Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 20


__ADS_3

...3.0 Ingin Menghibur Anna...


“Beberapa hari lalu suami saya mengirimkan saya pesan dan bilang, ‘ayo kita bicara hari jumat malam’ dan aku menunggu teleponnya.” Ucap Anna melanjutkan ceritanya.


“Apa anda berbicara dengannya semalaman?” Tanya Richard penasaran.


“Tidak, dia tidak telepon jadi saya menunggunya semalaman.” Jawab Anna, dan kemudian melanjutkan:


“Dan akhirnya dia telepon di dini hari, karena itu saya tidak sempat tidur.” Sambungnya.


“Kami sudah cukup lama berpisah, dan saya merasa sudah cukup siap untuk bercerai, tapi setelah bicara dengan suami saya dan membicarakan soal oengacara. Rasanya hidup saya tiba-tiba hancur. Saya tidak tahu harus bagaimana.” Terang Anna menjelaskan.


“Apa yang ahrus aku katakana di saat seperti ini? Anda pasti lelah. Apa itu bisa menghiburnya?” Tutur Richard dalam hati, bingung harus berkata apa setelah mendengar cerita Anna barusan.


“Maaf karena saya menceritakan hal seperti ini pada anda.” Ucap Anna.


“Tidak, terima kasih sudah menceritakannya kepada saya.” Jawab Richard tidak mempermasalahkan.


“Sa-saya tidak bohong.” Ujar Anna lagi dan lalu melanjutkan:


“Perasaan saya terhadap suami saya sudah hilang sejak dulu dan yang tersisa adalah rasa tanggung jawab.” Ungkapnya melanjutkan.


Seketika Anna pun tak bisa membendung air matanya sehingga Anna pun berbicara sambil air matanya menetes membasahi pipinya.


“Banyak yang bilang, kalau kehidupan suami istri akan seperti ini. Tapi saya merasa ini tidak benar.”


“Suami saya sepertinya sudah membuang saya, saya berpikir kenapa saya harus berusaha untuk seseorang yang tidak yang cinta lagi.” Ujar Anna sambil menangis.


Tentu saja Richard pun merasa kesal akan hal itu. Richard sedih melihat Anna yang tersakiti dan marah dengan suami Anna yang telah memperlakukan Anna seperti itu.


“Dia sudah menunggu telepon darinya semalaman, tapi kata-kata yang diucapkan adalah perceraian..?” Tutur Richard dalam hati.


“Sekarang jam 2 siang. Jelas dia belum sarapan atau makan siang, dia hanya mengisi perutnya dengan kopi.” Sambung Richard berkata dalam hati.


“Manajer, anda tidak lapar? Mau makan sesuatu?” Tanya Richard.


“Saya tidak lapar, anda ingin pergi ke suatu tempat?” Jawab Anna dan kembali bertanya.


Richard yang bingung harus berkata apa lagi itupun terus memaksa pikirannya untuk berpikir.


“Ayo cepat pikir-pikir apa saja..?” Ujar Richard dalam hati.

__ADS_1


“Di sekitar sini ada apa ya?”


“Betul! Dia perlu makan sesuatu yang hangat!” Sambung Richard.


“Ide yang bagus!”


Dan kemudian Richard pun mengajak Anna untuk pergi dengan berkata:


“Kita jalan dulu saja, di sekitar sini ada restoran jepan yang menjual udon lezat.” Pungkas Richard.


Tiba-tiba pelayan pun datang membawa pesanan Richard tadi. Sehingga Richard pun tercengang karena ternyata hari ini adalah hari di mana dia pesan sesuatu tapi tidak bisa memakan dan meminumnya.


Setelah itu Richard pun membawa Anna ke restoran yang dia maksud tadi, di sela-sela perjalanan Richard pun berkata:


“Di arah sana.” Ujar Richard sambil menunjuk ke arah yang ia maksudkan.


Udara kala itu sedikit dingin, tapi tempatnya tidak terlalu jauh jadi mereka bisa berjalan kaki ke sana.


“Semoga saja dia akan semangat lagi kalau makan sup hangat.” Ucap Richard dalam hati.


Namun sayangnya, ketika sampai di restoran itu. Ternyata restoran tersebut sedang tutup sehingga Richard pun berkata:


“Restoran apa yang tutup di hari sabtu..?!” Ucapnya dalam hati lalu berkata kepada Anna dengan nada tidak enakan.


“Pak Richard, saya tidak harus makan udon. Saya tidak lapar.” Ucap Anna.


“Tapi anda pasti lapar, apa mau makan yang lain?” Tanya Richard lagi.


“Tidak, saya tidak selapar itu sampai saya mau mencari restoran yang lain..!” Jawab Anna namun karena memang belum pernah makan sehingga perutnya pun berbunyi, dan Anna pun mencoba menutupi suara perutnya itu dengan berkata:


“Anu, kalau begitu. Hmm.” Tutur Anna, berusaha menyembunyikan laparnya dihadapan Richard.


“Nonton film di bioskop, atau teater! Bagaimana?” Ujar Richard masih tetap berusaha, dan untung saja usahanya kali ini membuahkan hasil karena Anna mengikuti kamauannya tersebut.


Wah, bisa-bisanya yang terpikirkan di kepalaku adalah bioskop dan teater.” Ungkap Richard dalam hati ketika mereka sudah berada di dalam taksi.


“Saya tidak bisa sampai malam, saya harus menjemput anak saya.” Ujar Anna, dan seketika ide pun terbesit di kepala Richard.


“Ah, anaknya.” Ucapnya dalam hati.


“Kalau begitu tetater lebih baik.” Ujar Richard lalu melanjutkan:

__ADS_1


“Pasti hari ini ada pertunjukan, kalau begitu kita segera ke sana.” Sambungnya.


Sejujurnya Richard sendiri tidak begitu mau menonton tetater, tapi dia mengatakan apa saja yang ada di pikirannya saat ini.


Richard tidak percaya diri bisa menghibur manajer Anna dengan duduk di sebelahnya dan mengajaknya bicara.


“Hmm, dari tadi dia melihat ke arah luar jendela, di hari seperti ini aku tidak apa-apa kalau dia bersender di bahuku.” Ungkap Richard dalam hati.


Tetapi usaha Richard ini tidaklah berjalan dengan lancer karena hari sabtu di akhir tahun, kota selalu saja macet. Dengan susah payah dan beberapa lama terjebak macet, merekapun sampai di lokasi pertunjukan tetater. Mereka masih memiliki waktu selama kurang dari 30 menit sampai pertunjukannya dimulai.


“Bagaimana kalau kita masuk dan makan dulu?” Ujar Richard menawarkan.


“Iya boleh.” Jawab Anna singkat.


“Waktunya tidak cukup kalau mau makan makanan berat, apa ada yang ingin anda makan?” Tanya Richard.


Tiba-tiba Richard pun bertingkah lucu ketika melihat ke arah pertunjukkan dan berkata:


W-wah, mereka masih melakukan itu?”


“Wah! Apa anda pernah dirayu seseorang di taman marronnier? Itu kan sering dilakukan oleh orang-orang 10 tahun yang lalu. Wah 10 tahun lalu itu artinya waktu ada word cup ya?” Ucap Richard tidak sadar dengan apa yang dia katakana, namun karena tingkah Richard itupun membuat Anna mulai tersenyum.


Richard membicarakan segala hal karena khawatir suasana akan menjadi semakin canggung dan mood nya memburuk, biasanya Richard pasti membuat Anna tertawa dengan cerita masa lalunya.


“Ah, bagaimana kalau kita ke arah sini? Mari kita makan sesuatu.” Ujar Richard menawarakan.


Apa yang ada dpikiran Richard saat ini adalah hari ini ia harus memimpin, ia tidak bisa mengharapkan jawaban dari manajer Anna.


“Dia pasti butuh tidur di tempat yang hangat. Teater? Apa ini pilihan yang tepat?” Ucap Richard dalam hati ragu-ragu, dan kemudian Richard pun menegur Anna:


“Manajer Anna.” Ucap Richard.


“Kita tidak usah nonton teater.” Sambungnya, dan Anna pun terlihat bingung.


“Mari kita lakukan hal yang lain.” Ujar Richard lagi.


Kemudian Richard pun membawa Anna ke sebuah tempat, setelah sampai di temapt itu Richard pun berbicara kepada pelayan tempat tersebut.


“Sekarang yang tersisa adalah meja untuk pasangan.” Ucap si pelayan, dan Richard pun terlihat senang.


“Mari ikut saya.” Ujar si pelayan membawa mereka ke tempat yang dimaksud tadi.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2