Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Ingkar Janji


__ADS_3

Keduanya kini sudah terbaring dengan posisi saling membelakangi, setelah mereka masuk ke dalam kamar tak ada perbincangan apapun melainkan merebahkan tubuh untuk melanjutkan tidur malam.


Tapi sepertinya bukan rasa kantuk yang mereka dapat, tetapi rasa kantuk itu justru hilang entah kemana.


Udara dingin membuat Galvin dan Marisa terjaga dari tidurnya, ternyata tidur berdua malah menjadi sesuatu yang buruk untuk dilakukan.


Marisa menghembuskan nafas kasar, kini ia sedikit menyesal mengajak Galvin tidur di kamarnya.Tapi Marisa juga tak tega membiarkan Galvin tidur di atas sofa.


Hembusan nafas Marisa terdengar jelas di telinga Galvin, indera pendengarannya meyakinkan Galvin jika Marisa juga belum tidur sama seperti dirinya.


Sepasang suami-istri itu sama-sama tak mengeluarkan suara sedikitpun, keduanya benar-benar kaku di tengah kesunyian malam. Padahal mereka bisa saja mengisi waktu yang terkuras dengan obrolan ringan di malam hari.


"Ekhemmm.....!!"


Galvin berdehem cukup keras untuk meyakinkan jika Marisa masih terjaga sekarang, ada yang perlu galvin bicarakan dengan sang istri.


Suara Galvin membuat mata Marisa lebih terbuka lagi, lirikan matanya menoleh ke samping meski tetap tak bisa melihat tubuh suaminya.


"Kau sudah tidur?" Seru Galvin membelah keheningan.


Marisa dibuat tak percaya, ternyata Galvin sedari tadi tidaklah tidur. Marisa pikir hanya dirinya sendiri yang masih membuka mata di tengah malam seperti ini, tapi pria di sampingnya juga diam-diam masih dalam keadaan sadar.


"Be-belum..... " Lirih Marisa hampir tak terdengar.


Galvin membelalakkan mata saat mendengar jawaban dari Marisa, hatinya bersorak saat wanita itu mendengar pertanyaannya.


"Aku.... Ingin bertanya sesuatu" Ujar Galvin gugup.


"K-katakan saja..... "


Galvin terdiam sebentar, sebenarnya ini memang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah yang ingin ia bahas, tetapi mereka tak punya waktu banyak. Semakin cepat semakin baik, Galvin harus memanfaatkan waktu yang ada.


"Ini..... Tentang masalah gugatan perceraian"


Galvin menjeda kalimat sebelum ia melanjutkan perkataannya lagi.


"Apa kau..... Benar-benar serius melakukan itu?" Tanya Galvin dengan perasaan tak karuan, takut jika jawaban Marisa tak sesuai harapan.


Marisa membisu cukup lama, ia menelan ludah dengan susah payah mendapat pertanyaan tersebut.


Hatinya kembali redup memikirkan hal itu, kenapa Galvin harus bertanya masalah perceraian? Bukan ini yang Marisa inginkan!


"Aku tak pernah bercanda, Galvin.... "


Srettttt!!


Sayatan di lubuk hati Galvin begitu terasa hingga ke jantung utama ketika mendengar jawaban yang terucap dari bibir Marisa.


Galvin memejamkan mata menahan rasa sakit yang terdalam, bukan ini yang ia harapkan.


Lima menit mereka saling diam sampai dimana Marisa pun mengeluarkan suara terlebih dahulu.


"Apa sudah ditandatangani?" Tanya Marisa dalam posisi yang sama.


Galvin menghela nafas panjang, bolehkan ia tidak menjawab pertanyaan ini? Apa Marisa akan marah jika Galvin memilih diam? Ini terlalu sulit untuknya.


Sedangkan Marisa menunggu jawaban Galvin dengan perasaan was-was.


"Bagaimana jika aku tidak mau menandatangani surat itu?" Ucap Galvin menantang.


Marisa seketika berdiri dari tidurnya dan menatap ke arah Galvin dengan tatapan marah sekaligus terkejut.


"Apa maksudmu?? Kau sudah berjanji, Galvin!" ucap Marisa tak terima.


Galvin pun ikut beranjak dari tidurnya dan berdiri berhadap-hadapan dengan Marisa yang terhalang ranjang besar.


"Aku tidak pernah berjanji, Marisa. Kapan aku berkata seperti itu?" Ucap Galvin mengingatkan.


Dengan kekesalannya Marisa membisu mendapat pernyataan yang Galvin lontar.


"Walaupun kau tidak berjanji kau harus tetap menandatangani surat itu, Galvin!"


"Aku tidak harus menandatangani nya, orang yang menandatangani surat itu adalah orang yang setuju untuk bercerai. Jika aku tidak setuju maka aku tidak perlu melakukannya" Ucap Galvin yang mana semakin membuat Marisa tersulut emosi.


"Aku yakin kau juga ingin bercerai denganku, maka kau bisa tanda tangani surat itu secepatnya" Ujar Marisa menatap Galvin dengan tatapan tajam.


"Kenapa kau selalu berpikir sesuka hatimu, Marisa? Sejak kapan aku mengatakan jika aku ingin bercerai?"


"Kalau begitu kenapa kau tidak ingin bercerai? Apa alasanmu mempertahankan rumah tangga ini?! Katakan....! Karena aku sudah tidak tahan menjalani hubungan yang tidak jelas ini!!!" Ucap Marisa menggebu-gebu.

__ADS_1


Mendengar ungkapan Marisa Galvin semakin teriris mendengarnya, hubungan tidak jelas katanya?? Ya, Galvin mengerti kenapa Marisa mengatakan itu.


Bukannya menjawab Galvin justru berjalan mendekat ke arah Marisa, berjalan memutar ranjang yang menghalangi mereka hingga ia berhenti tepat di depan istrinya.


"Katakan bagian mana yang tidak jelas" Pinta Galvin.


"Semua..!! Hubungan kita tidak seperti layaknya suami istri pada umumnya.


Tidak ada pasangan suami istri yang hanya sibuk dengan urusannya masing-masing, tidak ada pasangan suami istri yang hanya diam jika bertemu padahal banyak yang harus mereka bicarakan, coba pikirkan Galvin apa hubungan kita layak disebut suami istri selama delapan tahun ini?!! Tidak Galvin... Tidak!!" Sentak Marisa dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Kita bisa perbaiki semuanya, Marisa. Kita bisa melakukannya dari nol" Tutur Galvin memberitahu.


"Untuk apa?! Semua sudah terlambat bagiku. Tidak ada perbaikan apapun, untuk kali ini aku ingin memikirkan hidupku sendiri delapan tahun sudah cukup bagiku" Ungkap Marisa dengan tekad bulatnya.


Galvin mematung ditempat, tak ada kesempatan kedua untuknya. Semua sudah terlambat untuk diperbaiki, Marisa mungkin sudah mendapatkan kebahagiaan diluar sana. Kini Galvin hanya terdiam dengan seribu penyesalan.


"Aku ingin kau menyebutkan dimana kekurangan ku, aku ingin tahu apa yang sudah aku perbuat hingga menyakiti perasaan mu begitu dalam" Suruh Galvin dengan nada yang terdengar dingin.


Marisa menarik nafas panjang dan mulai menyebutkan letak kesalahan suaminya.


"Kau tidak pernah menatapku, kau tidak pernah mau berdekatan dengan ku, kau selalu menghindari ku, mengacuhkan ku, kau juga tidak pernah berbicara padaku. Kau lebih mementingkan pekerjaanmu, sahabat-sahabat mu, perusahaan. Kau tidak pernah peduli padaku dan kau juga..... "


Ucapan Marisa tiba-tiba berhenti di kalimat terakhir, merasa ragu untuk menyebutkan yang satu ini. Apa tanggapan pria itu nanti?


"Dan aku juga apa...?" Tanya Galvin menunggu lanjutan kalimat Marisa.


Marisa menunduk malu, jari-jemari nya saling bertautan di bawah sana hingga membuat rasa penasaran pada Galvin.


Galvin terus menunggu sampai Marisa mulai membuka mulut dan mengeluarkan suara kecilnya.


"Dan kau juga.........


T-tidak pernah....... Menyentuh ku.... " Lirih Marisa sendu.


Bola mata Galvin membesar seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar, namun dengan cepat Marisa kembali berbicara untuk menjelaskan maksud perkataannya.


"Tapi kau jangan salah paham dulu, maksudku..... Aku..... Aku tidak bermaksud mempermasalahkan urusan seperti itu... Hanya saja... Aku... Aku.... "


CUP!


Belum sempat menjelaskan apapun saat itu juga Galvin langsung membungkam mulut Marisa dengan sebuah ciuman.


Galvin menciumnya!


Bibir itu menempel sempurna di bibir Marisa, terasa basah dan sangat terukir indah di rasanya.


Jantungnya ikut berdebar serasa ingin terlepas dari tempatnya.


Sedangkan Galvin terlihat menutup mata menikmati bibir Marisa sedalam-dalamnya seolah menyimpan memori ini untuk jangka waktu lama.


Ia menahan tengkuk Marisa lebih dekat membuat ciuman mereka menyatu dengan lekat.


Marisa Memberontak saat kesadaran muncul kembali, ia memukul bahu Galvin dengan keras berusaha menjauh dari sang pria agar berhenti mencium bibirnya.


Marisa mendorong dadaa bidang Galvin cukup kencang hingga membuat Galvin mundur beberapa langkah.


"Apa yang kau lakukan....?!!" Bentak Marisa tak terima.


"Memang kenapa? Kau marah saat aku tidak menyentuhmu dan sekarang saat aku melakukannya kau juga marah padaku" Tutur Galvin tak paham.


Marisa diam mendengar perkataan Galvin, kini kedua sama-sama mengeluarkan tatapan tajam. Namun tak lama raut wajah Galvin berubah menjadi sayu.


"Apa kau pikir aku tidak mau menyentuhmu selama ini, Marisa??"


"Tentu aku, mau! Tapi aku tidak berani mengatakannya, nyali ku terlalu kecil Marisa....!


Aku ingin menciummu, menyentuhmu, membuatmu menjerit dalam kukungan ku, aku mau itu semua..... Tapi aku takut, takut jika kau menolak.... "


Tesss!


Air mata Marisa pun jatuh mengalir di kedua pipinya, kata-kata Galvin sukses membuat Marisa tak bisa menahan rasa sesak yang dia rasakan.


Untuk pertama kalinya Marisa mendengar kata-kata berbeda yang begitu indah di telinganya hingga tanpa sadar Marisa mendekat dan mencium Galvin terlebih dahulu.


Galvin menyambut ciuman itu dengan hati yang bungah, ia mencium Marisa lebih liar dan menghisap benda kenyal itu kuat-kuat.


Marisa pun melumatt bibir Galvin dengan sangat agresif, ia mengalungkan lengannya di leher sang suami yang membuat mereka tak mempunyai jarak sedikitpun.


Tangan Galvin setia menahan pinggang Marisa agar perempuan tersebut tetap dalam posisi yang sama, keduanya saling merebut oksigen ditengah penyatuan bibir yang sudah lama sekali tidak mereka lakukan.

__ADS_1


Tangan Galvin perlahan menjalar ke bagian belakang tubuh Marisa dan meremass benda empuk dengan penuh hasrat.


"Eughh......!"


Marisa melenguh halus tatkala tubuhnya merasakan sentuhan Galvin di bagian sensitiff, dengan tak sadar Marisa menggigit kuat bibir bagian bawah sang suami melampiaskan rasa nikmat yang ada.


tak sampai disitu, tangan Galvin juga menjelajah hingga berhenti di dua gundukan yang terasa menempel dengan tubuhnya. ia pun meremass benda tersebut dengan tangannya yang berurat.


Sesaat Marisa melepas ciuman tersebut dan menatap wajah suaminya dengan mata sayu yang sudah terbalut oleh hawa *****.


Galvin seolah tak bisa menghentikan aktivitas nya ia kembali mendekat hendak mencium sang istri tetapi Marisa menahan tubuh si pria membuat lelaki itu kebingungan.


Tanpa diduga Marisa mengangkat kaos yang dipakai Galvin pertanda ia ingin melakukan lebih dari ini.


Galvin yang paham langsung membuka bajunya hingga kini pria itu bertelanjang dadaa di hadapan Marisa.


Marisa nampak tergoda melihat penampakan di hadapannya, kulit liat itu membangunkan hasrat Marisa yang sudah lama tak tersalurkan.


Jari-jari lentik Marisa mengelus perut Galvin yang berbentuk, enam persegi terpampang nyata di depannya.


Marisa mendongak melihat ekspresi Galvin yang memejamkan mata ketika merasakan tangan halus Marisa, sejujurnya Galvin sudah tak kuat menahan hasrat yang sudah bergelora.


Saat sentuhan itu tak terasa lagi barulah Galvin membuka mata, maniknya langsung bersitatap dengan Marisa.


Tanpa menunggu lama mereka kembali berciuman, tak pernah ada rasa puas untuk mengakhiri kegiatan tersebut.


Galvin pun melakukan hal yang sama, ia membuka tali pakaian Marisa sampai kimono itu terbuka dan menampakkan lekuk tubuh Marisa yang sangat menggoda.


Benda yang masih tertutup kain brenda itu membusung seakan menantang Galvin untuk tenggelam di dalam sana, pusaka nya pun dibuat mengeras dan memberontak ingin keluar.


Galvin lantas membuka seluruh penghalang tersebut dan terpampanglah dua buah dadaa marisa yang bulat nan sempurna.


Galvin seketika berubah menjadi singa yang kelaparan, ia begitu haus melihat daging segar di depan matanya yang sangat menggiurkan.


Dan saat itu juga Galvin langsung melahap habis benda tersebut silih bergantian, Marisa semakin menggeliat hebat merasakan sensasi luar biasa yang Galvin beri.


Kedua p*ting nya mengencang saat lidah Galvin bermain-main di sana.


Karena tak kuat dengan perlakuan Galvin Marisa dengan terpaksa menjambak rambut suaminya sebagai bahan pelampiasan.


"Emmhh....... G-galvin.....!"


Tak sempat Marisa berucap Galvin sudah membungkam mulutnya lagi, kemudian membawa wanita itu ke atas ranjang yang sudah menunggu peristiwa berikutnya.


Dengan sangat hati-hati Galvin merebahkan tubuh Marisa sambil terus mencecap lidah istrinya.


Ciuman itu turun ke leher jenjang Marisa dan menghisap kulit sang istri sampai terbentuk tanda merah di beberapa areaa.


"Ahhh..........! Galvin!"


Jeritan Marisa membuat Galvin berhenti dan menatap kembali wajah istrinya, tatapan sayu benar-benar sudah melekat di mata Galvin.


Marisa tersenyum manis, diusapnya wajah Galvin penuh kasih sayang serta kecupan lembut di kening si pria Marisa berikan.


Galvin memejamkan mata saat merasakan itu semua, hatinya menjadi hangat tatkala kecupan yang Marisa beri di keningnya membuat aliran darah Galvin berdesir hingga ke saraf paling dalam.


Mereka saling melempar senyum saat kecupan itu berakhir sebelum Galvin mundur dan melepas penutup terakhir Marisa.


Kini Marisa pun dalam keadaan tak tertutup apapun.


Mata Galvin memanas ketika melihat sesuatu yang mengusik jiwanya, Marisa menjadi malu kala Galvin menatap miliknya dengan tatapan seperti itu, ia pun berusaha menutupi sang mahkota dengan salah satu tangannya.


Tetapi Galvin lebih dulu menahan dan membuka kaki Marisa lebar-lebar, jarinya mulai mengelus bagian tersebut yang begitu mulus tanpa sehelai rambut pun.


Marisa mengigit jari ketika tangan Galvin menjelajahi areaa yang paling sensitiff pada dirinya.


Merasa tak tahan dengan godaan itu Galvin lantas menenggelamkan wajahnya dan mencecap segala sesuatu yang ada disana.


Marisa terlonjak dan mendesahh dengan kencang, tubuhnya seketika melemas tak berdaya. Ini terlalu menyiksa dirinya!


"Galvin.... Emmhh..... Ahh....!"


Hampir lima menit Galvin bermain-main di sana sampai akhirnya Galvin bangkit dan mulai membuka kancing celana beserta boxer yang masih dipakai nya.


Marisa terbelalak saat matanya menangkap sesuatu yang besar hingga membuatnya takut, ia menatap pada Galvin dengan tatapan ragu.


Galvin tersenyum miring dan mulai mengukung Marisa dengan tubuh besarnya.


"Jangan cemas, nanti kau akan terbiasa dengannya"

__ADS_1


Dan saat itu juga Marisa menjerit tatkala penyatuan yang sudah delapan tahun ini tak pernah mereka lakukan.


__ADS_2