Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 26


__ADS_3

...3.6 Pikiran Nakal Richard...


Suaminya hanya pernah sekali pulang menemuinya untuk memperbarui visinya.


“Keluarga suami saya sebenarnya baik.” Tutur Anna, dan kemudian melanjutkan:


“Mereka sangat menyukai anak saya, apartemen ini juga atas nama ibu mertua saya. Dia mengizinkan kami tinggal di sini setelah kami kembali dari amerika. Sepertinya dia merasa tidak enak karena perbuatan anaknya.” Sambungnya.


Richard pun kemudian meneguk wine nya dan tidak bisa mengomentari tentang suami Anna dan iapun hanya bisa mendengarkan cerita manajer Anna sambil mengisi kembali gelasnya yang sudah kosong. Selama minum wine, Richard memperhatikan manajer Anna yang sudah menghabiskan wine 4 gelas.


Seketika pada saat Anna mengikat rambutnya, Richard pun tercengang dan memperhatikan leher Anna yang sangat mulus dan tanpa bekas luka sedikit pun sehingga iapun terus memperhatikan leher Anna itu sambil menelan liur.


“Aku baru minum 2 gelas, tapi pikiranku mulai kabur lagi.” Ucap Richard dalam hati.


Richard pun mulai keringatan dan jantungnya berdetak semakin cepat bak genderan mau perang, sehingga Anna yang melihat ia mulai berkeringat pun menegur:


“Anda keringatan, saya pikir anda kuat minum alcohol.” Tegur Anna dan kemudian Anna pun memberikan pengelap wajah kepada Richard.


“Silahkan pakai ini.” Ujar Anna menyodorkan pengelap wajah tersebut.


Dan, Anna pun berdiri lalu berkata:


“Kalau kepanasan, apa jendelanya mau dibuka?” Ujar Anna, dan Richard pun menjawab:


“Boleh, sedikit.” Jawabnya.


Anna yang sedang berada di depan jendela itupun kembali berkata:


“Atau anda mau ganti baju dengan yang lebih nyaman?” Tanya Anna, sehingga membuat pikiran Richard pun mulai kemana-mana.


“Apa?” Kejut Richard mendengar perkataan Anna barusan.


“Ganti baju?” Sambung Richard dalam hati semakin deg-deg-an.


Sunggu Richard tidak tahu harus bagaimana ketika Anna berkata seperti itu dan tidak tahu harus menanggapi itu semua.


“Saya masih punya baju suami saya, bisa flu kalau keringatan.” Lanjut Anna.


Kegembiraan dan pengekangan. Harapan dan pengendalian diri, dan emosi yang naik turun kini pun dirasakan oleh Richard. Sehingga, hati kecilnya pun terus berbisik dibenaknya:


“Manajer Anna, jangan seperti ini.”


“Ah bukan, teruslah seperti ini.” Bisiknya dalam hati dan kemudian iapun mencoba menyadarkan dirinya agar tidak berpikir yang tidak-tidak.

__ADS_1


“Tunggu, apa yang aku pikirkan?!”


Setelah itu Anna pun memberikan ia baju dan berkata:


“Suami saya sangat mencintai unversitasnya, dia pakai baju ini ketika di sini. Tapi dia pergi tanpa membawanya lagi.” Ucap Anna sambil memberikan baju itu kepada Richard, dan kemudian melanjutkan ucapannya:


“Saya berniat menjadikan baju ini sebagai lap kalau sudah bercerai.”


“Heheh”


“Ini, silahkan ganti baju di dalam kamar.” Pungkas Anna, dan Richard pun mengambil baju itu tanpa tagu.


“Apa? Di kamar?” Ucap Richard dalam hati, dan kemudian Richard pun mesuk ke kamar Anna dan setelah berada di dalam kamar Anna tersebut, iapun berkata:


“Ini kamar tidurnya?”


“Apa dia sedang memberikan sinyal tapi aku tidak sadar?”


“Betul kan?”


“Mana ada wanita yang membiarkan seorang pria ganti baju di kamarnya?” Ungkap Richard dalam hati masih berpikir negatif.


“Manajer Anna bukan orang yang suka memancing situasi, atpi tentu saja dia tidak mungkin membicarakan soal tidur bersama secara lantang.” Sambungnya, dan kemudian masih melanjutkan:


“Apa sekarang aku yang maju deluan? Mungkin itu yang dia inginkan.”


“Kalau tidak aku minta, aku bisa minta maaf padanya.” Lanjutnya terus berpikir negatif sambil memakai baju yang diberikan manajer Anna tadi.


Dan, seketika Richard pun terkejut ketika menyadari jika ****** yang ia bawa ke rumah Anna tidak ia bawa masuk ke kamar sehingga iapun berkata:


“Ah, ******! Bodohnya aku tinggalkan di saku jaket.” Pungkasnya mulai panik.


“Bagaimana kalau aku keluar dan mengambilnya di saku jaketku, dan pura-pura cari hp.” Sambungnya mulai memikirkan cara agar tidak dicurigai oleh manajer Anna.


“Setelah itu aku memintanya untuk menunjukkan kamarnya lagi?”


“Apa aku buka sekarang supaya nanti mudah diambil? Ah, aku tidak suka seperti ini. Tapi…”


“Ini, green light yang sedang berkedip! Aku harus cepat menyeberangi jalan ini.” Ucap Richard dalam hati dan kemudian iapun keluar kamar Anna dan Anna yang sedang asik-asiknya menikmati wine di meja makan tadi itupun tidak menyadari Richard sudah keluar dari kamar, sehingga Richard yang berdiri tepat di belakang Anna itupun berkata dalam hatinya:


“Ah, manajer Anna.” Ungkapnya sambil berusaha memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu namun mulutnya susah untuk mengucap.


Richard tahu jika hal yang ingin ia lakukan itu sembrono dan sangat klise, dan mungkin itu tidak pantas ia lakukan terhadap Anna. Tapi baginya Anna adalah wanita yang sangat seksi.

__ADS_1


Tiba-tiba pada saat Richard ingin menyentuh Anna dari belakang, sontak iapun terkejut dan kalangkabut ketika ponsel Anna berbunyi.


“Iya ini ibu.” Ucap Anna ketika mengangkat panggilan masuk di telepinnya sambil menoleh kebelakang karena mendengar suara Richard yang kaget tadi.


“Hari ini apa saja yang kau lakukan dengan bibi?” Tanya Anna di panggilan masuk itu, dan kemudian berkata kepada Richard:


“Pak Richard, anda sedang apa?” Tanyanya kepada Richard, dan kemudian Anna pun kembali berkata di teleponnya:


“Ibu baru saja makan malam.”


“Apa? Oh ya?”


Anna yang sambil melenelopn itupun sesekali harus mengajak Richard untuk berbicara karena merasa tidak enak kepada Richard.


“Maaf, saya harus telepon sebentar.” Sambung Anna berkata kepada Richard, dan kemudian kembali berkata di panggilan masuk teleponnya.


“Wah, anak pintar.” Ucapnya sambil tersenyum, dan lalu Richard pun berkata:


“Tidak apa-apa, santai saja.” Ujarnya tidak mempermasalahkan.


“Wah, wah. Masa?” Pungkas Anna kembali menyahuti anaknya di dalam telepon.


“Iya, ibu juga sudah mau tidur.”


“Sudah sikat gigi?”


Richard pun hanya bisa berdiam dan berdiri seperti patung dibelakang Anna sambil menggaruk-garuk kepalanya menyaksikan Anna yang sedang asik mengobrol dengan anaknya di dalam telepon.


“Ah, dia adalah seorang ibu.” Pungkas Richard dalam hati.


“Astaga, bagus-bagus.” Ucap Anna masih asik mengoobrol dengan anaknya.


“Ibu akan jemput besok.”


“Iya, iya. Setelah tidur malam ini.”


“Iya.”


Kemudian Rcihard pun melangkahkan kakinya untuk melihat-lihat seisi rumah Anna dan memperhatikan apa-apa saja yang ada di dalam ruangan rumah Anna tersebut, dan lalu iapun berkata dalam hati:


“Ah, tidak bisa di rumah ini, rumah yang penuh suasana kekeluargaan walau tidak ada seorang ayah.” Ungkapnya dalam hati.


“Tunggu, masalahnya mungkin bukan rumah ini.”

__ADS_1


“Apa aku bisa menikah dengannya dan menerima keluarga ini?” Sambungnya sambil mengingat perkataan ibunya pada waktu itu.


...Bersambung...


__ADS_2