
...4.0 Gusar dan Marah...
“Kau tahu manajer Je yang menangani partnership eropa? Apa kalian pernah bekerja bersama?” Tanya kepala departemen.
“Iya ta-tahu, dia dulu anggota tim TF. Tapi, proyek kami semirip apa?” Jawab Richard dan kembali bertanya, dan kemudian wakil manajer utama pun berkata:
“Manajer Richard, dalam kompetisi ini, awalnya ada 6 tim. Di tengah-tengah ada 2 proyek yang dihentikan karena muncul masalah lain.” Ucap wakil manajer utama.
“Iya, saya pernah dengar.” Balas Richard.
“Sekarang ada 4 proyek yang sudah ada dalam tahap akhir, tapi karena eksekutif ingin kami mengambil 2 proyek saja, dan dua di antara empat proyek itu terlalu mirip.” Ujar wakil menajer utama.
“Dan, kami harus memilih salah satunya.” Sambungnya, dan setelah itu wakil manajer utama pun kembali berkata.
“Kedua proyek itu adalah proyek mu dan proyek manajer Je.” Ungkapnya.
Tentunya Richard pun tercegang dan kaget ketika mendengar hal itu langsung dari mulut wakil manajer utama sehingga iapun berkata dalam hati:
“Apa? Terlalu mirip?”
“Kenapa? Kenapa bisa?” Tanya nya dalam hati tidak dapat mempercayai hal tersebut.
“Tunggu, kenapa mereka mengatakan ini semua padaku?” Sambungnya mulai berprasangka buruk.
“Manajer Richard, kami minta maaf. Tapi karena manajer Je sudah memberikan materi proyeknya lebih awal, anggota mereka ada 8 orang dan model bisnis mereka juga sudah lebih dikembangkan daripada proyek milik anda.” Ujar manajer Leo.
“Jadi anda mengira saya menyontek mereka?” Ujar Richard dengan nada sedikit keras.
Namun karena terlanjut kesal dan marah, Richard pun melepaskan amarahnya itu dengan menghempaskan tangannya dengan kuat di atas meja lalu berkata:
“Anda curiga saya mencuri materi mereka?” Tanya Richard sangat marah.
“Bukan, bukan..!”
“Saya tidak mengatakan kalau anda menyontek materi mereka.”
“Kami harus mengatur ini semua, dan di saat seperti ini kami hanya bisa membuat standard saja.” Ujar manajer Leo berusaha memberi penjelasan kepada Richard.
“Haa, jadi anda ingin saya membatalkan proyek ini?”
“Dan dari awal anda sudah melihat materi kami. Kenapa bisa tiba-tiba sekarang anda mengatakan ini semua pada saya?’ Ucap Richard masih dengan emos yang menggebu-gebu.
“Katanya tim strategi akan membicarakan soal performa kau dan anggota timmu ke tim HR.” Ujar kepala departemen berbisik kepada Richard.
“Nanti kalau ada lagi, aku akan memberikan proyek besar.” Sambungnya, sehingga membuat kemarahan Richard pun bertambah.
__ADS_1
“Anda harusnya ada di pihak saya! Betul, kepala departemen tidak peduli dengan ini. Ini kan bukan proyek dia.” Tutur Richard dalam hati.
“Tapi tetap saja!” Sambungnya.
“Kami juga akan rapat dengan manajer Je, tapi kami baru bisa rapat setelah kami mendapatkan konsklusi yang baik mengenai isu anda.” Pungkas wakil manajer utama.
“Konsklusi? Konsklusi apa?” Tanya Richard.
“Kalau anda tidak memutuskan, dan anda ingin kami memutuskannya lagi setelah kami rapat dengan manajer Je, kami harus menyerahkan keputusan para eksekutif yang di atas.” Lanjut wakil manajer utama, dan membuat Richard pun tak berkutip lagi sehingga iapun hanya terdiam dan tak tahu harus membela diri seperti apalagi.
“Ah, jadi kalian tidak mau tanggung jawab? Dan kalian mau aku mundur karena tidak mau menangani ini semua?” Ujar Richard dalam hati.
Setelah itu wakil manajer utama dan manajer Leo pun pergi meninggalkan ruangan dan kini hanya ada kepala departemen dan Richard di dalam ruangan tersebut.
“Kalau orang dari tim strategi sampai ikut hadir, artinya ini kesalahan dari mereka. Sepertinya yang menanganimu adalah wakil manajer utama dan manajer Je ditangani oleh manaje Leo.” Tutur kepala departemen.
“Menurutku ada salah komunikasi di antara mereka, dan sekarang mereka tidak bisa menanganinya.”
“Karena itu mereka seperti ini padamu.” Sambungnya.
“Sepertinya begitu.” Balas Richard berekspresi lesu, lalu kemudian berkata dalam hati:
“Untuk apa aku menghabiskan waktu dan tenaga demi proyek ini?”
“Tunggu, apa yang harus aku katakana pada anggota tim?”
“Pasti dia mengambil materi kami diam-diam saat itu.”
“Apa benar dia mengambilnya waktu itu? Sepertinya dia melihat materiku.” Ujar Richard dalam hati mulai mencurigai manajer Je.
Rasanya kini hanya kemarahan dan kekecewaan yang ada di kepala Richard, dia betul-betul merasa sangat kecewa ketika diminta untuk mengehentikan proyek yang sudah susah payah ia garap bersama anggota timmnya.
“Pergi ke sauna dan istirahat, atau tidak main billiard.” Tutur kepala departemen.
“Mau pakai kartu perusahaan? Mau makan makanan yang lezat?” Sambungnya.
“Mana bisa saya pergi ke mana-mana.” Balas Richard.
“Lalu kau mau bekerja? Mau kerja apa?”
“Kalau aku bertemu anggotamu, aku akan jelaskan dengan baik.”
“Saya yang akan jelaskan, anda tidak perlu bicara apa-apa.” Balas Richard.
Setelah itu Richard pun pergi dan bermaksud ingin menemui manajer Je, namun ketika ia menelepon manajer Je, panggilan masuknya itu tidak dijawab oleh manajer Je.
__ADS_1
“Angkat manajer Je, angkat teleponnya.” Ujar Richard berbicara sendiri berharap manajer Je mau mengangkat telepon darinya.
“Kenapa tidak angkat? Sengaja?”
“Aku ingin tanya kenapa materi kalian mirip dengan materi kami.”
Beberapa kali Richard mencoba menghubingi manajer Je melalui telepon, namu teleponnya tersebut tidak kunjung di jawab oleh manajer Je. Sehingga Richard pun berkata dalam hati:
“Kalau melihat kembali ke beberapa tahun kebelakang, ini sebenarnya bukan apa-apa, tapi saat ini aku penuh dengan kekecewaan dan perasaan marah.” Ungkap Richard dalam hati.
‘Nomor yang anda tuju tidak dapat menjawab…’
“Baiklah, mari kita bicarakan dengan manajer Anna.”
“Aku harus melupakan kesedihan ini dan mendapatkan dukungan.”
“Aku harus membagikan perasaan ini dengan siapa, aku harus cerita pada siapa?” Ungkapnya terus berkata dalam hati.
Richard pun kemudian mengirim pesan kepada menajer Anna:
‘Anda di kantor?’ Tanyanya, dan tiba-tiba pada saat ingin mengirimi pesan lagi kepada Anna pikirannya pun semakin tidak karuan sehingga iapun berkata:
“Tidak, tidak bisa seperti ini.” Tuturnya seperti seorang yang sudah kehilangan arah.
Rasanya kepengapan itu ridak bisa dihilangkan. Richard pun kemudian bermaksud keluar untuk mencari udara segar.
Masih terang, jam 4 sore tidak ada tempat minum alkohol. Tapi, kehausan yang dirasakan oleh Richard pun tidak akan bisa dilegakan dengan minuman apa pun.
“Apa aku beli rokok? Atau aku pulang dan main game saja?”
“Atau nontin video dewasa? Tidak, aku sudah menghapus semuanya.”
“Sial…”
“Atau buat keributan di kantor?”
“Tapi nanti tim HR datan.” Tutut Richard dengan piikiran yang sudah tidak menentu.
Kemudian Richard pun pergi ke sebuah tempat yaitu salah satu bar yang tidak berada jauh dari kantornya sehingga di sana lah ia mencoba untuk menenangkan pikirannya sambil meminum alkohol.
“Manajer Anna, kenapa tidak membalasku?” Tanyanya sambil memperhatikan pesan yan ia kirimkan kepada Anna tadi.
“Sepertinya hubungan kami sudah berakhir.” Sambungnya.
“Beberapa bulan terakhir ini juga aku jarang menghubunginya, apa yang aku pikirkan?”
__ADS_1
“Tidak ada orang yang bisa diajak minum ya? Kenapa hari ini semua orang sibuk?” Ujar Richard dalam hati sambil menghubungi teman-temannya namun tidak ada satu pun yang bisa menemaninya untuk minum bersama.
...Bersambung...