
Pagi menjelang.....
Sinar mata hari kian menyusup melewati jendela transparan dan menyinari seisi kamar.
Cahaya itu membangunkan seorang wanita yang sedang tertidur dengan pulas, perempuan tersebut terusik dan mulai membuka matanya.
Bola mata cantik itu mengedar ke penjuru ruangan.
Ia bangun dengan jiwa yang belum sepenuhnya menyatu.
Marisa menatap pada jam dinding yang bergantung, kedua jarum tersebut berdiam di angka delapan.
Matanya membulat tak percaya, ia pun menoleh ke samping ranjang yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya.
Marisa mendadak tidak karuan, ia pun beranjak lalu keluar dari kamar.
Marisa melangkah cepat menuruni anak tangga sembari mencari-cari sosok suaminya, suasana rumah tampak sepi, para pembantu pun sepertinya sudah kembali ke belakang.
Marisa lantas berjalan ke arah luar, ketika sampai di depan pintu utama saat itu pula Galvin berjalan hendak masuk ke rumah.
Mereka pun saling pandang dibuatnya, kaki Marisa pun spontan berhenti dan menatap lama wajah sang suami.
Namun dengan cepat Galvin mengalihkan pandangan guna menetralkan suasana yang terasa canggung.
Ia berjalan mendekat ke arah Marisa.
"Kau sudah bangun?" Tanya Galvin basa-basi.
__ADS_1
Sontak Marisa menatap tak percaya, secerah kehangatan pun muncul di benaknya.
"I-iya...... Aku kesiangan. Emm....... K-kau darimana?"
"Aku baru saja mengantarkan Devano ke sekolah" Jawabnya.
"Ohhh...... " Ucap Marisa ber oh ria.
"Ya, sebaiknya kau segera mandi setelah itu sarapan. Aku akan menyuruh pelayan menghangatkan makanan untukmu" Ujar Galvin melanjutkan langkahnya.
Marisa mengekor dari belakang, sikap Galvin yang terlihat biasa-biasa saja justru membuat Marisa khawatir. Tidak mungkinkan Galvin melupakan kejadian semalam kan? Bahkan lelaki itu terlihat marah besar tetapi kini justru seolah tak terjadi apa-apa.
Marisa terus mengikuti Galvin hingga masuk ke dalam kamar, sesampainya disana wanita itu hanya diam dengan kebingungan yang melanda.
"Ada apa Marisa??" Tanya Galvin heran.
Emm.... T-tidak ada, aku.... Aku akan mandi dulu" Merasa salah tingkah Marisa akhirnya memilih masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.
***
Seusai sarapan Marisa kembali mencari-cari keberadaan Galvin, hari ini Galvin terlihat tidak pergi ke kantor. Mungkin saja Galvin masih lelah karena baru pulang dari Australia malam tadi hingga memutuskan untuk bekerja di rumah.
Namun, sebelum menemui suaminya di ruang kerja Marisa terlebih dahulu membuat secangkir kopi untuk dibawa ke ruangan tersebut.
Setelah selesai membuat racikan kopi Marisa kemudian membawa minuman itu ke lantai dua.
Marisa menarik nafas panjang guna menguatkan mentalnya, tangannya mulai terangkat untuk mengetuk pintu, barulah ia masuk ke dalam sana.
__ADS_1
Clekkk.....
Galvin yang tengah sibuk dengan pekerjaannya seketika terhenti saat melihat Marisa masuk.
Wanita itu meletakkan gelas di meja dan ikut duduk di sofa bersebelahan dengan sang suami.
"Terimakasih, tapi seharusnya tidak usah repot-repot" Seru Galvin pada Marisa.
"Tidak apa-apa, sama sekali tidak merepotkan kok.
Oh ya, emm... Apa kau sangat sibuk sekarang??"
"Tidak juga, ada apa?" Tanya Galvin sembari meletakkan berkasnya.
Marisa menghembuskan nafas lega, ia lantas berkata kembali.
"Ada yang ingin aku bicarakan.
Tapi... Jika kau masih sibuk kita bisa bicarakan nanti" Tambah Marisa.
"Kau ingin bicara apa?"
"Kau sungguh sedang tidak sibuk?? Aku tak mau menganggu mu, lebih baik kau selesaikan dulu pekerjaanmu" Marisa mencoba mengulur waktu, ia mendadak merasa degdegan memulai pembicaraan.
"Aku sudah bilang aku tidak terlalu sibuk sekarang, katakan saja apa yang ingin kau sampaikan?" Desak Galvin.
"Baiklah, ini........... Soal kemarin malam"
__ADS_1