Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Anniversary


__ADS_3

Hari demi hari terlewati, tak terasa usia kandungan Marisa sudah menginjak sembilan bulan. Banyak sekali lika-liku hidup yang ditempuh dalam setiap detiknya.


Perjalanan tak hanya sampai di titik pengucapan janji sehidup semati, rintangan terus menanti dikala sesuatu yang sulit sekali pun.


Beberapa kali rasa ingin menyerah menghampiri, tetapi diwaktu bersamaan justru memaksa untuk tetap bertahan.


Air mata dan darah sudah tak bisa dihitung lagi, bahkan ketika keduanya keluar secara bersamaan namun jika takdir berkata bukan saatnya, maka menunggu adalah hal terbaik untuk dilakukan.


Detik jam dinding berdenting silih bergantian, menandakan kapan waktunya tiba untuk masuk kedalam relung kebahagiaan.


Sembilan tahun sudah galvin dan Marisa menempuh perjalanan cinta yang tersembunyi, tanda cinta yang sempat menghilang tak dianggap itu tiba-tiba muncul ketika akan terjatuh dan pecah hingga berkeping-keping.


Bukan saja soal waktu yang menjadi pemicu suatu masalah, akan tetapi ikatan antara dua hati yang menjadi satu namun tak ingin mengakui terlebih dahulu.


Jutaan lembaran tertulis pun takkan cukup untuk menceritakan laju mundur kehidupan sepasang manusia itu, ribuan tinta hitam hingga merah hanya bisa mengisi beberapa lembar di atas kertas putih bergaris biru.


Namun kini, asap hitam yang menutupi masa depan perlahan memutih bak embun di pagi hari.


Senyuman yang sudah lama menghilang kini terbit kembali, mengundang senyum lain yang melihat lengkungan bibir itu, tertawa bersama hingga sakit mendera.


Kepingan-kepingan daun yang berguguran menjadi saksi berapa lama penantian menanti, hingga tak ada lagi isak tangis yang terdengar sampai menusuk ke dalam hati.


***


"Happy anniversary sayang..... I love you, tetaplah di sisiku.... Aku mencintaimu" Ucap. Galvin dibalik layar ponsel milik Marisa.

__ADS_1


"Happy anniversary too Galvin.... I love you, sayang sekali kita tidak bisa merayakannya bersama-sama.... Cepatlah pulang aku merindukan mu" Ujar Marisa membalas.


"Aku juga sangat merindukanmu, aku akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan ku di Amrik, bersabarlah sayang.... "


Marisa tersenyum lembut, sambil terus mengusap perutnya yang sudah mengembung besar.


"Baiklah.... Hati-hati disana, kabari aku juga akan pulang"


"Tentu, bagaimana keadaan disana? Apa baik-baik saja?" Tanya Galvin.


"Ya, disini baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir Galvin"


"Lalu bagaimana dengan bayinya? Dia tidak merepotkanmu kan?" Seru Galvin.


"Bayi? Tidak, tidak sama sekali... Dia tidak merepotkan ku. Dia sangat pintar dan perhatian" Sahut Marisa memperlihatkan perut buncit nya.


Pekerjaan lagi-lagi membuat Galvin harus pergi jauh dari sanak keluarga, sedih?? Bahkan rasa sedihnya bertambah berkali-kali lipat.


Galvin tak mau sampai melewatkan hari dimana Marisa melahirkan nanti, ia ingin memberi kekuatan di samping wanitanya sekaligus menjadi orang pertama yang menggendong anaknya nanti.


"Apa kau mengalami kontraksi hebat seperti kemarin-kemarin?"


"Emm...... Sepertinya tidak" Jawab Marisa.


"Syukurlah, jika kau mengalaminya lagi segera hubungi aku. Aku akan secepatnya memesan tiket pesawat paling awal untuk pulang" Ujar Galvin pada Marisa.

__ADS_1


"Tenanglah, jangan panik.... Kau juga harus konsentrasi bekerja disana. Lagipula disini banyak orang-orang yang akan membantuku jika terjadi sesuatu, jadi kau tenang saja ya... "


"Aku tidak bisa, pikiranku selalu tertuju padamu... Tapi aku akan berusaha agar bisa berada disana saat kau melahirkan" Kata Galvin meyakinkan sang istri.


"Baiklah terserah kau saja, aku tidak akan memaksamu... " Ucap Marisa diiringi tawa kecil.


Melihat Marisa yang tertawa rasa cemas Galvin pun mulai berkurang.


"Ya sudah kalau begitu aku akan tutup telponnya ya, segeralah tidur jangan bergadang terlalu malam" Galvin mengingatkan Marisa lebih posesif dari biasanya.


"Baiklah.... Selamat malam, love you... "


"Selamat malam juga, love you more.... "


Dan panggilan mereka pun berakhir saat itu juga.






Maaf Kalau Misalnya Langsung Di Skip, Soalnya Akan Terkesan Bertele-tele Kalau Diceritakan Panjang Lebar. Makanya Mamie Langsung Ceritakan Sembilan Bulan Kemudian. Pantengin Terus Episode Selanjutnya Ya 🥰

__ADS_1


Love❤


__ADS_2