
Pukul enam pagi Nirmala sudah diperbolehkan pulang, setelah diisi cairan infus kini kondisi serta daya imun Nirmala sudah meningkat dibandingkan kemarin.
Nirmala juga di berikan beberapa obat untuk di konsumsi sampai habis, dokter juga mengingatkan supaya tidak telat makan apalagi jika masih beraktivitas hingga malam hari.
Semua biaya dibayar oleh Galvin selaku atasan dari Nirmala, meski awalnya menolak tetapi akhirnya Nirmala pun menerima bantuan Galvin karena ia pun sedang tidak punya uang untuk membiayai pengobatan rumah sakit.
Lagi pun membiayai satu orang bukan masalah besar bagi pria berwajah tampan tersebut.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil Galvin, lelaki itu mengantarkan Nirmala sampai ke depan kosan tempat Nirmala tinggal.
Tak butuh waktu lama mobil pun sampai di depan bangunan sederhana berwarna merah muda.
"Apa disini yang kau maksud?"
"Benar Tuan, ini kosan saya" Jawabnya.
Galvin mengangguk dan tak berbicara apapun lagi, menunggu wanita di belakangnya ini keluar dari mobilnya.
"Apa Tuan ingin mampir sebentar? Mungkin untuk sekedar minum kopi?" Tawar Nirmala entah darimana keberanian itu muncul.
Namun langsung di tolak oleh Galvin, "sepertinya tidak, aku langsung pulang saja"
Ada raut kekecewaan saat mendapat penolakan dari Galvin, tapi wajar saja sih jika pria itu menolak. Pikir Nirmala.
"Tuan sekali lagi saya sangat berterima kepada Anda, saya tidak tau bagaimana nasib saya jika tidak bertemu dengan anda" Ujar Nirmala sebelum turun.
"Hmm... tidak masalah. Lain kali jangan memaksakan diri, meski kau melakukannya untuk keluargamu tapi yang kau lakukan tidaklah benar" Ucap Galvin menasihati.
Nirmala mengangguk paham.
"Baik Tuan, kalau begitu saya pamit pulang. Sekali lagi terimakasih.... "
"Ya, sama-sama"
Ketika Nirmala baru saja akan menapaki kakinya di aspal tiba-tiba suara Galvin menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Tunggu....!"
" Ya, ada apa Tuan?"
Galvin terlihat mengeluarkan dompet miliknya dan mengambil beberapa kertas berwarna merah di dalam sana.
Lalu menyodorkannya pada Nirmala.
"Ini, ambilah uang ini... "
"Hah?? M-maksudnya apa, Tuan?" Ucap Nirmala melongo.
"Berikan itu untuk biaya sekolah adikmu... "
"Tapi Tuan.... "
"Tidak ada tapi tapian, cepat ambillah!" Ujar Galvin memaksa.
Dengan sedikit ragu, Nirmala pun mengambil uang tersebut dan kembali berterima kasih sebanyak-banyaknya.
"Baik Tuan, terimakasih atas.....perhatiaan" lirih Nirmala.
Dan kini wanita itu benar-benar turun dari mobil Galvin, dan setelah mobil Galvin pergi Nirmala langsung memegang dadaa kirinya yang terasa berdebar hingga membuatnya sesak.
Galvin benar-benar perhatian padanya, bahkan saat ia menceritakan kenapa dirinya bisa seperti ini lelaki itu langsung sigap menolong dan memberi sejumlah uang yang sedang ia butuhkan.
Rasa sukanya sekarang telah tumbuh menjadi rasa cinta yang sesungguhnya!
***
Pagi ini Marisa belum berangkat ke cafe, rasanya sangat malas untuk pergi dari rumah setelah semalaman tidak bertemu dengan sang suami.
Kini Marisa hanya duduk sambil melihat televisi yang sedang menayangkan acara masak-memasak.
Namun, tiba-tiba saja Marisa merasakan lehernya dililit oleh sebuah lengan besar. Ia lantas mendongak dan melihat si pemilik lengan tersebut.
__ADS_1
"Galvin.....?"
"Sedang apa?" Tanya Galvin.
"S-sedang menonton saja, aku kira kau tidak akan pulang sekarang" Jawabnya.
Galvin pun ikut duduk di sebelah Marisa dan memeluk tubuh sang istri.
"Aku sangat merindukanmu.... "
"Ya, aku juga.... " Sahut Marisa.
Galvin kemudian melepaskan pelukan itu lalu mencium bibir Marisa meluapkan rasa rindu sejak tadi malam.
Namun tak lama Marisa melepas penyatuan bibir itu.
"Segeralah mandi, bau rumah sakit sangat melekat di tubuhmu" Suruh Marisa.
"Baiklah... Tapi aku ingin kau juga ikut mandi" Pinta Galvin ambigu.
Marisa terperangah mendengar permintaan aneh Galvin, tapi pipinya juga berubah memerah.
"Tidak mau...!" Tolak Marisa cepat.
"Ayolah.... Apa kau tidak kasihan ku?? Aku juga tau kau ingin kan.... Ayolah Marisa.... " Ajak Galvin memelas.
Tak bisa dipungkiri jika sebenarnya Marisa pun ingin melakukan itu dengan sang suami, tapi ia hanya masih malu mengakuinya.
"Bagaimana? Kau mau kan??" Tanya Galvin penuh harap.
Dengan keberanian marisa pun mengangguk pelan, "Baiklah jika kau memaksa"
Dan tanpa aba-aba Galvin langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamar mereka.
"Aaaa........ Galvin, aku kaget!!"
__ADS_1
"Hahaha..... Maaf sayang, aku sudah tidak sabar"