Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 22


__ADS_3

...3.3 Acara Akhir Tahun...


“Ibu, ibu.” Tutur Richard.


“Hmm.” Jawab ibunya dengan mendehem.


“Bagaimana kalau aku pacaran dan menikah dengan selebriti?” Sambung Richard meminta pendapat sang ibu.


Ada 3 situasi yang mungkin saja akan terjadi. Pertama, setuju menikah dengan manajer Anna namu orang tua tidak setuju. Kedua, orang tua setuju namun manajer Anna tidak setuju, dan ketiga. Tidak menikah, hanya pacaran tanpa ada janji.


Namun bagi Richard jika harus memilih, daripada pilihan ke-1 yang menjanjikan manajer Anna masa depan yang tidak pasti, ia lebih memilih pilihan ke-2 yang kemungkinan besar berkahir buruk baginya. Karena pilihan ke-3 terlalu rumit, jadi lebih baik dilewatkan saja. Dan, pilihannya adalah, orang tua setuju namun manajer Anna tidak setuju.


“Kenapa Nina jadi selebrit?” Tanya sang ibu dan kemudian melanjutkan.


“Dia cantik tapi umurnya sudah lebih dari 30 tahun kalau terlalu…” Sambung ibunya dan Richard pun memotong:


“Ah, ibu! Sudah lama aku putus dengan Nina!” Ujar Richard buru-buru memberitahukan sang ibu.


Richard tidak mungkin bilang kalau orang yang ia maksud akan menjadi janda, karena itu ia memutar-mutar percakapan. Tapi salah memulainya.


“Dia juga sudah menikah. Sepertinya aku sudah cerita.” Tutur Richard melanjutkan.


“Wah, kalian kan dari dulu putus nyambung terus. Tapi dia sudah menikah?” Tanya sang ibu dan Richard pun menjawab:


“Sudah! Sudah! Aku dan dia sudah lama berakhir!” Ucap Richard.


“Ibu tidak pernah bilang padamu, tapi ayahmu dan ibu selalu berpikir kalau Nina itu bisa menjadi menantu yang baik, dia pintar dan sopan.” Ucap ibu Richard lagi masih membahas Nina.


“Ha, benar-benar deh! Berhenti membicarakan soal Nina.” Ujar Richard mulai kesal, dan kemudian Richard pun kembali berkata:


“Bu, kalau begitu. Bagaimana kalau aku menikah dengan seorang wanita yang hanya punya satu tangan karena kecelakaan?” Ujar Richard, dan sang ibu pun terkejut.


“Ah, kacau. Astaga, memangnya kau sendiri mau menikah dengan wanita seperti itu?” Ujar sang ibu bertanya.


“Bisa saja aku suka, karena itu aku ingin tahu pendapat ibu.” Jawab Richard, dan kemudian sang ibu pun berkata:


“Kalau kau punya hati yang kuat, kalau kau yakin kau bisa melewati cobaan-cobaan dunia, kau bisa menikah dengan siapa saja.” Tuturnya.


“Bu, kalau…” Ujar Richard ingin mengatakan yang sebenarnya namun dengan nada sedikit ragu.

__ADS_1


“Ah, aku tidak tahu lagi. Kalau aku menikah dengan seorang janda?” Sambung Richard ingin mengetahui respond an pendapat ibunya.


“Wanita itu juga sudah punya anak, apa aku boleh menkah dengannya.?” Lanjutnya.


“Sama saja, bukannya masalahnya adalah apakah kau bisa menjalani semua kesulitan yang akan terjadi setelah menikah?” Jawab sang ibu.


“Kenapa menanyakan itu padaku?” Sambung ibunya kembali bertanya.


“Bukan, bukan mau tahu pikiranku. Tapi aku mau tahu pikiran ibu!” Jawab Richard, dan kemudian ibunya pun berkata:


“Pokoknya semua sama. Mau tidak punya tangan, ataupun janda.” Ujar sang ibu sehingga Richard pun berkata dalam hati.


“Pintar sekali ibu menghindari pertanyaanku.”


“Jadi menurut ibu, menikahi seorang wanita yang tidak punya tangan sama saja dengan menikahi seorang janda. Dan apa ibu menganggap aku tidak akan mampu menikah dengan wanita seperti itu?” Sambungnya dalam hati, dan kemudian Richard pun kembali bertanya kepada ibunya.


“Ibu akan memberikan izin atau tidak?” Tanyanya.


“Apa perceraian itu adalah suatu kekurangan yang besar?” Sambungnya dalam hati.


Kemudian Richard pun mengeluarkan ponselnya dan lalu mengirimkan pesan singkat kepada Anna dengan ucapan:


‘Merry Christmas.’


Manajer Anna sudah punya keluarga, walaupun bukan seperti keluarga pada umumnya. Karena itu Richard ingin menghormati batas yang sudah dia tekankan, terutama di hari libur.


“Tidak, aku tidak kecewa. Aku tidak kecewa.” Ucap Richard dalam hati.


“Tapi tetap saja aku masih menunggu jawabannya dan mengambil hari libur tambahan.” Sambungnya berkata dalam hati, dan kemudian kembali berkata dalam hatinya:


“Apa natal kali ini juga harus aku lewati sendirian?”


Setelah seharian menunggu balasan pesan dari Anna, akhir tepat pada pukul 22 lewat 53 menit. Anna pun membalas pesan yang dikirim oleh Richard tadi siang.


‘Merry Christmas, dama beserta anda.’ Ucap Anna membalas pesan Richard.


Pesan dari manajer Anna datang pada malam hari itu, dan minggu itu berlalu tanpa Richard bisa bertemu manajer Anna, sehingga datanglah acara akhir tahun.


Acara akhir tahun, dunia bisa saja berbubah, tapi acara kali hanya dihadiri anggota tim saja tanpa pidato dan pernghargaan. Dan setelah hari itu sudah satu minggu kini Richard tidak bertemu dengan manajer Anna. Pedahal Richard sudah bertekad untuk membuatkan keinginan dan memberanikan diri .

__ADS_1


“Bersulang.” Ucap teman-teman Richard yang sedang asik-asiknya merayakan acara akhir tahun.


“Wah, manajer Richard banyak sekali minumnya.” Pungkas salah satu kerabat Richard.


Richard yang sudah mulai teller karena banyak minum itupun mengambil ponselnya dan lalu mencari kontak Anna dan kemudian berkata:


“Sepertinya aku kembali lagi melihat wajahnya, harusnya aku telepon saja waktu hari natal, bukan kirim pesan.” Ungkapnya dalam hati, dan kemudian iapun melihat pesan dari Anna.


‘Pak Richard, anda ke kantor? Hari ini? Atau libur?’


‘Saya di kantor. Anda juga masuk kantor? Sepertinya kemarin anda cuti.’ Balas Richard.


‘Saya masuk kantor setelah hari natal. Saya bahkan ke kantor hari ini tapi tidak tahu aka nada acara akhir tahun.’ Ujar Anna membalas pesan Richard.


‘Ini memang mendadak, tapi apa anda punya waktu mala mini?’ Ujar Anna lagi kembali mengirimkan pesan kepada Richard.


Dan seperti itulah, selalu tidak bisa diperediksi apa hubungan mereka tidak bisa menjadi stabil dan mudah diperediksi.


Malam ini Richard berencana makan dengan keponakannya yang baru lulus ujian masuk universitas.


“Ah, paman.” Tutur ponakan Richard ketika menemui ponakannya tersebut.


2 orang keponakan Richard itu adalah keluarga dari ibunya, kedua keponakan Richard tersebut anak yang baik dan Richard mengajak mereka makan. Meskipun terpaksa karena ia sudah membuat janji lebih dulu sehingga iapun tidak bisa menemui Anna mala mini.


“Wah paman!.”


“Paman!


“Iya, iya.”


Kedua keponakan Richard itupun memeluk Richard dengan erat ketika Richard baru saja datang.


“Paman, boleh nggak aku makan makanan yang mahal?” Ujar keponakannya dengan heboh.


“Makan apa? Kita akan makan apa?” Ujar Richard, dan tiba-tiba keponakannya itupun bertanya ketika melihat sebuah kantong plastic yang dipegang oleh Richard.


“Tapi paman.”


“Apa?

__ADS_1


“Kantung itu isinya apa?”


...Bersambung...


__ADS_2