
...3.4 Makan Siang Yang Penuh Dramatis....
“Ditambah lagi suaminya adalah seniorku.” Sambungnya.
Richard pun semakin penasaran ketika seniornya itu menynggung tentang mantan suami Anna.
“Suaminya pandai bahasa inggris, pintar dan popule.” Terangnya melanjutkan.
“Ah jadi dia menikah dengan senior jurusannya.” Ucap Richard bertanya.
“Sepertinya mereka tidak saling kenal waktu di kampus. Dan mereka baru bertemu setelah lulus.” Jawab senior Richard.
“Ah…” Richard.
Dan kemudian senior Richard itupun kembali menceritakan tentang mantan suami Anna dengan cara memujinya dihadapan Richard.
“Dia tampan, tinggi. Sifatnya sangat kebapakan.”
“Setelah lulus dia bekerja di firma konsultan besar. Padahal itu sangat sulit dilakukan bagi sarjana baru, tapi dia bisa berhasil.” Terangnya.
“Anda tahu pernikahannya?” Tanya Richard semakin penasaran.
“Jujur aku nggak banyak tahu soal itu.” Jawab senior Richard.
“Saat itu kami sibuk dan kami bertemu lagi setelah dia menikah. Waktu aku lihat, ternyata suaminya adalah seniorku.” Sambungnya.
“Dia cantik dan popular, jadi banyak sekali yang tertarik dengannya. Sebenarnya aku sedikit penasaran kenapa mereka hidup berpisah. Tapi aku yakin pasti ada alasannya.” Sambunya lagi.
Mendengar perkataan senironya itu, Richard pun mengambil kesimpulan:
“Sepertinya dia tidak tahu kalau mereka sudah cerai. Apanya yang sahabat dekat?” Ungkap Richard dalam hati.
Setelah itu senior Richard pun kembali berkata kepada Richard:
“Hei, anggap saja kau nggak dengar apa yang aku katakan.”
“Sepertinya aku terlalu banyak menceritakan urusan keluarga orang.” Ucap senior Richard.
“Huh, dia seharusnya tidak menderita seperti itu.” Sambungnya, dan kemudian senior Richard itupun pergi meninggalkan Richard sendiri.
Beberapa saat kemudian, Richard pun mengambil ponsel dan kemudian mengirimi manajer Anna sebuah pesan yang bertuliskan:
‘Manajer Anna, apa anda mau makan siang bersama.’
Tak lama beberapa saat kemudian balasan pesan Anna pun masuk:
‘Boleh, di kantin kantor?’ Tanya Anna dalam balasan pesannya.
‘Tidak apa-apa sih. Tapi ada yang ingin saya bicarakan.’ Richard.
__ADS_1
‘Mau tidak kalau makan di luar?’ Richard.
‘Boleh. Tapi tidak bisa jauh-jauh. Bagaimana kalau kita makan sandwich dan minum kopi?’ Anna.
Sebtulnya Richard ingin menyempatkan waktu agar bisa bicara lama dengan Anna. Tapi sepertinya akan sulit untuk mengobrol lama dengan Anna, dan iapun harus segera mendengar penjelasan Anna dan mematikan hubungan mereka.
Richard yang sedang berpikir tentang hubungan yang belum jelas itupun tiba-tiba dikagetkan dengan suara Anna yang memanggil namanya:
“Pak Richard.”
Richard pun menoleh.
“Anda sudah menunggu lama?” Tanya Anna.
“Saya langsung kemari setelah olahraga.” Sambung Anna.
“Tidak, saya juga baru datang.” Jawab Richard, dan Anna pun melemparkan senyuman manisnya kepada Richard.
Sembari menunggu sandwich dan kopi yang mereka pesan. Manajer Anna pun bercerita panjang seperti orang yang sedang menceritakan soal perjalanan liburannya ke eropa. Dan Richard mengajaknya bertemu di tempat yang sedikit jauh dari kantor karena takut jika Anna akan menangis, tapi untungnya Anna bisa bercerita dengan tenang.
Begitu banyak lika-liku kesedihan yang telah dilewati oleh Anna. Baik itu hubungan dengan mertua, ibunya yang menahannya, kerumitan dalam hak asuh dan harta, pikiran ragu-ragu karena anaknya, dan masih banyak lagi.
Bahkan ia pergi ke pengadilan keluarga bersama suaminya lalu bertemu pengacara, dan akhirnya mengajukan cerai setelah berunding selama 3 bulan. Mungkin saat itu adalah musim panas yang sangat menyiksa bagi manajer Anna.
Dan Richard merasa malu setelah mendengar ceritanya.
“Hidup manajer Anna sulit seperti ini, tapi aku hanya bisa mengeluh soal hidupku yang tidak ada apa-apanya ini.” Ucap Richard dalam hati kesal dengan dirinya sendiri.
“Saya sangat sulit memutuskannya, dan setiap hari penuh dengan penderitaan, tapi suami saya sangat dingin dan tidak simpati sama sekali.” Ucap Anna dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih.
“Sebenarnya apa yang dia harapkan setelah menikah dengan saya?” Sambungnya.
Suasana pun seketika menjadi canggung dan Richard pun hanya bisa berdiam mendengar ungkapan Anna yang begitu dalam dan penuh kesedihan.
“Apa saya yang membuat dia seperti itu? Apa pilihan saya salah? Saya bingung.” Lanjut Anna.
“Dan anak saya…”
“Apa saya bisa membesarkannya seorang diri tanpa ada kasih sayang ayahnya.” Tutur Anna lagi.
Meskipun begitu Anna pun tetap berusaha tegar dan kuat dan hal itupun ia perlihatkan kepada Richard dengan berkata:
“Pokoknya jadi begini…”
“Sekarang sudah tidak ada nama suami saya di akta keluarga dan hanya ada catatan cerai saja.” Ucap Anna sambil memperlihatkan senyum keterpaksaan dihadapan Richard.
“Rasanya sangat aneh.” Sambungnya.
“Jadi anda sudah benar-benar berpisah dengan suami anda?” Tanya Richard.
__ADS_1
“Secara hukum dia masih harus menanggung tunjangan anak, jadi kami masih akan saling bicara.” Jawab Anna.
“Kami juga berpisah bukan karena bertengkar.” Sambungnya.
“Ah, kenapa aku masih menyanyakan soal suaminya?” Tutur Richard dalam hati.
Dan kemudian Anna pun kembali membicarakan tentang suaminya kepada Richard.
“Jika dipikir-pikir, suami saya tidak berubah tapi saya sendiri yang memiliki harapan yang berbeda. Dari awal dia orang yang acuh dan menginginkan hubungan yang santai.” Ujar Anna.
“Mungkin saya yang tidak mengenali suami saya.” Sambungnya.
“Apa anda menyalahkan diri sendiri?” Ucap Richard.
“Tidak.” Jawab Anna tidak membenarkan.
“Sebenarnya saya pernah berpikir kalau ini semua kesalahan saya.”
“Saya merasa lebih baik setelah konseling, tapi ternyata suami saya memiliki wanita lain di amerika.” Ungkap Anna.
Tentu saja Richard pun kaget mendengar hal itu yang dimana Anna baru menceritakan persoalan ini padanya.
“Setelah tahu itu, dari yang rasanya tertekan, saya langsung merasa bebas.” Lanjut Anna.
Richard pun seketika kesal dan marah sehingga iapun berkata:
“Wah yang benar? Dasar manusia jahat!!” Ujarnya sambil mengepalkan tangan lalu menghempasnya secara pelan di atas meja.
“Se…” Sambung Richard yang baru beberapa kata memberhentikan perkataannya.
“Aku tidak boleh bilang selingkuh.” Sambungnya mencoba menahan ucapannya.
“Hubungan kami juga bisa dibilang sangat luas. Kalau ada yang tahu, orang itu pasti menyebut hubungan kami sebagai perselingkuhan.” Ucap Anna melanjutkan.
“Kalau lihat akun sosmednya di zaman sekarang, dia bisa disebut keren dan gaul.”
“Dan katanya untuk aktif di instar perlu usaha yang cukup besar.” Sambungnya.
“Dia pergi ke meseum dan foto keren di depan karya yang ada di sana, dia juga rajin mengejar jazzda symphony di new york…”
“pakaiannya rapi, dia juga suka main golf, fotonya bermacam-macam. Tapi, dari sebanyak foto itu, tidak ada satu pun foto saya atau anak saya.”
Anna pun terus menceritakan tentang keluh kesahnya terhadap mantan suaminya itu kepada Richard, dan Richard pun masih tetap serius mendengarkan ungkapan Anna tersebut.
“Waktu kelulusannya dia juga pos banyak foto…”
“Tapi saat itu kehamilan saya sudah di tahap akhir.”
“Tidak ada satu pun foto saya, hanya ada foto dia, teman-temannya dan kampusnya.”
__ADS_1
...Bersambung...