
...4.0 Beres-beres Rumah....
Richard pun kemudian maju satu langkah di depan Anna lalu menolak pinggang dihadapan rak tersebut sambil berkata:
“Jadi ini dikosongkan semua?” Tanya nya.
“Iya, saya mau membuang raknya, nanti harus dibawa ke depan apartemen, anda juga harus bantu itu.” Ujar Anna dengan ekspresi yang merasa tidak enak.
Meski wajah Anna menunjukkan ekspresi merasa tidak enak terhadap Richard, tapi selama ini, setiap Anna minta tolong, ini adalah ekspresi yang paling santai yang Richard lihat dari wajah Anna.
Richard pun kemudian memulai pekerjaannya, ia pun mengambil satu demi satu buku yang ada di rak dan lalu menaruhnya di dalam kardus yang sudah disiapkan oleh Anna.
“Kardusnya jangan sampai penuh, nanti terlalu berat dan kita tidak bisa membawanya.” Ucap Anna.
“Saya kuat mengangkat berat.” Jawab Richard sangat percaya diri.
“Kalau terlalu berat, kardusnya yang akan robek.” Tutur Anna lagi memperingati.
“Ah…” Sahut Richard paham.
Dan kemudian Anna pun kembali berkata:
“Tapi daripada itu, bagaimana kalau anda terluka?” Ujarnya dan membuat hari Richard seketika tersentuh akan perkataan Anna.
“Ah, aku senang, pilihan yang tepat datang kemari, aku bisa bahagia mendengar kata-kata itu yang tidak ada artinya itu.” Ujar Richard senang kegirangan.
“Hmm, mari kita lakukan ini dulu bersama. Saya akan bawa kardus tambahan.” Ucap Anna.
“Terlihat berantakan, tapi semuanya sudah tertata rapi supaya memudahkannya ketika minta tolong padaku.” Ucap Richard dalam hati.
“Tenang. Aku kan kemari untuk bekerja.” Sambungnya.
“Supaya aku tidak bertanya lagi dan langsung membantunya, supaya dia juga bisa langsung membuang barang tanpa banyak pikiran.” Lanjutnya lagi dalam hati.
“Beberapa hari yang lalu aku juga sibuk membereskan rumah dan aku menghabiskan waktu berjam-jam memilih yang mana yang mau aku buang…” Ujar Richard.
Anna pun sibuk mengangkat barang-barangnya bahkan yang barang-barang beratpun ia angkat sehingga Richard pun berkata dalam hati:
“Dari mana datangnya kemampuan bertahan hadup dan kecerdasan wanita ini?” Tanyanya dalam hati.
Setelah sebagian sudah di bereskan, Anna pun mendekat kepada Richard dan kemudian memberikan sarung tangan kepada Richard.
“Pakai ini supaya tidak terluka.” Ucap Anna sambil memberikan sarung tangan itu kepada Richard.
__ADS_1
“Sarung tangan kerja… orang tidak akan tahu soal ini kecuali pernah pindahan dan mengangkut barang sendiri. Wah, dia memang menawan.” Ucap Richard dalam hati begitu kagum dengan Anna.
Richard pun kemudian mengenakan sarung tangan tersebut, dan kemduian berkata kepada Anna:
“Tapi kenapa anda tiba-tiba membereskan rumah?” Tanyanya.
“Kalau semua barang yang ditandai dibuang, sepertinya rumah anda akan kosong.” Sambungnya dan Anna pun tersenyum lalu berkata:
“Ah, aka nada yang tinggal di sini. Mau dijadikan tempat kos.” Ujar Anna.
Sontak Richard pun kaget mendengar perkataan Anna tersebut sehingga iapun berkata:
“Apa? Tempat kos? Ada murid kuliahan? Di sini kan tidak ada universitas.” Ucap Richard, dan Anna pun tertawa.
“Ahahaha.”
“Saya setengah bercanda.” Ucap Anna.
Kemudian Anna pun menjelaskan alasanya membereskan rumah dan membuang semua barang-barang yang sekiranya sudah tidak ia perlu kan lagi.
“Kakak sepupu saya punya keponakan. Dia sedang kuliah tahun ke-2 dan rumahnya lumayan jauh.”
“Dia frustasi tinggal di asrama dan sedang ada masalah di officetel yang dia tinggali sekarang.”
“Saya dan dia memang akrab dan saya dekat dengan keponakannya juga.” Sambungnya.
“Aha….” Sahut Richard mulai paham alasan Anna membereskan rumah.
“Dia tidak perlu membayar sewa di sini, tapi saya mau minta tolong padanya untuk menjaga anak saya seminggu sekali di malam hari.” Ujarnya lagi.
“..Eh?” Pungkas Richard dalam hati.
“…Kalau begitu aku tidak bisa ke sini lagi?” Ujarnya dalam hati, dan kemudian iapun berkata kepada Anna.
“Wah, baguslah! bagus kalau keponakannya bisa menjaga anak anda.”
“Hahaha, kalau begitu di malam hari...” Sambung Richard dan tiba-tiba iapun baru sadar dengan perkataan malam hari, sehingga ucapannya pun terhenti sejenak.
“...di malam hari. Ha???” Sambungnya dalam hati masih bingung akan ucapan tersebut.
Dan kemudian iapun mulai menerka-nerka:
“Kalau begitu kami bisa bertemu berduaan di malam hari?!” Tuturnya dalam hati.
__ADS_1
“Akhirnya aku bisa bertemu dengannya di malam hari.” Sambungnya lagi dan kali ini iapun sangat merasa senang akan hal tersebut.
“Sebenarnya saya juga tidak bisa membiarkan barang mantan suami saya… tadinya saya mau mengirimkan barang ke rumah orang tua mantan suami saya dan membuang sisanya. Tapi rerpot.” Ujar Anna.
“Saya pikir ini bisa cepat selesai…” Sambungnya.
“Wah, kapan beresnya kalau mengerjakan ini sendirian? Baguslah anda memanggil saya.” Ujar Richard.
“Sepertinya setiap rak perlu satu kardus.” Ujar Richard lagi ketika melihat dus yang ia isi itu sudah mulai penuh.
“Kalau demi manajer Anna, aku bisa melakukan ini semua..!” Sambungnya dalam hati.
Dan kemudian Anna pun kembali berkata:
“Lalu, saya juga ingin lebih sering menghabiskan waktu bersama anda… maaf ya saya terang-terangan seperti ini.” Ucapnya sambil melemparkan senyum.
Tentu saja hal itu membuat Richard senang dan bahagia, dan hanya perlu seperti inilah untuk mendapatkan waktu luang manajer Anna, dan dia ternyata tahu kalau Richard senang dan pasti datang kalau dipanggil.
“Tapi bukannya orang biasanya enggan memperlihatkan kehidupan pribadi seperti ini?” Ucap Richard dalam hati.
“Tapi yah, aku sih datang saja karena sudah diundang.” Sambungnya tidak ingin ambil pusing.
Richard pun kemudian memperhatikan barang-barang Anna yang ia kemas, sepertinya ia ingin mengetahui semua tentang Anna. Buku apa yang dia miliki, kemana saja dia pernah liburan, barang elektronik apa yang dia beli,apa ketertarikannya, jejak kehidupan manajer Anna tersebar di mana-mana saja, semua itu Rasanya Richard ingin tahu.
“Bukannya orang biasanya menyembunyikan yang seperti ini dan hanya menunjukkan yang menarik saja? Hmm, orang yang unik.” Ucap Richard dalam hati ketika menemukan album foto Anna.
Sontak Anna pun mendekat lalu berkata kepadanya:
“Hmm, tidak seru ya kalau hanya bekerja saja. Di saat seperti ini harus ada music untuk bekerja. Bagaimana kalau kita nyalakan lagu?” Tanyanya kepada Richard.
Seketika suara music pun memenuhi rumah. Angin musim gugur segar yang bisa menghilangkan keringat, dan Richard pun bahagia saat-saat biasa seperti ini bisa membuatnya begitu bahagia, dan rasanya ia ingin terus menikmati momen-momen yang seperti ini bersama manajer Anna.
Setelah semuanya selesai, Anna pun menyiapkan makanan untuk makan siang mereka.
“Setelah bekerja kita harus makan makanan cina!” Ujar Richard
“Apalagi di hari pindahan!” Sambungnya.
“Ah, betul juga. Ini sama saja dengan beres-beres untuk pindahan rumah.” Sahut Anna.
“Anda mau soju?” Sambungnya menawarkan.
“Apa? Soju?” Ujar Richard.
__ADS_1
...Bersambung....