Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Pilu


__ADS_3

Satu jam kemudian Marisa baru keluar dari kamar mandi, Marisa berjalan keluar dengan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya.


Saat ia keluar tatapannya langsung tertuju pada Galvin sudah berbaring membelakangi dirinya, entah Galvin sudah tertidur atau hanya memejamkan mata saja.


Langkah lemah Marisa berjalan ke arah lemari dimana semua pakaiannya diletakkan, ia mengambil satu pakaian tidur yang cukup tertutup guna menyembunyikan tanda merah di kulitnya. Sangat sulit bagi Marisa menghilangkan tanda itu, butuh beberapa hari agar bisa memudar.


Selepas menggunakan pakaian, Marisa lantas melangkah dan naik ke atas ranjang.


Galvin masih tak menyadari keberadaan dirinya, lelaki itu masih terus membelakangi Marisa.


Marisa menunduk lesu, air matanya menggenang lagi. Ia meremass jari-jari lentiknya yang bergetar, kejadian beberapa jam lalu masih terasa dibenak wanita itu.


Marisa segera menghapus air matanya, dengan sisa keberaniannya Marisa mendekat ke arah Galvin dan berbaring sambil memeluk sang suami dari belakang.


Jiwa Marisa lagi-lagi bergetar hebat, ia menangis kembali dalam posisi tersebut.

__ADS_1


Menyesal kenapa ia datang ke cafe dan dengan mudahnya mempercayai perkataan Mila.


Dan kenapa selama ini ia tak menyadari jika Abrian mencintai dirinya diam-diam?? Mungkin jika Marisa tahu pasti ia akan lebih menjaga jarak atau bahkan menjauh dari rekan kerjanya tersebut.


Namun, nasib sial kembali datang kepadanya. Tidak tahu kesalahan apa yang selama ini Marisa perbuat sampai tiba-tiba kejadian yang hampir saja membuat semuanya kacau datang menghantam Marisa dan rumah tangganya.


Merasakan tubuh Marisa menempel pada dirinya Galvin lantas membuka mata, tetapi ia sama sekali tak bergerak dan memilih diam dalam posisi membelakangi sang istri. Bayang-bayang dimana Abrian mencumbu Marisa masih terlintas jelas di otaknya, hatinya sakit dan robek hingga berkeping-keping.


"Hiks......... Maafkan aku.......... Hiks........


Kau pasti kecewa............. Hiks........ Maaf.... Maaf........ " Isak tangis Marisa menggema di ruangan tersebut, tak peduli apakah galvin mendengarnya atau tidak. Namun Marisa tahu Galvin tengah dilanda amarah yang besar.


Perlahan tangis Marisa memelan, dengkuran halus pun terdengar menandai jika Marisa sudah tidur dengan pulas.


Berbeda dengan Galvin yang masih terjaga, dengan pelan-pelan ia melepas lengan Marisa yang memeluk pinggangnya.

__ADS_1


Galvin pun berbalik dan menatap wajah sang istri, mata sembab akibat terlalu lama menangis juga wajah pucat yang melekat membuat Galvin tercubit melihatnya.


Tadi Galvin sudah menelpon seseorang untuk mengurusi masalahnya dengan Abrian, dan meski kini Abrian sudah ditangani tetapi hal itu tak membuat Galvin merasa urusannya telah selesai.


Diusap nya pipi Marisa dengan lembut dan penuh kehati-hatian, ia tak mau sampai wanitanya terusik apalagi sampai terbangun.


Usapan itu perlahan turun dan berhenti di leher jenjang Marisa, areaa kulit itu banyak yang memerah, bekas cumbuan lelaki lain tercetak nyata di tubuh istrinya.


Mata Galvin tiba-tiba terasa panas, penglihatannya pun mulai ditutupi oleh cairan bening yang menggenang.


Tubuhnya meremang ketika dirinya tak kuasa melihat pemandangan itu.


Perlahan usapan tersebut menjauh saat Galvin bangkit dan memilih berjalan ke arah balkon.


Lelaki itu duduk di kursi yang berada disana, tertunduk lemah sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan.

__ADS_1


Menangis keras ditengah-tengah dinginnya angin malam, ia menyesal......... Sangat...... Menyesal...... !!


Menyesal karena hingga saat ini pun ia tak mampu menjadi suami yang becus untuk Marisa.


__ADS_2