Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Rencana Misterius


__ADS_3

Malam hari di sebuah cafe yang tak lain adalah cafe Marisa, seorang pelayanan terlihat tengah membersihkan cafe yang sudah berantakan.


Wanita itu mengelap meja makan dan membuang sampah-sampah yang berserakan disana, kali ini ia terpaksa harus bekerja sendirian dimalam hari dikarenakan teman-teman nya yang lain sedang mempunyai urusan dan mesti pulang terlebih dahulu.


Tetapi wanita itu nampak tak keberatan dan mengerjakan pekerjaannya dengan benar.


Suasana sangat hening ketika cafe sudah tutup, meski cafe tutup sedari jam sembilan malam tetapi hingga pukul sepuluh pegawai itu masih belum menyelesaikan semua pekerjaan.


Tak... Tak...


Suara hentakan membuat wanita tersebut refleks menghentikan aktivitas nya, ia mencoba menoleh pada sumber suara. Namun tidak ada apa-apa disana.


Mungkin cuma salah dengar, ia pun melanjutkan kembali kegiatan yang tadi.


Tak... Tak...


Suara hentakan kaki itu terdengar lagi! Sang pegawai mulai merasa takut, ia pun mengedarkan pandangannya dengan hati yang was-was.


"Siapa itu.....?" Teriaknya sambil melirik kesana kemari.


Namun tak ada siapapun selain dirinya, ia dibuat merinding dan jadi berpikir yang tidak tidak.


"Tidak ada apapun, mungkin memang aku salah dengar" Gumam si wanita, ia pun lantas kembali mengelap meja dan mencoba menghiraukan suara itu.

__ADS_1


Namun disela-sela kegiatannya, tiba-tiba saja tangan seseorang membekat mulut pegawai tersebut!


"Emmphh............!! Emmphh.........!! "


Pria itu membekap dan membawa sang pelayan ke tempat yang lebih tertutup yaitu ke dalam dapur.


Pegawai itu terus memberontak ketakutan sebelum akhirnya pria tersebut melepas bekapan tangannya.


"Ssstttt....... Diam!!" Sentaknya pada si pegawai.


Wanita itu dalam beberapa detik terbelalak saat melihat wajah orang yang baru saja membekapnya, ia kenal pria itu bahkan ia tidak percaya lelaki ini melakukan hal tersebut padanya.


"T-tuan Abrian??!! A-apa yang kau lakukan...!!"


"U-urusan...?? Apa maksudmu?!"


Abrian tak menjawab, ia justru mengambil sebuah amplop tebal dari balik saku celananya. Dan memberikan benda itu pada wanita di depannya.


"Ini, ambilah!"


"A-apa ini...?" Tanyanya bingung sambil melihat ke arah amplop yang berada di tangannya.


"Itu uang, kau boleh mengambilnya. Tapi akan ada syarat yang harus kau lakukan" Ucap Abrian terdengar misterius.

__ADS_1


"S-syarat...?"


Abrian pun kemudian memberitahu apa yang harus wanita ini lakukan, terlihat dari raut wajah sang wanita ia nampak terkejut dan menggeleng-geleng kan kepalanya beberapa kali.


"Tidak! Aku tidak mau...! Bagaimana pun Nyonya Marisa sudah baik padaku" Tolaknya pada Abrian.


"Jangan munafik! Aku tau kau sedang butuh uang sekarang. Di amplop itu ada seratus juta, bahkan tidak akan sebanding dengan gajimu setahun!" Ucap Abrian menyeringai.


"Lakukan apa yang aku katakan! Jika rencana ini berhasil aku akan kembali memberimu bonus, jangan khawatir... Tugasnya tidaklah sulit" Sambung Abrian.


Pegawai itu berkeringat dingin, disatu sisi ia tidak mau melakukan tindakan yang dikatakan Abrian. Tapi disisi lain ia tergiur dengan apa yang Abrian beri, dan lagi ia memang sedang membutuh uang lebih sekarang.


"A-aku........


Aku butuh waktu untuk memikirkannya"


Abrian berpikir sejenak, namun akhirnya ia menyetujui dan memberi waktu untuk wanita tersebut.


"Baiklah, aku hanya memberi waktu satu minggu! Jika kau sudah setuju katakan padaku"


Ia menatap wajah Abrian terlebih dahulu, hingga mengangguk dengan ragu.


"Bagus! Aku tunggu kabar baik darimu... "

__ADS_1


Setelah itu Abrian pun pergi dari cafe Marisa meninggalkan seorang pegawai yang tengah dipenuhi rasa kebimbangan.


__ADS_2