Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Harapan Yang Musnah


__ADS_3

Setelah Galvin pergi marisa kembali masuk ke dalam, saat ia hendak menuju ruangannya tiba-tiba seseorang menahan lengan Marisa dan membuat si empu menoleh menatap orang itu.


"Abrian? Ada apa?" Tanya Marisa.


"Marisa aku ingin bicara sebentar denganmu"


"Bicara? Tentu, katakanlah disini" Akhirnya Marisa pun diam berdiri dan mendengarkan apa yang akan Abrian katakan.


"Emm.... Sudah beberapa hari kau tidak ada, katanya kau pergi ke Jogja. Apa kau sedang ada masalah?" Tanya Abrian, hal itu membuat Marisa mengernyitkan alisnya.


"Memangnya kenapa, Abrian?" Tanya Marisa heran, tiba-tiba saja Abrian menanyai urusan pribadinya.


Abrian mendadak gelagapan, salah ia yang berbicara secara to the point tanpa basa basi terlebih dahulu, pantas jika marisa kebingungan.


"T-tidak kenapa-kenapa, aku.... Hanya takut sesuatu terjadi padamu" Ucapnya beralasan.


Marisa tersenyum simpul, seolah menunjukkan jika ia baik-baik saja.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Abrian. Semua baik-baik saja sekarang" Jawab Marisa.


Abrian pun mengangguk pelan, jawaban Marisa tak membuat abrian puas dan masih ingin tahu lebih.


"Kalau begitu aku masuk dulu... "


Marisa pun berniat melanjutkan perjalanannya, tapi Abrian kembali mencegah Marisa dan membuat Marisa berhenti lagi.

__ADS_1


"Ada apa, Abrian?"


"Emm..... Aku.... Hanya ingin memastikan apakah suamimu ada bersamamu saat Jogja atau tidak" Ujarnya.


Kali ini Marisa benar-benar dibuat bingung, sebenarnya ada urusan apa sampai Abrian harus mengetahui hal pribadinya selama di Yogyakarta? Apa sebenarnya yang ia cari?


"Apa Galvin bersamamu selama kau pergi?" Desak Abrian penasaran.


Marisa mengangguk sebagai jawaban, "Iya, Galvin bersama ku selama aku disana"


Mendengar itu Abrian menjadi lemas, pikiran-pikiran nya melayang ke arah tak menentu. Rasa cemburu dan sakit hati kian menyatu padu, hatinya seakan tergores dan menyurutkan harapan-harapannya.


"Kenapa kau menanyakan hal itu, Abrian?"


Namun Abrian hanya menggeleng lemah, ia berusaha mencoba tegar meski rasanya Abrian tak kuat.


Sedangkan Marisa hanya menatap bingung dan kembali masuk ke dalam ruangannya.


***


Di dalam mobil Abrian memukul stir mobil beberapa kali, ia meluapkan semua rasa sakit yang masih membara di lubuk hatinya.


Melihat Marisa bersama dengan galvin saja sudah membuat Abrian tak kuasa untuk tetap berada di sana, apalagi disaat ia melihat bagaimana bahagianya Marisa saat Galvin mencium bibir wanita itu tadi.


Abrian merasa tak adil dibuatnya, setahun ini dirinya lah yang selalu ada untuk Marisa. Tetapi hanya kekecewaan yang Abrian dapat, waktu serta perhatian yang Abrian beri tak membuahkan hasil dan timbal balik padanya.

__ADS_1


"ARRRGGHHH.........!!!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Abrian terus memukul-mukul stir mobil sekuat tenaga, ia tak peduli jika kelakuannya saat ini nampak seperti orang gila di luaran sana.


Disaat ia dilanda rindu yang memuncah, Marisa justru pergi bersama dengan Galvin. apa yang mereka lakukan di sana? menghabiskan waktu berduaan???


Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit hati yang Abrian rasakan.


"Marisa..... Ini terlalu sakit bagiku.... Kenapa kau kembali padanya..?!!! Arrgghhhh.......!!!!'


Merasa tak tahan Abrian pun lantas melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia tak peduli jika kendaraan nya menabrak kendaraan lain. Pikiran kacau, sama seperti harapannya!





__ADS_1


Jangan Lupa Vote Mamie 😘😆


__ADS_2