
...2.5 Bibir Indah Manajer Anna...
“Ya ampun. Semoga cepat sembuh.” Ucap Anna turut prihatin.
Dengan menyedihkan, Richard membicarakan hal lain. Dan seketika Anna pun mendekat padanya lalu menyentuh lengan kiri Richard dan berkata:
“Apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya Anna terlihat tulus.
Sebetulnya Richard sangat ingin jika Anna memeluknya saat itu juga, namun ia juga malu jika harus mengatakan kemauannya itu, dan tiba-tiba Anna pun menariknya pergi sambil berkata:
“Ayo ikut saya.” Tutur Anna sambil menarik Richard.
Anna pun menarik Richard menuju ke sebuah tangga sehingga Richard pun berkata dalam hati:
“Tangga menuju tempat penitipan anak? Dia mau keluar?”
“Hmm aku tidak mau keluar.” Ungkap Richard dalam hati.
Sesampainya di tangga tersebut. Anna pun menaiki satu tangga dan Richard berada di bawanya dan kemudian tangan Anna pun memegang wajah Richard lalu ia berkata:
“Pejamkan mata anda sebentar.” Ucap Anna, dan Richard pun tercengang sambil menelan liur.
Sontak, hal yang tak disangka pun terjadi. Anna mencemplungkan bibir manisnya itu ke bibir Richard dan membuat Richard pun semakin tercengang, sunggu hal yang sangat tak terduga oleh Richard. Disaat bibir dan lidah Anna menyentuh rasanya waktu terhenti. Richard seperti merasa telah pindah ke dunia lain. Rasanya saraf di organ kecil Richard pun membuat indranya menjadi lebih sensitive dan menyalurkan sentuhan tersebut ke seluruh tubuhnya.
Setelah itu Anna pun melepas ciuman nya lalu mengecup dahi Richard dan lalu berkata:
“Yang terjadi hari ini cukup diingat hari ini saja, dan perasaan hari ini juga hanya untuk hari ini.” Ucap Anna.
“Yang melelahkan selama ini juga sampai di sini.” Sambungnya.
Setelah itu Anna pun buru-buru pergi sambil mengambil hp nya lalu berkata:
“Wah, saya harus pergi sekarang.” Ujar Anna.
Setelah beberapa langkah berjalan, Anna pun kembali menoleh ke Richard dan berkata:
__ADS_1
“Pak Richard!” Ucap Anna dan Richard pun menoleh.
“Anda adalah orang yang luar biasa.” Ujar Anna dan lalu melanjutkan:
“Kalau dapat gelar itu memang keren, tapi saat ini pun anda sudah keren dan anda adalah orang yang baik.” Sambungnya menyanjug Richard.
Setelah itu Anna pun pergi dan seketika Richard pun memegang dadanya lalu berkata dalam hati:
“Aku tidak boleh lupa.”
“Harum ini, perasaan ini. Tidak boleh lupa. Tidak boleh kehilangan ini.” Tutur Richard dan tak terasa air matanya pun keluar karena sangat tersentuh dengan perlakuan Anna tadi.
Di lain hari Richard yang kala itu sedang bersama dengan ibu dan neneknya pun menikmati makan apel bersama dan sang ibu pun bertanya kepadanya:
“Bagaimana belajarnya nak?” Tanya ibu Richard.
“Ujianmu sudah selesai? Kok tidak cerita bagaimana hasilnya?” Sambung ibu Richard.
“Kenapa membicarakan hal it uterus, aku sudah berhenti. Aku mau di sini saja, aku tidak akan kuliah di luar negeri, bu.” Jawab Richard.
Ibu Richard pun melempar senyum dan lalu mengangkat pisaunya kemudian berkata:
“A-aku yang potong apelnya saja, bu.” Ujar Richard sedikit gugup.
Dan begitulah, setelah musim dingin datang. Richard mengambil ujian GMXT sekali lagi lalu dengan yakin ia menyerah untuk belajar di luar negeri.
“Baru saja gagal sekali tapi kau sudah menyerah, kau tidak punya keinginan ya.” Sahut nenek Richard dan lalu menynggung secara halus.
“Seperti ayahnya.”
Meskipun begitu. Richard tidaklah menyesal dengan pilihannya tersebut, walaupun orang tuannya sangat kecewa. Mungkin mereka ingin melihat anaknya berhasil melakukan sesuatu. Karena itu juga Richard bukannya tidak punya penyesalan sama sekali.
Sebetulnya Richard ingin belajar untuk mendapatkan hasil yang baik dan bilang jika dirinya berhasil berkat Anna, dia ingin mengatakan itu kepada Anna. Tapi setelah hari itu, manajer Anna tidak pernah membicarakan soal ujian atau sekolah di luar negeri lagi.
Bukan setelah hari berciuman dengan Anna, keseharian mereka berjalan seperti dulu lagi. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa, dan Richard pun berpikir jika perkataan Anna hari itu memang benar. Jika yang terjadi hari ini cukup diingat hari ini saja.
__ADS_1
Dan karena Anna sudah berkata seperti ini, Richard pun berpikir mungkin nanti kalau mereka makan siang atau minum kopi bersama, Richard pasti hanya bisa menanyakan kabarnya saja.
Tapi suatu hari di musim dingin., ada satu yang menggelegar. Ketika Richard sedang asik-asiknya membuka halaman sosial OB, klub kampus, ia mendapatkan kiriman undangan pernikahan mantan pacarnya, dan benar saja seketika mantan pacarnya itupun menelpon dan membuat Richard pun panik.
“Aduh, bagaimana ini?” Ujar Richard bingung harus menjawab panggilan tersebut satau membiarkannya saja.
“Jangan panik, jangan seperti anak kecil.”
“Pura-pura hapus nomornya dan tanya ini siapa?’ Ucap Richard dalam hati.
Pikiran Richard campur aduk dalam waktu 1 detik, dan kemudian Richard pun mengangkat panggilan masuk dari mantan pacarnya itu.
“Ah, Nina. sudah lama ya.” Ujar Richard.
Dia adalah junior Richard di klub kampusnya. Mereka berpacaran dan putus berkali-kali, menurut Richard Nina adalah gadis yang mengonsumsi emosi ketika Richard masih muda.
Masa-masa kuliah. Mereka sudah PDKT dan Richard mengutarakan perasaannya. Mereka putus selang beberapa minggu berpacaran dan kemudian mereka berpacaran lagi setelah beberapa hari putus.
Nina digosipkan berpacaran dengan pria lain setelah pergi ke luar negeri untuk belajar. Karena itu Richard marah dan bertemu wanita lain juga. Namun ternyata Richard hanya salah paham, dan akhirnya mereka pun berpacaran lagi. Setelah itu:
“Hey, kita sepertinya nggak cocok deh!”
“Bye Bye.”
Seperti itulah kisah mereka dan memilih untuk mengakhiri hubungan mereka karena sudah tidak menemukan kecocokan satu sama lain. Tapi karena mereka memiliki kenalan yang sama, mereka selalu tahu kabar satu sama lain dan semua tentang kisah cinta mereka masing-masing, bahkan mereka pernah bertemu beberapa kali di perkumpulan dan tentunya itu sangat membuat mereka merasa canggung.
Karena hal itu Richard sangat tidak nyaman dan terkejut setelah melihat undangan mantan pacanya itu.
“Aku lihat undangan yang kau pos.” Tutur Richard yang masih berbicara dengan Nina dalam sambungan telpon.
Meskipun kini Richard sudah tidak punya perasaan suka padanya, tapi rasa kejanggalan tetap ada karena lembar halaman di saat Richard masih muda kini akan tertutup begitu saja.
“Kenangan di umu 20-anku ternyata sudah benar-benar berakhir.” Lanjut Richard berbicara dengan Nina.
“Ah, kakak ternyata sudah lihat, kalau gitu kakak tahu dong kenapa aku telepon?” Ujar Nina, dan lalu firasaat buruk pun muncul di benak Richard.
__ADS_1
“Hmm, dia tidak akan mengajak bertemu kan? Mungkin dia telepon untuk mengundangku secara langsung.” Ucap Richard dalam hati.
...Bersambung...