Angel In The Office

Angel In The Office
Episode: 6


__ADS_3

...1.6 Saksi Bisu Diruangan Studio...


“Saya harus segera pergi karena rapat. Saya akan mengajarkan anda supaya anda bisa melakukannya tanpa ada saya.” Ucap pak Jo yang ternyata meminta Richard datang untuk itu.


Richard pun tercengang sehingga berkata dalam hati.


“Apa? Mana bisa saya melakukannya. Ini sih namanya sudah jatuh ditimpa tangga.” Ungkapnya dalam hati.


Orang itu menunjukkan alat pengatur rekaman kepada Richard dan mengajarkan Richard bagaimana cara menggunakannya.


“Manajer, ini sangat sederhana”


“Ini tombol record. Tekan ini lalu bicara. Setelah itu tekan tombol stop.” Tuturnya mengajari Richard.


“Kalau dilihat di tv, sepertinya ini harus dinaikkan dan diturunkan.?” Pungkas Richard sok tahu.


“Zaman sekarang teknologi sudah berkembang, jadi kita bisa atur ini nanti.” Jawab orang studio itu.


“Coba bicara. Lampunya menyala kan?” Sambungnya.


“Kalau lewat batas ini, artinya suaranya terlalu keras, jika begitu anda hanya perlu menurunkan yang ini.” Lanjutnya mengajarkan Richard secara terprinci.


“Agh, rumit sekali.” Ujar Richard mengeluh.


“Tidak kok, tinggal tekan tombol record and stop.” Ucap si orang studio mencoba meyakinkan Richard.


“Saya tidak mau tanggung jawab ya kalau rusak.” Tutur Richard mentakut-takuti.


“Anda hanya perlu cek suaranya terlalu keras atau tidak kedengaran, lihat tanda merah ini saja, mengerti kan?” Tutur si orang studio tetap berusaha meyakinkan Richard. Namun Richard tetap saja mentakut-takuti orang itu.


“Pokoknya saya tidak akan tanggung jawab.” Ucap Richard.


Dan akhirnya orang studio itupun betul-betul pergi sehingga Richard pun segera menghubungi Anna untuk memberitahukan.


“Manajer Anna, teknisinya pergi dan menyuruh saya untuk menangani mesin rekamannya.” Ucap Richard melalui telepon seluler yang tersambung dengan Anna.


“Apa?” Kaget Anna.


“Anda tidak apa-apa? Anda tahu cara mengoperasikan mesinnya?” Sambung Anna bertanya.


“Ya, semoga saja.” Jawab Richard sedikit ragu.


“Saya baru dapat kabar dari naratornya, katanya dia kecelakaan mobil. Dia minta maaf dan minta agar jadwalnya diganti.” Tutur Anna mengabari kepada Richard hal tersebut.

__ADS_1


“Saya menyuruhnya ke rumah sakit dulu, sekarang bagaimana ya?” Sambung Anna kebingungan.


Seketika pembicaraan lewat telepon pun harus hening, namun tiba-tiba saja Richard pun berkata:


“Kalau begitu kita saja yang lakukan.” Tuturnya.


“Apa?” Kaget Anna.


“Anda tangani mesinnya. Anda sudah belajar kan?”


Dan saya yang baca narasinya.” Ucap Anna.


“Wah, serius?” Tanya Richard ingin memastikan.


“Ya, kita bicarakan lagi di atas. Saya sedang menuju ke sana.” Ucap Anna buru-buru menghampiri Richard di ruangan studio.


Dan begitulah yang terjadi setelah mendapatkan kabar tentang narrator yang tidak bisa hadir, dan juga teknisi yang mengoperasikan rekaman studio juga ada rapat mendadak. Sehingga dengan sangat terpaksa Richard dan Anna yang harus menangani itu semua.


“Apa anda tidak ingin Lathan terlebih dulu?” Tanya Richard kepada Anna.


“Kita kan sudah membaca ini berkali-kali karena kita yang membuatnya.” Ucap Anna terlihat sangat percaya diri.


“Saya akan coba baca dulu sekali, tolong direkam. Setelah itu kita perbaiki lagi.” Sambung Anna.


Menurut Richard Anna sangat terampil ketika melakukan sesi latihan. Menurutnya, Anna seperti seorang profesional dan seperti orang yang sudah biasa melakukan hal itu. Sehingga, sangat disayangkan mereka harus menyewa orang untuk merekam yang pedahal Anna sendiri mampu melakukannya.


“Mari kita mulai.” Tutur Anna yang siap memulai rekaman. Sehingga, Richard pun menekan tombol rekamannya.


Anna pun menarik nafas dan membaca narasinya:


“Remember.” Ucap Anna sehingga Richard yang baru mendengar satu kalimat yang keluar dari Anna itupun tersentak kagum.


“Days are numbers, count the stars we can only go so far one day.” Sambung Anna membaca narasi tersebut.


“You’ll know where you are” Lanjutnya.


Tentu saja dengan suara indah Anna itu berhasil menyihir Richard menjadi seperti patung yang tak berdaya, seolah-olah Richard benar-benar tersihir oleh suara indah milik Anna yang jika diibaratkan dengan warna, warnanya seperti warna biru tua seperti lautan.


Bahasa inggris yang jelas dan tenang dengan nada yang indah, suara yang kuat dan disesuaikan dengan nada. Karena terpesona dengan suaranya tanpa Richard menyadari jika dia merekamnnya dengan hp nya sendiri.


Richard selalu berpikir kalau dia harus merekam ketika sedang ditagih hutang atau terjadi hal buruk. Tapi sekarang, dia menggunakan rekaman ini seperti sedang mengambil foto yang indah.


“Manajer Ann.” Tutur Richard dalam hati.

__ADS_1


“Kenapa anda sangat mempesona?”


“Kau sangat dekat, tapi juga sangat jauh.” Sambung Richard memuji Anna dalam hatinya.


Setelah menyelesaikan sesi rekaman, Anna pun menghampiri Richard untuk mendengarkan hasilnya.


“Uhh, teknisinya bisa mengolah ini semua kan?” Pungkas Richard ketika Anna sudah ada disampingnya.


“Untung bisa selesai lebih cepat dari yang saya duga. Pedahal tadi saya panik sekali.” Ungkap Anna merasa legah.


“Menurut saya, dibandingkan narrator yang kita sewa. Anda telah melakukannya jauh lebih baik.” Ucap Richard memuji.


Manajer Anna pun tersipu malu mendengar sanjungan Richard tersebut lalu berkata:


“Ah, dia kan profesional…” Tutur Anna malu-malu.


“Saya serius!” Ujar Richard menegaskan.


“Narator itu seperti murid universitas yang muncul di tv. Tapi anda seperti penyiar yang sudah berpengalaman.” Sambung Richard terus memuji sehingga dia pun hampir mengatakan:


“Saya sampai terp…” Dan tiba-tiba dia terkejut ketika Anna menatapnya dengan serius sehingga iapun mempelesetkan kata yang ingin ia ucapkan.


“Terkejut.”


Yang pedahal tadinya ia ingin mengatakan terpesona.


“Yang benar?” Tanya Anna.


“Dulu saya pernah ikut akademi untuk menjadi penyiar.” Sambung Anna.


“Oh, ya? Kenapa tidak dilanjutkan?” Tanya Richard berekspresi tak menyangka.


“keluarga saya tidak setuju, dan saat itu situasi tidak mendukung, jadi cukup sulit.” Jawab Anna dan kemudian melanjutkan:


Tapi kalau sudah mau berumur 40 tahun, ternyata semuanya menjadi lebih sulit.” Sambung Anna dengan ekspresi kesedihan diwajahnya.


Dan begitulah yang terjadi antara Richard dan Anna ketika diruangan studio, apalagi ruangan itu sangatlah sensitive terhadap suara. Rasanya mereka berdua sangat fokus terhadap satu sama lain.


Tempat yang sangat terisolasi dari luar, dan mereka masih punya sisa waktu. Meskipun mereka sudah menyelesaikan pekerjaan, tapi tanpa mereka sadari mereka pun mulai menceritakan hal pribadi.


“Rasanya seperti sedang berjalan di atas tali dan khawatir jatuh.” Tutur Anna ketika mulai menceritakan dirinya sehingga Richard pun mendengarkan dengan serius.


“Khawatir semua akan hancur dalam sekejap kalau saya melakukan suatu kesalahan.” Sambung Anna bercerita memakai perasaan.

__ADS_1


Rasanya semua cahaya, suara dan udara terhalang dari luar studio. Semuanya sangat tenang dan membuat Richard pun begitu menghayati cerita Anna Anna tersebut.


... Bersambung...


__ADS_2