Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Bunga Tidur


__ADS_3

"TIDAAAAKKKKKKKKK....!!!"


Seketika Marisa langsung terbangun dari mimpinya, nafasnya memburu tatkala mimpi buruk tiba-tiba saja menghampiri Marisa.


Marisa menatap sekitar, ternyata ia tertidur di ruangannya. Marisa memegang dadaa kirinya yang berdetak kencang.


Tatapan Marisa beralih pada perutnya yang besar, ia mengusap bagian itu. Mimpi tadi benar-benar menakutkan! Marisa tidak bisa membayangkan jika mimpi itu berubah jadi kenyataan, ia tak mau kehilangan bayinya.


Keringat dingin pun membanjiri dahi Marisa, ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga.


"Astaga!! Sudah berapa lama aku tidur?!"


Marisa pun cepat-cepat keluar dari sana, ternyata Pak Anwar masih menunggu Marisa di dalam mobil.


Ia masuk ke dalam kendaraan itu dan meminta maaf karena telah membuat supirnya tersebut menunggu lama.


"Maaf Pak Anwar saya tiba-tiba ketiduran"


"Ah tidak apa-apa Nyonya, saya tau Nyonya pasti kelelahan hingga ketiduran. Apakah kita pulang sekarang??" Tanya Pak Anwar memaklumi atasannya.


"Ya, kita pulang sekarang"


Pak Anwar pun akhirnya melajukan mobil itu menuju arah pulang.


***


Dua hari kemudian....

__ADS_1


"Mah kapan bayinya lahir? Devano tidak sabar mau lihat" Tanya Devano saat Marisa hendak menidurkan putranya.


"Sabar sayang, sebentar lagi bayinya akan lahir. Devano do'akan supaya bayinya sehat ya" Ucap Marisa sembari mengelus rambut devaTno.


"Iya mah, Devano ingin cepat-cepat main dengan adek bayi. Devano ingin mengajaknya main kapal-kapalan"


"Boleh, nanti mamah belikan mainannya"


"Asyikkkk......... Terimakasih mah" Ujar Devano senang, ia langsung memeluk tubuh Ibunya dengan erat.


"Sama-sama sayang, sekarang tidur ya... "


"Iya mah... "


Sepuluh menit kemudian Devano sudah tidur dengan pulas, Marisa menyelimuti tubuh sang putra sebelum ia pergi dari sana menuju kamarnya.


Ia lantas masuk ke dalam kamar mandi dan menduduki tubuhnya di closet duduk, namun ketika Marisa membuka celana dalammnya ia mendapati darah segar di dalam kain itu.


Mata terbelalak dan langsung berteriak memanggil pelayan di rumah.


"YANTIIIIIIIIII............... BIBIIIIIIIIIIII.......... "


Beberapa kali Marisa memanggil akhirnya semua pelayan berlari ke kamar Marisa.


"Nyonya ada apa??"


"I-ini...... " Marisa menunjukkan darah itu pada seluruh pelayan yang ada.

__ADS_1


Semua orang yang berada disana langsung panik, dengan cepat mereka membantu Marisa dan membawanya ke rumah sakit.


***


Di rumah sakit semua keluarga sudah berkumpul, mereka menemani Marisa yang sudah pembukaan tiga.


Kedua orang tua Marisa yang sudah pulang dari Bali pun datang dan menemani putri kesayangan disana bersama dengan Arini sang besan.


"Apakah kamu merasakan sakit, nak?" Tanya Ibunda Marisa.


"Tidak bun, hanya mulas saja" Kata Marisa.


"Ibu sudah menelpon Galvin, sepertinya dia akan langsung pulang. Semoga saja ada tiket penerbangan paling awal" Seru Arini memberitahu.


"Tidak apa-apa bu, Marisa tidak ingin menyusahkan Galvin. Kasihan dia pasti kelelahan nanti"


"Sudah tidak apa-apa, bagaimana pun dia harus menemani istrinya melahirkan" Ujar Arini.


Marisa pun hanya bisa mengangguk pasrah, Arini sudah terlanjur menelpon Galvin, pria itu pun pasti tidak akan tinggal diam saat mendengar jika Marisa akan melahirkan.


"Nak, kemungkinan besar kamu akan melahirkan normal lagi. Apa kamu sudah siap dengan itu?"


"Sudah bun, Marisa lebih baik melahirkan normal supaya proses pemulihannya cepat dan Marisa bisa langsung mengurus bayinya" Jawab Marisa.


Wanita tua itu hanya tersenyum lembut, ia tak melepas genggaman tangannya dari putri tercinta sedetik saja.


"Baiklah... Semoga proses lahirannya lancar"

__ADS_1


"Aminnn..... "


__ADS_2