
Setibanya di perusahaan Galvin langsung disuguhi oleh berbagai pekerjaan yang menumpuk, Galvin berdecak saat melihat tumpukan berkas yang berjejer di meja kerjanya.
Bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian.
Pepatah itulah yang seperti cocok untuk Galvin saat ini, sudah hampir seminggu ia melupakan pekerjaannya kini Galvin kembali ke dunia yang sebenarnya.
Ingin rasanya ia melempar semua kertas-kertas tersebut, tapi rasanya tidak mungkin. Bagaimana ia akan menghidupi keluarga? Dan lagi ada ratusan orang yang bergantung hidup padanya.
Tok Tok Tok
"Permisi Tuan.... " Terlihat sekertaris Jenn masuk sambil membawa beberapa berkas.
Wanita itu menunduk hormat pada sang atasan.
"Saya membawa berkas yang harus Anda tanda tangani hari ini, Tuan." Ucap sekertaris Jenn meletakkan benda itu di atas meja Galvin.
Galvin sedikit menganga, dengan pekerjaannya yang sudah banyak ini ia merasa tak sanggup untuk menyelesaikannya. Tetapi sang sekertaris justru membawa lagi beberapa pekerjaan untuk ia beresi.
"Kenapa banyak sekali?! Apa tidak bisa di tunda sampai besok?" Tanya Galvin.
__ADS_1
Namun sekertaris Jenn menggelengkan kepalanya.
"Emm... Tidak bisa, Tuan. Seharusnya sudah dari dua hari yang lalu jadi hari ini sudah masuk deadline, Tuan" Jelasnya.
Galvin menghembuskan nafas berat, jika seperti ini sudah dipastikan jika ia harus lembur sampai malam.
"Hahhh....... Baiklah, kau bisa kembali bekerja"
"Baik Tuan, saya permisi" Sekertaris Jenn pun berlalu dari sana.
Tanpa menunda-nunda waktu lagi Galvin lantas memulai aktivitas nya yaitu bergelut dengan pekerjaan.
***
Tadi malam Ibunya menelpon dan mengatakan jika adik lelakinya itu harus secepatnya membayar uang bulanan sekolah agar bisa mengikuti ujian.
Mau tak mau Nirmala pun memutuskan untuk melemburkan diri.
Nirmala memang orang yang merantau ke Jakarta, meski masih satu pulau dengan kota asalnya tetapi baru kali ini ia menginjak kaki di Ibukota untuk mencari nafkah sehari-hari.
__ADS_1
Ibunya berjualan di rumah, biasanya setiap hari Nirmala membantu sang Ibu berjualan. Tapi kebutuhan ekonomi semakin meningkat hingga menuntut perempuan itu untuk mencari suatu pekerjaan dengan upah yang lumayan besar dengan ijazahnya yang hanya lulusan SMA.
Sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Nirmala yang baru saja mengepel lantai 10 kini masih harus berlanjut mengelap lantai gedung paling atas.
Tubuhnya sudah sangat lelah, apalagi ia belum sempat makan kembali membuat wajahnya terlihat pucat pasi. Namun Nirmala ingin buru-buru menyelesaikan pekerjaannya agar ia bisa istirahat di kossan tempat sekarang ia tinggal. Sebisa mungkin Nirmala menguatkan tubuhnya.
Nirmala pun menekan tombol lift paling atas dan masuk ke dalam sana.
Sedangkan disisi lain Galvin yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya langsung bersiap-siap untuk pulang,
Ia menggandeng tas kerja dan keluar dari ruangan, pria itu berdiri di depan pintu lift.
Beberapa detik kemudian pintu lift itu terbuka lebar, namun ketika kaki Galvin akan melangkah seketika ia berhenti saat melihat seseorang di dalam lift tergeletak tak berdaya.
Mata Galvin terbelalak lebar, ia pun langsung masuk dan menepuk-nepuk orang tersebut bermaksud membangunkan nya.
Tapi tunggu dulu! Sepertinya ia kenal orang itu.
Wanita berbaju biru itu tak lain adalah Nirmala. Ya, dia orangnya!
__ADS_1
Dengan cepat galvin menekan tombol lantai satu, kemudian mendekat lagi pada seseorang yang tengah terbaring pingsan.
Galvin mulai bingung sekarang, saat lift sudah terbuka akhirnya Galvin pun mengangkat tubuh Nirmala dan memutuskan membawa pegawainya ke rumah sakit terdekat.