Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 28


__ADS_3

...3.8 Berusaha Melupakan Anna...


“Saya tidak suka bicara terlalu formal seperti pada saat di kantor.” Richard pun tercengang dengan ekspresi bingung.


“Panggil saya dengan nama saja, tidak perlu bicara formal.” Sambung si wanita itu.


Richard pun agak kaku ketika si wanita itu berkata seperti itu, sehingga Richard pun berkata dalam hati:


“Sama sekali bukan orang yang pemalu. Aku takut, aku pelan-pelan saja, aku sangat pemalu.” Ungkapnya dalam hati.


Meski begitu, wanita itu cantik, dan dari keluarga yang baik, latar belakang pendidikan yang baik, cerdas, positif, dan anak tunggal. Sehingga, Richard pun kembali berkata dalam hati:


“Ibuku pasti suka dia, dia juga pandai bicara.” Ungkapnya dalam hati, dan kemudian melanjutkan dengan membandingkan dengan manajer Anna.


“Sewaktu muda, manajer Anna juga pasti cemerlang seperti dia, alangkah baiknya kalau aku bertemu manajer Anna ketika dia masih muda.” Ucap Richard dalam hati.


Usai menemui wanita itu. Richard yang sedang duduk di sofa apartemennya itupun mengambil ponselnya sambil berkata sendiri:


“Apa aku harus mengajak kencan kedua?”


“Yah, seburuk-buruknya aku ditolak, dan aku juga tidak mau membuat image temanku jadi jelek.”


“Hmm, aku kan bukan mau mengajak pacaran.” Ujarnya terus bebicara sendiri.


Dan, tiba-tiba saja sebuah pesan pun masuk, dan pesan itu dari si wanita tadi:


‘Kakak lucu deh. Hehe, aku pikir tadi kita sudah janji mau pergi kencan yang kedua. Heheh.’ Tuturnya dalam isi pesan yang dikirimkan kepada Richard.


Richard pun tercengang dan muali menimbulkan persepsi di benaknya:


“Sepertinya dia suka aku, hmm.”


“Ah, ada pesan dari manajer Anna.” Sambung Richard ketika melihat pesan dari manajer Anna baru saja masuk.


‘Pak Richard, anda tadi sangat keren. Saya sampai terpukau.’ Ungkap Anna dalam pesannya tersebut.


Richard pun tercengang dan sejenak terdiam ketika melihat pesan dari Anna yang berkata seperti itu. Sehingga, iapun kembali berkata dalam hati:

__ADS_1


“Hari ini, bagaimana perasaannya terhadapku? Entah kenapa aku sedih dan hatiku sakit. Sangat sia-sia.” Tuturnya.


Haripun berlalu dan kini musim semi pun telah tiba, musim di mana Richard bingung harus menggunakan jaket padding atau jaket biasa.


“Manajer Richard.” Tegur atasan Richard ketika di kantor, dan Richard pun menoleh lalu menjawab:


“Ya, senior manajer.” Jawabnya tanpa ekspresi.


“Ayo kita bicara sebentar.” Ucap atasannya lagi.


Biasanya pada musim seperti ini aka nada pembicaraan soal perubahan struktur perusahaan untuk memulai bisnis baru.


Setelah itu Richard dan atasannya itupun berkata keluar untuk mengobrol, dan atasan Richard itupun mulai membuka sesi obrolan.


“Dulu kau pernah belajar GMXT. Sekarang sudah berhenti.” Tuturnya, dan tiba-tiba hati Richard pun tersentak ketika mendengar kata GMXT.


“Ah, aku sama sekali lupa belajar.” Ungkapnya kaget dalam hati.


“Anda tahu dari mana?” Tanya Richard.


“He, seharusnya kau menjauhkan urusan pribadimu dari kantor. Pokoknya aku tahu kau tidak lanjut belajar.” Ujar atasannya lagi dan kemudian atasannya itupun memegang bahu Richard lalu berkata:


“Kau mau mempertaruhkan posisimu di kantor ini tidak?” Sambung atasannya dengan raut wajah serius.


Richard terdiam sejenak dan kemudian atasannya si kepala departemen pun menjelaskan tujuannya mengajak Richard untuk berbincang, yaitu membahas tentang rencananya dan ia mau Richard yang menangani hal tersebut. Dan, Richard pun direkomendasikan oleh kepala departemen untuk melakukan sebuah proyek kompetisi yang diadakan di tim strategi.


Awalnya Richard pikir kepala departemen akan menyuruhnya melakukan pekerjaan yang merepotkan, tetapi kalau berhasil Richard bisa menjadi PM (Product Manajer) di perusahaan partner mereka di amerika.


“Kalau berhasil kau akan menjadi ekspatriat di amerika, dan perusahaan akan mendukungmu untuk melanjutkan kuliah jenjang selanjutnya, dan bisa menjadi bagian dari eksekutif.” Pungkas kepada departemen.


“Aku sudah terlambat, tapi aku merekomendasikannya padamu.” Sambungnya berharap Richard mau menerima tawarannya tersebut.


“Huh…” Tutur Richard dalam hati masih sedikit ragu.


“Aku akan mendukungmu.” Ujar sang kepala departemen lagi meyakinkan Richard.


Sebelumnya Richard tidak pernah memikirkan soal promosi atau posisi eksekutif, tapi entah kenapa jantungnya berdebar setelah atasannya berkata seperti itu.

__ADS_1


Meskipun Richard dan rekan kerjanya selalu mengeluh soal pekerjaan, namun ia berbeda dengan yang mereka akui, dan kini Richard pun mulai bangga dengan dirinya sendiri.


Setelah urusan dengan atasannya sudah selesai, Richard pun buru-buru mengirimi Anna pesan.


‘Manajer Anna, manajer Anna. Saya direkomendasikan untuk ikut serta dalam proyek kompetisi yang diadakan di tim strategi. Bagaimana menurut anda? Apa sebaiknya saya terima?” Ujar Richard meminta pendapat dari Anna.


Tak lama setelah itu Anna pun membalas pesan dari Richard tersebut:


‘Ini kesempatan yang langkah, coba saja. Saya akan dukung’ Balas Anna.


Richard pun terdiam dan memperhatikan pesan balasan dari Anna dan terlhat sedang berpikir keras ketika mengetahui jawaban dari Anna.


“Respon yang aku harapkan..?” Ujarnya dalam hati.


Tiba-tiba pesan dari Anna pun kembali masuk dengan berkata:


‘Tapi anda akan jadi sibuk? Kalau begitu kita akan jarang bertemu?’


‘Kalau menang, apa anda harus ke amerika? Kita tidak bisa bertemu lagi?’ Ujar Anna 2 kali mengirim Richard pesan.


Tentu saja hati Richard seperti berat ketika membaca pesan Anna itu, sehingga iapun berkecamuk dalam hati dengan berkata:


“Untuk apa aku memikirkan hal ini? Di antara kami kan sudah ada batas.” Ucapnya kesal.


“Aku tidak bisa melewati batas itu.” Sambungnya.


Setelah itu Richard pun mengumpulkan para juniornya yang paling pintar dan mereka mulai mempersiapkan kompetisi.


Richard pernah memimpin satu atau dua junior sebelumnya, tapi tegang karena baru sekarang ia memimpin tim sebesar ini. Tapi karena mereka semua giat bekerja, Richard pun jadi mulai percaya diri.


Andai saja di tim Richard yang saat ini ada manajer Anna, semua pasti akan jauh lebih baik. Richard banyak belajar dari Anna pada saat di tim TF, dan ia merasa bahagia. Namun sekarang ia harus melakukannya sendiri.


Setelah selesai membicakan persiapan mereka, Richard pun memerintahkan para juniornya yang ada di tim strategi untuk keluar dan observasi keadaan untuk mendapatkan ideation, dan apa yang dilakukan Richard itu sama persis yang dilakukan senior manajernya di tim TF dulu. Sehingga, Richard kembali teringat pada saat hari pertama kali ia bertemu manajer Anna di musim panas tahun lalu.


Namun, kini Richard pun harus merayakannya sendirian, dan ia mau menyelesaikannya dengan ini. Membuang perasaannya. Ia bahagia selama 10 bulan terkahir, dengan proyek baru ini ia akan menyibukkan dirinya dan akan berusaha untuk melupakan manajer Anna.


Dan benar saja Richard pun mulai menyibukkan dirinya, hal itu terlihat ketika di kantor maupun di rumah ia tetap sibuk dihadapan komputernya, sampai-sampai pada saat berada di kantor ia tanpa sadar tertidur pada saat bekerja. Karena merasa begitu lelah, iapun tertidur dengan posisi duduk dihadapan computer sambil bermimpi jika dirinya menjadi direktur perusahaan.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2