
Pukul empat sore Nirmala terlihat berdiri di pintu depan perusahaan, ia tengah menunggu Galvin yang sebentar lagi pasti akan pulang, maka dari itu Nirmala sedari tadi menunggu sosok lelaki yang ia cari-cari.
Nirmala menunggu dengan gelisah, tidak ada cara lain selain bertemu langsung dengan Galvin, pikir Nirmala.
Siapa tau dengan bertemu langsung Galvin bisa luluh dan tidak jadi memecat dirinya.
Hampir tiga puluh menit Nirmala berdiri disana, akhirnya sosok bertubuh tegap itu berjalan hendak keluar dari gedung perusahaan.
Nirmala seketika berlari ke arah Galvin dan langsung bersujud di bawah kaki pria tersebut.
Galvin dan seluruh karyawan yang melihat itu sangat terkejut, lagi-lagi tingkah Nirmala menjadi pusat perhatian semua orang.
Galvin melotot dan berusaha menghindar, namun Nirmala memegang kakinya kuat-kuat.
"Tuan Galvin saya mohon jangan pecat saya..... Hiks..... Tolong maafkan saya Tuan Galvin....... Hiks....... Jangan pecat saya Tuannn...... " Nirmala menangis sejadi-jadinya tanpa mempedulikan tatapan dari banyak orang, ia sudah tidak peduli perihal harga diri di situasi seperti sekarang ini.
"Apa-apaan kau ini..!! Lepas..!!" Teriak Galvin dengan nada tinggi, ada apa lagi dengan Nirmala ini?!
"Tidak Tuan, saya tidak akan melepaskan anda sebelum anda mengubah keinginan untuk memecat saya. Saya mohon Tuan..... Hiks..... "
"Saya minta maaf...... Maaf..... Maaf.... Maaf...... Tolong jangan pecat saya Tuan.... Hiks....."
Martin yang sedari tadi berada di belakang Galvin pun maju kembali dan berusaha menjauhkan Nirmala dari kaki bos nya itu.
"Nirmala sudah ku bilang jangan mendekati Tuan Galvin lagi! Turuti semua yang sudah terjadi, kau tenang saja perusahaan akan memberikan pesangon untukmu.... Sekarang bangkit dan menjauh dari Tuan Galvin!" Ucap Martin menarik tubuh gadis tersebut, tetapi Nirmala tetap keukeuh dan terus memohon.
__ADS_1
"Tidak tuan..... Saya mohon..... Saya ingin tetap bekerja disini..... Apa yang harus saya katakan pada keluarga saya nanti?? Hiks.... Jangan pecat saya tuan....... Hiks.... "
"Ada apa ini?" Tiba-tiba saja suara seseorang terdengar tak jauh dari tempat Galvin dan Nirmala berada.
Suara itu membuat semua staff dan karyawan menatap ke arahnya, mata mereka pun terbelalak saat tahu siapa orang yang berdiri di ambang pintu perusahaan.
"Marisa??" Gumam Galvin.
Terlihat Marisa berdiri dengan raut wajah bingung sekaligus terkejut, melihat seorang wanita yang tengah bersimpuh dibawah kaki Galvin.
Marisa yang tadinya berniat membuat kejutan dengan datang untuk menjemput Galvin kini berubah terheran-heran dan hanya bisa membeku melihat pemandangan didepannya.
Galvin yang melihat keberadaan istrinya ingin langsung menghampiri, tapi Nirmala masih menahan kakinya dan membuat Galvin kesulitan untuk berjalan.
"Nirmala lepas...!!"
Bukankah dulu kau menyukai diriku??" Tuding Nirmala.
"Apa maksudmu?!" Galvin berbalik tanya, sorot matanya makin menajam saat mendengar pertanyaan pegawainya ini.
"Dulu kau menyukaiku kan Tuan?? Bunga yang kau suruh aku agar membawanya pergi sebenarnya itu untukku kan, Tuan?? Itu hanya tak-tik mu kan untuk mendekati aku?? Peraturan pesta yang kau ubah juga karena diriku kan? Agar aku bisa datang ke sana???? Kau sebenarnya menyukaiku kan Tuan?? Tapi kenapa kau jahat padaku sekarang?!! Hiks..... Kenapa Tuan....."
Pernyataan Nirmala membuat semuanya terperangah tak percaya, apalagi Galvin pria yang dituduh oleh wanita tersebut. Galvin nampak merasa difitnah, ia langsung menendang kakinya secara paksa hingga Nirmala sedikit terpental akibat tendangannya.
"JAGA UCAPANMU....!! BERANINYA KAU MEMITNAHKU.....!!!" Bentak Galvin menggelegar.
__ADS_1
"PERGI DARI SINI....!!! ATAU AKU YANG AKAN MENYERETMU DENGAN TANGANKU SENDIRI!!!"
"Tapi Tuan.... "
"PERGIIIII.........!!!"
Nirmala kini sudah tidak bisa berbuat apa-apa, tidak ada yang membelanya, dirinya sudah benar-benar dipecat dan diusir di hadapan semua orang.
Galvin pun sangat amat marah padanya, Nirmala hanya bisa menangis pedih meratapi nasib yang kini sudah terjadi.
Ia pun bangkit dan berlari menuju keluar, tapi satu tangan menahan lengan Nirmala.
"Tunggu jangan pergi dulu, kita bisa bicara baik-baik" Ucap Marisa mencegah Nirmala.
Tetapi bukannya menerima secara baik-baik Nirmala justru mendorong Marisa hingga terjatuh ke atas lantai.
"Aaaaaaaaaaa..........!"
BRUKK....
"Ini semua karna dirimu...!!" Tuduh nya pada Marisa.
Rasa benci kini timbul di hati gadis berpakaian biru itu, tanpa merasa bersalah sedikitpun Nirmala berlari keluar membiarkan Marisa yang merintih kesakitan akibat ulahnya.
"Marisaaaa......!!"
__ADS_1
Dengan sigap Galvin langsung menggotong tubuh istrinya dan segera membawa wanita itu ke klinik terdekat.