
...2.8 Bertemu Teman Lama...
Musik yang menenangkan terdengar dari mobil Anna, sinar matahari di musim dingin menyinari jendela mobil di siang hari akhir pekan itu. Richard berharap bisa menikmati saat ini lebih lama lagi, ia berharap jalanan macet dan berharap anaknya anna tidur lebih lama lagi. Namun hal itu tidaklah terjadi karena tiba-tiba saja Anna pun memberhentikan mobilnya lalu berkata:
“Ah, saya harus mengantar anda sampai ke stasiun subway.” Tutur Anna.
“Saya malah pulang ke rumah begitu saja, tunggu saya akan putar balik.” Sambung Anna.
“Tidak perlu, saya lebih suka jalan kaki. Kebetulan hari ini juga dingin.” Ujar Richard.
“Tapi, bukannya anda sedang memakai sepatu yang tidak nyaman untuk jalan kaki?” Tanya Anna.
“Tidak apa-apa.” Jawab Richard.
“Apa saya saja yang gendong anak anda? Saya sering sekali bermain dan menggendong keponakan saya.” Tutur Richard berharap Anna mengiyakan.
“Haha, tidak usah.” Balas Anna dan kemudian melanjutkan:
“Saya sangat berhutang budi pada anda, tapi yang bisa saya lakukan hanyalah membelikan anda kopi di kantor. Maaf, Bagaimana ya.” Sambungnya.
“Ah, anda kan sibuk.” Jawab Richard sambil tersenyum dan lalu hati kecilnya berbisik:
“Aku cukup dengan yang waktu itu” Jantungnya pun berdebar karena ingat saat mereka di tangga waktu itu, tapi Richard berhasil menenangkan dirinya dan basa basi yang tidak berarti pun dimulai.
“Sialahkan bertamu ke ruamh saya kapan-kapan, nanti saya buatkan makanan.” Tutur Anna sehingga membuat adrenalin Richard pun semakin terpacu.
“Apa ini yang namanya green light? Yang seperti Netflix and chill? Apa benar begitu??” Tutur Richard dalam hati.
“Saya pandai memasak.” Sambung Anna.
Apa iya?” Tanya Richard ingin memastikan.
“Saya tidak tahu kapan tapi saya akan mengundang anda. Saya ingin memasak makanan yang lezat untuk anda.” Ucap Anna.
Setelah itu, diperjalanan pulang ke rumah. Richard pun terus kepikiran dengan tawaran Anna tadi.
“Makan”
“Makanan.” Dan seperti itulah bulan November berakhir dan bulan desember pun datang.
Dikemudian hari, Richard dan teman-teman nya pun sedang asik-asiknya menikmati makanan dan minum bersama, dan karena banyak minum. Richard pun tanpa sadar menceritakan tentang Anna kepada teman-temannya.
__ADS_1
“Wah, sudah menikah?” Ucap teman Richard.
“Menurutumu mereka akan segera cerai? Hmm anak ini pede banget ya.” Sambung teman Richard itu.
“Hahahah.”
“Hei, aku memang suka dia, tapi aku masih belum yakin.” Ucap Richard, dan kemudian temannya itupun kembali berkata:
“Kalian sudah bicara dengan santai belum? Kalau lebih tua, kau harusnya panggil dia Nona atau namanya.” Tuturnya dan kemudian melanjutan:
“Di kantor kalian memanggil satu sama lain dengan sebutan apa? Di luar kantor bagaimana?” Sambungnya bertanya, dan seketika Richard pun tertunduk lalu menjawab:
“Aku panggil dia manajer.:
“Apa? Berarti nggak bisa dibilang pacaran dong.” Ujar teman Richard.
Begitulah Richard mencurahkan isi hatinya kepada temannya itu, teman baiknya yang sekolah di amerika, mereka bertemu karena pada saat itu dia sedang ada di dalam negeri.
“Tunggu.” Ucap teman Richard.
Sebagai teman satu jurusan, dia adalah teman lama Richard dan mereka tahu cerita cinta masing-masing. Mereka juga tidak punya perasaan suka terhadap satu sama lain.
“Sepasang kekasih mana bisa memanggil satu sama lain dengan sebutan manajer.” Sambungnya dan kemudian melanjutkan dengan bertanya:
“Nggak, kami nggak pegang…”
“Apa? Nggak pegangan tangan? Jadi ternyata Cuma kau saja yang suka dia?!” Ujar teman Richard terkejut ketika mendengar jawaban Richard barusan.
“Jangan begitu temanku.” Ucap Richard dengan nada rendah dan kemudian kembali berkata:
“Tapi kami pernah ciuman, meskipun aku tidak tahu apa itu bisa disebut ciuman atau tidak.” Ungkap Richard.
Sejujurnya Richard sulit menjelaskan padanya soal perasaannya terhadap manajer Anna, karena itu dia mengatakan hubungan mereka sangat rumit sampai belum bisa disebut pacaran.
Setelah hari itu Anna tidak menghubunginya lagi, sehingga Richard meluakan segalanya kepada temannya lamanya yang sudah lama tidak ia temui.
“Hei.” Tegur temannya lagi.
“Pertama-tama secara fisik kalian harus menjadi lebih dekat. Bagaimanapun caranya, kau harus buat suasana yang nyaman dan pukau dia, lalu kalian berbaring.” Sambung teman Richard itu bicara sesukanya sehingga Richard pun berkata dalam hati:
“Ya ampun, dia bilang apa sih? Kenapa dia bicara terang-terangan sekali.” Ujar Richard dalam hati.
__ADS_1
“Kenapa respon mu begitu? Sebagai wanita, aku hanya bicara secara realistis saja.” Ungkap teman Richard.
“Sudahlah, sudah. Kalau saranmu memang bagus, dari dulu aku pasti sudah menikah.” Ucap Richard.
“Apaan sih, sepertinya kau nggak benar-benar menyukainya.” Jawab teman Richard.
Setelah selesai menikmati makan malam dan minum bersama temannya itu, Richard pun pulang dan di pinggir jalan ia yang kala itu sedang ingin menahan taksi, tapi terus terbayang dengan ucapan temannya tadi yang mengatakan:
‘Sepertinya kau tidak benar-benar menyukainya.’
“Taksi,”
“Taksi.” Teriak Richard sambil mengacukan tangan untuk menahan taksi namun tidak ada satupun yang singgah.
“Sial, nggak ada yang berhenti.” Ucap Richard yang sudah muali sempoyongan karena minum.
“Uh, kepala ku sakit.” Rintih Richard.
“Apa benar aku tidak menyukainya?” Lalu perasaan apa ini?”
“Ah, aku rindu manajer Anna.” Sambung Richard memikirkan Anna.
Richard yang sudah mabuk itupun teru memikirkan Anna, dipikirannya hanya penuh dengan nama Anna saja.
“Manajer Anna, aku merindukanmu. Bukan di kantor, tapi di luar.”
“Aku ingin memegang tanganmu juga. Haa, kenapa kau tidak menghubungiku? Katanya kau mau mengundangku ke rumahmu?”
Sebagai seorang wanita yang sudah memiliki anak, Anna sudah pasti merasa cemas dan bertindak defensive. Dan karena Richard penakut. Richard tidak bisa meraihnya dengan mudah. Karena itu Richard tidak pernah bisa memberanikan diri untuk menanyakan hubungan mereka, dan hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
Di keesokan harinya, Richard yang baru terbangun dari tidurnya itupun dengan cepat mengambil ponselnya untuk melihat jam sambil berkata:
“Hah?Aku tidak semabuk yang aku bayangkan. Perutku juga baik-baik saja.” Ungkapnya.
Richard bangun jam 8 pagi di hari sabtu, dan untung saja dia tidak menelpon siapa-siapa karena akhir tahun, weekend kali ini dia berencana minum sampai larut dan tidur seharian.
Kemudian Richard pun beranjak dan pergi ke sauna untuk menyegarkan badan, dan setelah itu iapun memesan sebuah ramen ditempat itu lalu duduk di sebuah meja yang sudah disediakan bagi para pengunjung.
“Ah, nyaman sekali.” Ujar Richard sambil memandangi langit yang cerah.
“Aku sedang tidak memikirkan apa-apa, dan aku ingin terus seperti ini. Aku senang.” Ungkap Richard dalam hati.
__ADS_1
Richard pun menghabiskan waktu di sauna dan itu sangat menyenangkan baginya. Ia menunggu ramennya sambil melamun dan melihat keadaan sekitarnya.
...Bersambung...