Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Dipecat


__ADS_3

"Bu Sri tolong bantu aku...... Aku tidak mau di pecat dari sini....... Bantu aku bu Sriiii........ " Nirmala menggenggam tangan atasannya seraya memohon agar wanita tua itu membantu dirinya.


"Aku tidak tau apa aku bisa menolongmu atau tidak, tapi yang aku tau jika Tuan Galvin ataupun Tuan Martin sudah berbicara maka perintahnya tidak bisa diubah lagi" Ucap wanita berpakaian biru itu.


Nirmala menangis ketakutan, ia harus bagaimana?? Jika ia dipecat apa yang harus dia katakan pada keluarganya disana? Bagaimana caranya agar ia tidak dipecat?? Nirmala tidak mau!! Ia ingin tetap bekerja disini.


"Bu Sri tolong bujuk tuan martin... Aku yakin bu Sri bisa, tolong bantu aku bu... Kalau aku dipecat bagaimana nasib keluargaku?? Aku mohon bu.... Hiks.... " Nirmala menangis penuh kepedihan, ia sangat menyesal telah menyinggung seorang Galvin pemilik perusahaan ini. Awal untuk berniat menghibur lelaki itu Nirmala justru berujung hal yang sama sekali tidak pernah ia duga.


"Sudahlah Nirmala, jangan menangis. Aku akan coba berbicara pada Tuan Martin, siapa tau beliau berkenan untuk membujuk Tuan Galvin agar tidak jadi memecatmu.


Sekarang kau tenangkan dirimu dulu, dan berdoalah semoga kau tidak benar-benar dipecat dari perusahaan ini" Setelah berkata demikian Ibu Sri pun pergi dari pantry meninggalkan Nirmala yang masih menangis.


***

__ADS_1


Di ruangan asisten Martin terlihat Ibu Sri tengah berbicara serius dengan orang kepercayaan Galvin itu.


Sebagai kepala cleaning servis Ibu Sri sebenarnya merasa kasihan melihat Nirmala yang dikeluarkan padahal gadis itu masih beberapa bulan bekerja di sini, apalagi mereka hanya tergolong orang berkecukupan, bisa dibayangkan hidupnya pasti akan lebih susah jika tidak bekerja.


Maka dari itu Ibu Sri berniat untuk membujuk Martin selaku asisten dari Galvin.


"Saya sebagai kepala cleaning servis sangat memohon maaf atas kesalahan yang dilakukan orang bawahan saya, Tuan Martin. Tapi saya mohon agar Nirmala diberi kesempatan untuk tetap bekerja disini, saya jamin dia tidak akan melakukan kesalahan lagi" Bujuknya pada Martin.


"Bu Sri saya rasa saya tidak bisa membujuk Tuan Galvin, jika saja office girl bernama Nirmala itu hanya berurusan dengan karyawan mungkin bisa saja saya memerintah bu Sri untuk sekedar menegur.


"Tapi Tuan Martin, Nirmala tidak bermaksud membuat Tuan Galvin marah. Sebenarnya niatnya baik tapi mungkin Tuan Galvin salah paham" Bu Sri masih terus membujuk Martin.


"Entahlah bu Sri, Tuan Galvin sendiri yang memintaku untuk memecatnya.

__ADS_1


Aku pun tidak bisa berbuat banyak" Lirih Martin memberi pengertian.


Bu Sri menghela nafas berat, pegawai kecil sepertinya bisa apa? Ia pun bisa saja dipecat jika terlalu bersikeras membela Nirmala.


"Baiklah jika memang seperti itu, saya harap Tuan Martin masih bisa mempertimbangkan Nirmala.


Saya permisi Tuan... " Bu Sri pun pada akhirnya menyerah, ia berlalu dari ruangan Martin dan kembali ke pantry.


Disana Nirmala langsung menyerbunya dan bertanya.


"Bagaimana bu?? Aku tidak jadi dipecat kan? Aku masih tetap bekerja di kantor ini kan bu??" Seribu pertanyaan Nirmala lontarkan dengan penuh harap.


Dengan lesu Ibu Sri menggelengkan kepala, diikuti air mata yang keluar membasahi pipi wanita muda di hadapannya.

__ADS_1


"Buuu...... Hiks..... Aku harus bagaimana... Aku tidak mau dipecat....... Hiks.... " Jerit Nirmala mengadu, kedatangan bu Sri ternyata masih belum memberikan berita baik, Nirmala semakin dibuat menangis.


"Maafkan aku Nirmala..... Aku tidak bisa melakukan apapun..... " Ucap bu Sri sembari memeluk tubuh Nirmala ke dalam pelukannya.


__ADS_2