
...3.2 Kulit Lembut Anna...
“Ingatan tentang manajer Je di tim TF. Orang yang pandai dan bisa memimpin.”
“Apa aku merasa inferior? Karena itu aku tidak berani meminta tim strategi untuk menilai proyek kami dari hasilnya.”
“Mungkin itu sebabnya aku tidak pernah bisa sampai akhir dan hanya berhenti di tengah-tengah” Sambung Richard dengan nada sedih.
Karena Richard merasa takut kalah atau gagal , hati yang pemalu dan perasaan ragu dan semua kesempatan yang ia lewatkan selama ini seakan-akan tidak pernah berhasil ia gapai.
“Sepertinya anda stress bukan hanya karena manajer Je.” Tutur Anna mencoba memberi pemahaman kepada Richard.
“Soalnya pak Richard yang saya kenal bukanlah pernah seperti ini.” Jawab Richard bernada putus asa.
“Saya beruntung bisa sampai sejauh ini, tapi kalau dilihat dari prosesnya, saya tidak pernah bisa bertahan di titik yang penting.” Sambungnya.
Richard yang benar-benar sudah putus asa itupun menyalahkan dirinya sendiri dan sepertinya sudah tidak bisa berdamai dengan keadaan sehingga iapun mengkapkan semua kesedihannya kepada manajer Anna dengan lepas.
“Kemauan saya lemah, atau saya tidak punya kemampuan? Saya tidak mau mengakuinya, tapi setiap saya menyadarinya, saya kesal sendiri dan akhirnya kabur.” Ungkapnya penuh emosi.
“Lalu saya selalu membuat alasan dan menyalahkan orang lain.” Sambungnya.
“Semua orang memang seperti itu.” Tanggap Anna.
“Tidak, saya bukan orang yang baik, dan saya berhati kecil.” Balas Richard.
“Pak Richard bukan orang yang buruk seperti itu.” Ucap Anna, namun tiba-tiba ponsel Anna pun berbunyi sehingga perbincangan mereka pun harus terhenti.
“:Ah, bibu. Aku sebentar lagi pulang.” Ucap Anna ketika mengangkat panggilan masuk dari bibinya.
“Tidak, saya tadi bertemu teman.. iya. Aku akan segera kembali.”
“Bibi, maaf ya.”
Setelah itu Anna pun berdiri lalu menarik tangan Richard sambil berkata:
“Wah, sekarang manusia ini harus diapakan ya..? Tidak bisa diajak ke tempat lain juga.” Ujar Anna, dan kemudian kembali berkata:
“Ikut saya dulu saja.” Sambungnya sambil berjalan ke depan rumahnya, sehingga Richard pun berkata dalam hati.
__ADS_1
“Eh, mau masuk ke rumahnya? Mau memberikan ku jus lagi? Mau membuatkan aku sup ayanm ginseng?” Bisiknya dalam hati.
“Di rumah kana da bibinya?” Sambungnya dalam hati.
Dan kemudian pada saat berada di sebuah tangga, Anna pun berhenti dan situasinya sama persis ketika waktu dulu Anna mencium Richard di sebuah tangga sehingga Richard pun mulai menebak-nebak jika kejadian pada waktu itu akan terulang lagi.
“Eh, anu. Apa tidak apa-apa saya di sini?” Tanya Richard sedikit ragu.
“Tetangga yang ada di depan rumah kami pergi liburan beberapa hari yang lalu, dan yang ada di atas sudah pindah rumah dan interiornya sedang diperbaiki.” Ujar Anna.
“Yang satu lagi saya kurang kenal, sepertinya pasangan tua. Pokoknya tidak apa-apa.” Sambung Anna sambil menaiki satu tangga lebih tingga dari Richard.
“Kadang-kadang saya duduk di sini dan mendengarkan suara dari luar.” Sambung Anna kembali, dan kemudian Anna pun memegang kedua tangan Richard sehingga mereka pun kini saling berhadapan.
“Anda orang yang keren.” Ucap Anna.
“Tapi sepertinya ada perasaan yang gelap di sudut hati anda.”
“Dan anda seperti ini bukan karena pemalu atau penakut, itu karena anda memiliki hati yang hangat.” Sambungnya, dan membuat Richard pun tersntuh akan perkataan Anna tersebut.
“Anda memiliki hati yang lembut.” Ucap Anna lagi.
“Sepertinya yang melihat saya seperti ini hanya manajer Anna.”Sambungnya.
“Mana mungkin, semua orang pasti menganggap anda orang yang keren.” Jawab Anna meyakinkan Richard dan kemudian Anna pun mendekatkan wajahnya ke wajah Richard, lalu mendehem:
“Hmm…”
“Sepertinya anda tidak bisa dihibur dengan kata-kata. Betul kan?” Tanya Anna, dan belum sempat Richard menjawab, Anna pun seketika mencemplungkan bibir manisnya ke bibir Richard, sehingga adegan ciuman pun terjadi antara Richard dan Anna.
Richard dengan pasrahnya menerima ciuman Anna tersebut sembari berkata dalam hati:
“Ini perasaan menghibur atau belas kasihan? Atau tidak?” Ujarnya menimbulkan pertanyaan dibenakknya.
“Perasaan cinta?”
Tentunya hal itu membuat Richard pun semakin deg-deg-an, ia tidak menyangka jika hal itu akan terjadi untuk yang kedua kalinya.
“Jangan khawatir, di tempat ini kau hanya perlu memfokuskan diri padaku, pikirkan kita saja di sini.” Ucap Anna dan lalu melanjutkan ciumannya.
__ADS_1
Richard pun dengan lempengnya menerima ciuman Anna tersebut sembari meyakinkan dirinya jika ia tidak akan memikirkan hal lain selain menikmati ciuman dari Anna.
Dan setelah beberapa detik berciuman, Anna pun melepaskan bibirnya dan lalu berkata:
“Hmm, ekspresu anda masih tetap sama.” Ucapnya.
“Apa?” Ujar Richard bingung.
“Saya merasa jauh lebih baik.’ Sambungnya, dan kemudian iapun berkata dalam hati:
“Apa yang lebih baik? Kata-kata ku aneh banget.” Ucapnya merasa malu.
“Kalau sudah berumur lebih dari 30 tahun, katanya orang jadi tidak mau mendengar perkataan orang lain.” Ucap Anna menjelaskan perkataannya tadi.
“Walaupun saya bilang anda orang yang keren, sepertinya kata-kata itu melewati kuping anda begitu saja.” Sambung Anna.
“Saya tidak bisa mengakui kalau saya orang baik, tapi terima kasih sudah mengaggap saya seperti itu.” Balas Richard.
“Bukan, bukan begitu.” Ujar Anna.
Sebenarnya Richard tidak tahu apa yang Anna katakana, tapi ia ingin mengatakan bahawa ciuman dan pelukan Anna sudah menghiburnya. Tapu di saat itu tiba-tiba Richard pun tanpa sadar menarik Anna dan memeluknya dengan kuat, namun sayangnya hanya sebentar sehingga iapun menyesali karena tidak lebih lama lagi ketika memeluk Anna.
“Ah, sayang sekalu, apa aku bilang saja kalau aku ingin memeluknya lebih lama lagi?” Ucap Richard dalam hati.
Namu hal yang tidak terduga pun terjadi lagi, Richard dengan spontan kembali memeluk Anna bahkan tangannya sebelah memasuki baju Anna. Kulit mulus yang terasa oleh tangan Richard, bulu halus dan lembut, sambik bergerak pelan-pelan Richard memejamkan mata untuk merasakan kepekaan ujung jarinya, dan ujung jarinya menyentuh kain halus
“Sekarang aku tidak bisa dengar apa-apa.” Ucap Richard, dan kemudian Anna pun melepaskan pelukannya lalu berkata:
“Lepas saja.” Ucapnya.
Rasanya seperti mimpi bagi Richard, ia sangat senang sehingga memfokuskan diri agar tidak melewati saat itu.
Dan, sesaat iapun mengira jika dirinya salah dengar ketika Anna mengatakan ‘lepas saja’ Ya, Anna menyuruh Richard melepaskan kancing BH nya, sehingga membuat Richard terdiam sejenak dan lalu Anna pun kembali berkata:
“Anda tahu caranya kan?” Tanya Anna.
“Anda bisa kan? Tanpa harus saya bantu..” Sambung Anna, namun Richard masih saja terdiam sembari berusaha membuka kancing BH Anna.
“Saya harap ini benar-benar bisa menghibur anda.” Ucap Anna dengan nada lembut.
__ADS_1
...Bersambung...