saya menghabiskan semua cuti bersalin saya di amerika.”


“Tapi sebelum kelulusan, suami saya sibuk karena pekerjaan.”


“Karena itu tanpa keluarga atau teman, saya mengurus anak sendiri.” Sambungnya dan kemudian melanjutkan lagi.


“Suami saya selalu sibuk, dan saya pun tambah depresi.”


“Suami saya terlalu suka hidup di amerika, dia sangat mencintai gelarnya dan sekolahnya. Dia hanya mengharapkan masa depan yang mewah dan pekerjaan yang luar biasa.”


“Tapi, di masa depannya, sepertinya tidak ada saya dan anaknya.” Ujarnya sambil memperlihatkan senyum kesedihan dihadapan Richard.


Manajer Anna menceritakn berbagai macam kisahnya, ketika dia kembali dari amerika bersama anaknya lalu harus berjuang sendiri sampai saat ini.


Dia berusaha agar tidak sakit ketika merawat anaknya, dia juga tidak bisa minta tolong keluarga suaminya karena hubungan mereka sudah jauh.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2