Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Menemani


__ADS_3

Di rumah Marisa masih membuka matanya, sedari tadi ia menunggu-nunggu kepulangan Galvin. Tetapi lelaki itu tak muncul jua.


Kegelisahan mulai muncul menguasai jiwa Marisa, rasa cemas sudah sangat terlihat dari raut wajahnya.


Ia berusaha untuk menghubungi Galvin, tetapi lelaki itu tak mengangkat satu pun panggilan telepon darinya. Meski tadi sore Galvin sudah memberitahu jika ia akan lembur sampai jam sepuluh malam namun hampir satu jam berlalu suara mesin mobilnya pun belum juga terdengar.


Marisa berdiri di dekat jendela, memantau mobil sang suami berharap segera pulang ke rumah.


Jika dulu Galvin belum pulang hingga dini hari Marisa tak akan peduli dimana lelaki itu akan tidur, tetapi saat ini keadaan sudah berbeda. Ia akan selalu menanti-nanti kepulangan suaminya meski hingga pagi menjelang.


"Apa malam ini Galvin akan menginap di kantor ya? Tapi jika iya kenapa dia tidak memberitahu ku?" Gumam Marisa bingung.


Lima belas menit Marisa menatap ke luar jendela tetapi tanda-tanda kedatangan Galvin belum juga terlihat, ia pun kembali berjalan ke arah kasur.


Perlahan Marisa membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ia akan menunggu Galvin meski dalam keadaan tertidur sekalipun.


***


Pukul satu pagi Nirmala mulai membuka matanya, kepalanya terasa pening dan pandangannya kabur.


Ekor matanya melirik kesana kemari merasa sesuatu yang asing baginya.


Ketika kelopak mata Nirmala sudah terbuka dengan sempurna, ia pun menyadari jika ia sedang berada di sebuah rumah sakit.


Seketika ia panik, Nirmala pun berusaha bangkit dari brankar.


Clekkk....


"Kau sudah sadar?" Suara seseorang membuat Nirmala terlonjak, ia menatap ke arah sumber suara dan begitu terkejut saat melihat Galvin ada disana.


"T-tuan Galvin?" Cicit Nirmala tak percaya.


Galvin mendekat dan memberikan sebuah kantung kresek yang berisikan beberapa makanan.


"Dokter bilang kau kelelahan, sepertinya kau belum makan sejak siang. Ini makanlah" Ucap Galvin.


Nirmala menatap benda itu dan membuka isinya, ada roti dan juga susu serta beberapa buah-buahan.


Nirmala menoleh kembali pada Galvin, ia masih bingung dengan apa yang terjadi padanya.


"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku ada disini?" Tanya Nirmala.


"Tadi kau pingsan di lift, jadi aku membawamu ke sini" Jawabnya.


Bola mata Marisa membola mendengar itu. Bukan karena mengetahui dirinya pingsan akan tetapi karena mendengar jika Galvin yang membawanya kemari.


Apa ia tidak salah dengar? Galvin membawanya ke sini? Itu berarti....

__ADS_1


"T-tuan.... Menggendong saya?" Tanya Nirmala memastikan.


"Tentu saja, menurutmu siapa yang akan membawamu kesini jika bukan aku yang mengangkat tubuhmu?!" Tutur Galvin.


Tiba-tiba Nirmala merasa terbang ke angkasa, mendengar jika lelaki yang disukainya dengan suka rela membawanya hingga ke rumah sakit. Apa Galvin benar-benar cemas melihat dirinya yang sedang pingsan?


Astaga.... Ia sangat ingin melihat wajah panik itu!


"Apa ada keluarga atau kerabat yang bisa dihubungi? Aku tidak bisa terus berada disini, aku harus pulang" Seru Galvin membuyarkan Nirmala.


Nirmala menunduk sedih, bukan karena tidak ada siapapun yang bisa menemaninya. Tetapi ia sedih karena Galvin harus segera pulang, padahal ia baru tersadar beberapa menit yang lalu.


"Tidak ada, Tuan. Keluarga saya semuanya di bandung, saya merantau kesini" Lirih Nirmala sendu.


Galvin semakin bingung saat mengetahui hal tersebut, bagaimana ia bisa meninggalkan salah satu karyawan nya? Sedangkan rumah sakit pasti membutuhkan satu orang kerabat dari pihak pasien.


"Tapi aku harus pulang, istriku pasti sudah menunggu"


"Tuan....


Tidak bisakah untuk hari ini saja Anda menemani saya disini? Saya tidak punya siapa-siapa di Jakarta" Pinta Nirmala memohon, ia benar-benar tidak ingin Galvin pergi.


Galvin tidak menjawab, ia merogoh ponselnya untuk menelpon Marisa. Saat ia menyalakan ponsel ternyata sudah banyak panggilan dari istrinya yang tidak terjawab.


"Astaga.... Bagaimana aku bisa ceroboh seperti ini?!"


Dengan cepat Galvin keluar dari sana dan mencoba menghubungi nomor Marisa.


"Hallo? Galvin itukah kau?"


"Hallo, iya Marisa ini aku. Maaf menganggu tidurmu"


"Kau dimana sekarang?" Ucap Marisa yang langsung menanyakan keberadaan Galvin.


"Aku...... Aku di rumah sakit"


"APA?!!


Apa yang terjadi??? Kau kenapa???" Teriak Marisa dari balik sambungan telepon.


"Tidak, aku tidak apa-apa.


Hanya saja.... Salah satu pegawai ku pingsan di kantor, jadi aku membawanya kesini.


"Oh ya?? Syukurlah jika bukan dirimu......" Terdengar hembusan nafas lega disana.


"Lalu bagaimana kondisi sekarang.?" Tanya Marisa.

__ADS_1


"Iya, dia sudah sadar sekarang"


"Lalu kenapa kau belum pulang?"


Galvin terdiam sebentar, ia berusaha menyusun kata-kata untuk menjelaskan kejadiannya.


"Begini, tadinya aku juga ingin pulang. Tapi ternyata dia tidak punya keluarga di sini, semua kerabatnya ada di bandung. Jadi... Aku masih bingung bagaimana meninggalkannya" Ujar Galvin bimbang.


"Siapa orangnya? Apa dia perempuan?"


Mendapat pertanyaan itu Galvin jadi takut untuk menjawabnya, takut jika Marisa salah paham jika memang pegawainya adalah seorang wanita.


"I-iyaa..... "


Tak ada tanggapan apapun dari Marisa dalam beberapa saat, Galvin pun menjadi gelisah dibuatnya. Ia terus menunggu sang istri berbicara.


"Emm.... Baiklah, kalau begitu.... Temani dia. Dia pasti butuh seseorang saat ini... "


"Tapi, kau.... "


"Aku tidak apa-apa, dia lebih membutuhkan mu sekarang. Jangan terlalu memaksa jika lelah, aku tutup telponnya ya" ucap Marisa yang terdengar kecewa, tetapi sebisa mungkin ia menutupi kekecewaan itu.


Galvin hanya bisa menghela nafas panjang, jika saja bukan ia yang menemui Nirmala dalam keadaan pingsan ia pasti tidak ada ada di tempat ini.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Segera tidur, aku akan pulang secepatnya..."


"Baik, selamat malam Galvin... "


"Selamat malam juga"


Tuttt............


Sambungan telpon pun berakhir, Galvin memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana kemudian masuk ke dalam ruang inap.


Nirmala menjadi harap-harap cemas, di dalam hatinya ia berdoa agar Galvin tetap berada disini.


"Makanlah makanan itu, setelah itu istirahat kembali. Besok kau baru boleh pulang, aku akan disini menemanimu..... "


Nirmala bagai jatuh di atas tumpukan bunga, kini harapannya terkabul dan di dengar oleh sang Pencipta, entah Nirmala harus menyebut ini sebuah kesialan atau keberuntungan. Ya pasti dalam keadaan sakit hatinya berbunga-bunga.


"Benarkah Tuan...??"


"Ya.. " jawabnya singkat.


"Terima kasih banyak Tuan, terima kasih... "


Galvin mengangguk kemudian memilih duduk di sofa yang tak jauh dari sana, ia melipat kedua tangannya sembari memejamkan mata yang sudah terasa berat.

__ADS_1


Nirmala dengan hati yang tengah berbahagia lantas memakan makanan yang dibawa Galvin sambil terus memandang ke arah pria itu.


Jika seperti ini ia lebih memilih sakit saja supaya bisa lebih banyak waktu berduaan dengan atasannya tersebut.


__ADS_2