Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 39


__ADS_3

...3.9 Hari Libur Telah Tiba....


Hari itu, adalah hari dimana Anna mengatakan bahwa dia menyukai Richard. Tapi Richard merasakan hal yang tidak ia nantikan. Bahkan Richard tidak tahu apa yang ia rasakan karena bukan dirinya yang mengutarakan perasaan.


Dan di saat itu mereka berdua sudah melewati batas mental dan fisik, tapi sebagai orang dewasa, mungkin saja itu bisa dibilang konyol kalau ia mengatakan bahwa mereka berdua sudah melewati batas.


Yang jelas mereka berdua sudah meyakinkan perasaan satu sama lain.


“Ya, saya mau menyewa supir panggilan.” Tutur Richard yang baru saja keluar dari aparetemen Anna dan menelpon jasa supir untuk menjemputnya.


Kini Richard sudah merasa sedikit lebih tenang dan merasa jika dirinya sudah melakukan yang terbaik. Sehingga, sekarang ia bisa mengekspresikan perasaannya dengan leluasa.


Richard akan berusaha menekan kecemasan juga perasaan takutnya, dan ia akan berusaha agar tidak kehilangan keberaniannya hari ini. Dan itulah yang sudah ia tanamkan sejak mendengar ungkapan Anna sehingga sebuah catatan yang ia tinggalkan tadi pun bertuliskan:


‘Saya akan selalu berada di sisi anda.’


Di ke esokan harinya. Ketika Richard baru saja membuka matanya dari tidurnya semalam, iapun buru-buru mengecek hp dan mendapatkan sebuah pesan masuk dari Anna.


‘Maaf, saya sudah menyuruh anda datang kemari tapi jadinya seperti ini. Harusnya saya bawa hp saya waktu ke kamar anak… maaf sudah membuat anda canggung. Anda sudah pulang dengan selamat kan?’


Kemudian Richard pun membalas pesan Anna tersebut.


‘Iya, saya pergi pelan-pelan karena sepertinya anda sulit untuk keluar lagi.’


‘Apa suara pintunya kedengaran waktu saya keluar? Anak anda pasti tidak suka kalau tahu ada yang datang…’ Balasnya dan Anna pun menanggapi:


‘Sepertinya dia tidak tahu. Dia mimpi buruk jadi dia tidak bisa tidur.’


‘Kemarin saya berniat mencuci gelas yang ada di meja makan, tapi karena takut berisik saya jadi langsunh keluar.’ Balas Richard.


‘Tidak perlu seperti itu. Setelah mendengar suara anda keluar, saya langsung menyerah dan berbaring di samping anak saya, saya takut dia bangun lagi.’ Balas Anna.


Seketika Richard pun berniat untuk melanjutkan pembicaraannya kemarin yang mungkin saja masih menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di benakknya.


“Tidak bisa seperti ini, aku harus menyelesaikan pembicaraan kami kemarin dengan jelas.” Ucap Richard dalam hati.


‘Anu… banyak yang harus kita bicarakan. Kapan kita bisa bertemu lagi?’ Tanyanya kepada Anna.


‘Saya tahu ini akan terdengar seperti suatu kebodohan…’ Balas Anna.

__ADS_1


Dan seketika Richard pun tersentak dan berkata dalam hati:


“Ah, sekarang aku tahu arti dari titik-titik itu. Aku yakin.” Ujarnya begitu yakin.


“Dia mau minta tolong.” Sambungnya.


‘Tapi minggu depan di hari libur apa anda bisa kemari dan membantu saya satu hari?’


Dan kini Richard pun mulai mengerti. Sehingga hari libur itupun telah tiba. Dan di mana pun seseorang berada, topik pembicaraan di hari libur bagi pria yang berumur 30-an, tanpa pengecualian adalah pernikahan.


Dan begitulah ketika hari itu tiba, Richard yang sedang menikmati hari libur sambil makan-makan bersama keluarga tiba-tiba saja teman-temannya pun menelepon dan membicarakan persoalan Richard yang juga tak kunjung menikah.


“Sudah umur segitu kenapa masih single?”


“Mau aku kenalkan sama seseorang?”


“Ah, zaman sekarang pria menikah di umur 40-an kan lebih baik menikmati hidup sendiri.”


“Tapi tetap saja harus menikah supaya hidup bisa stabil.”


“Katanya kau sudah dapat gaji besar dari perusahaan?”


“Hahaha.” Ujar Richard menanggapi dengan tertawa terpaksa.


“Aku bilang ke keluargaku kalau aku punya pacar dan mereka heboh sekali, ‘Cepat bawa kemari’ ‘Apa pekerjaannya?’ ‘Seperti apa orangnya?’ Sahut salah satu teman Richard.


“Wah, bukannya memang seperti itu kalau sedang berkumpul degan keluarga? Harusnya tanggung konsekuensinya kalau bicara.” Sahut Richard.


“Tapi…”


“Kenapa kita harus mengobrol lewat telepon ya? Dasar kau.” Ujar teman Richard.


“Hahaha, maaf. Kan aku bilang aku ada urusan di rumah. Hati-hati berkemah ya.” Ujar Richard.


Dan begitulah obrolan yang terjadi antara Richard dan teman-temannya yang berlangsung dari telepon. Yang mana sebenarnya dari dulu Richard sudah janji akan pergi berkemah dengan teman-temannya di hari libur. Tapi, sekarang berkemah bukanlah yang harus di nomor satu kan, karena manajer Anna memanggilnya untuk ke rumahnya.


“Kalau dilihat dari pesannya sepertinya tidak cocok kalau mencoba membuat suasana yang santai sambil minum wine. Tapi aku tetap senang. Karena aku bisa bertemu manajer Anna.” Ungkap Richard.


“Mau bersih-bersih rumah? Atau pindahan?” Sambungnya menerka-nerka.

__ADS_1


Setelah Richard mendengar manajer Anna hari itu, ia tidak yakin apakah itu pengakuan cinta atau bukan, banyak perasaan yang begitu rumit yang sering muncul dalam hati Richard.


Ia senang dan bahagia, tapi kalau memikirkan kenyataan atau merasa terbebani dan ini membuatnya cukup rumit, dan setiap tahu akan bertemu degan manajer Anna seperti ini, ia senang dan hatinya berdebar.


“Aku pakai parfume… tidak apa-apa kan?” Tanya Richard pada diri sendiri yang sedang mengendarai mobil menuju apartemen Anna.


Dan sampai saat ini Richard merasa jika dirinya hanya mementingkan perasaannya sendiri, ia baru sadar bahwa ia tidak pernah berpikir seberapa sukanya manajer Anna terhadapnya.


Namun apakah itu benar adanya? Apakah manajer Anna benar-benar suka padanya? Atau hanya merasa kasihan padanya? Secara diam-diam Richard memikirkan hal itu.


Sebenarnya ia tidak mengerti kenapa manajer Anna bisa suka padanya. Tapi karena mereka sudah memastikan perasaan masing-masing, hari ini Richard pun berpikir jika ia harus mengajak manajer Anna untuk berpacaran dengannya.


Dan, tibalah Richard di rumah manajer Anna.


Setibanya di rumah manajer Anna, Richard pun kaget melihat seisi rumah manajer Anna begitu berantakan.


“Ah…”


“Manajer? Ini…” Tuturnya masih bingung, dan Anna pun kemudian berkata:


“Jadi… awalnya tidak sebanyak ini, tapi urusanya jadi semakin besar.” Ujar Anna sambil berekspresi tidak enakan dihadapan Richard.


“Saya hanya ingin merombak ruangan… tapi saya jadi merombak satu rumah.” Sambungnya.


“Anak anda?” Tanya Richard.


“Dia sedang pergi bermain dengan keluarga saya.” Jawab Anna, dan Richard pun berjalan perlahan untuk membantu Anna membereskan rumahnya.


“Hati-hati pak Richard.” Tegur Anna.


Meski anaknya tidak ada, tapi tetap saja ini bukan suasana yang bisa dibilang romantic.


“Apa yang bisa saya bantu?” Tanya Richard.


Dan kemudian Anna pun membawanya ke rak yang dipenuhi buku lalu berkata:


“Saya harus mengeluarkan semua barang yang ada di rak itu dan menaruhnya di bawah…”


“Saya mau buang semua barang yang ditempel buku yang ada warna birunya, yang warna biru masuk ke kardus, dan sisanya bisa dipindahkan ke rak sebelahnya.” Ujar Anna menjelaskan.

__ADS_1


Beberapa buku di dalal rak itu memanglagh sudah ditandai Anna dengan warna biru sehingga Richard pun dengan mudah mengikuti apa yang dikatakan oleh manajer Anna tadi.


...Bersambung....


__ADS_2