Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Menceritakan Kejadian


__ADS_3

"Baiklah, ini........... Soal kemarin malam" Cicit Marisa dengan suara kecilnya.


Galvin terdiam sambil menatap wajah Marisa, tak ada ekspresi apapun yang ditimbulkan Galvin. Membuat Marisa semakin ragu untuk berbicara.


"Silahkan, katakan saja" Titah Galvin berucap.


"Aku rasa..... Kau harus tahu bagaimana kejadian kemarin. A-aku tak ingin kau salah paham" Ungkap Marisa memandang sendu wajah suaminya.


Terdengar Galvin menghembuskan nafas berat, tetapi Galvin tak menolak keinginan Marisa.


"Sebenarnya tanpa kau menceritakan hal itu aku sudah yakin jika kau hanya dijebak, tapi jika kau ingin bercerita maka aku juga tidak keberatan. Ceritalah.... Jika itu membuat hatimu tenang" Ucap Galvin penuh pengertian, dari tutur kata pria ini Galvin sama sekali tak menunjukkan rasa kecewa pada Marisa sedikitpun.


Marisa pun akhirnya menceritakan semua apa yang terjadi, dari saat ia mendapat telepon hingga akhirnya Abrian datang dan hampir memperkosa dirinya.


Marisa bercerita sambil menahan rasa takut mengingat kejadian kemarin, matanya pun berkaca-kaca dan hampir tak kuasa menyelesaikan cerita itu.


Melihat marisa yang seperti ini Galvin lantas merengkuh tubuh istrinya, marisa benar-benar terlihat lemah. Hal itu membuat Galvin semakin merasa bersalah.


Meski Galvin sama sekali tak mengeluarkan suara disaat marisa berbicara namun lelaki itu juga merasakan sakit yang sama, dan bahkan mungkin lebih.


Galvin mengusap usap punggung wanitanya dan memberikan kekuatan untuk wanita tersebut, Marisa tanpa sadar menggenggam kemeja Galvin dengan erat seolah tak mau berjauhan dengan lelakinya. Ia sungguh butuh seseorang disaat seperti ini.


"Aku takut kau marah........

__ADS_1


Aku tau kau kecewa tapi aku juga tidak mau hal ini terjadi.......


Aku menyesal pergi kesana.....


Aku takut....... "


"Aku sudah ada disini, aku akan melindungi mu. Kau tenang saja..... Aku akan disini menjagamu" Ucap Galvin.


"Kau tidak marah......?" Tanya Marisa.


Tak ada tanggapan dari lelaki itu, hanya keheningan yang menjawabnya.


Membuat Marisa mendongak menatap wajah Galvin.


Raut wajah Marisa berubah sedih, tapi kenapa Galvin bersikap biasa padanya?? Kenapa Galvin tidak mendiami Marisa jika memang lelaki itu marah??


"Aku marah.....


Marah pada Abrian....


Marah pada pegawai mu....


Dan marah pada diriku sendiri..... Aku bukan suami yang baik, aku belum bisa menjagamu, aku suami yang tidak becus"

__ADS_1


Mendengar itu Marisa langsung duduk dengan tegak, ia menggelengkan kepalanya membantah ucapan Galvin tadi.


"Jangan berpikir seperti itu galvin....!


Kau suami yang sempurna bagiku.... Kau lelaki yang selalu aku kagumi, jangan menyalahkan dirimu.... Kejadian ini bukan berasal dari mu, ini semua sebuah kecelakaan" Bantah Marisa dengan tegas.


Tangan Galvin terangkat membelai pipi Marisa, senyum tipis pun ia tampilkan pada wanitanya.


"Aku sangat mengkhawatirkan mu Marisa...


Aku bersumpah tidak akan meninggalkan mu kemanapun aku pergi, dan bahkan jika ada hal penting sekalipun aku akan membawa mu beserta Devano agar selalu ada disisiku....


Aku tak mau kalian dalam bahaya sedikit saja.... Aku akan memaafkan diriku selama-lamanya jika hal itu terjadi lagi"


Marisa tersenyum lembut dan memegang lengan Galvin yang berada di pipinya.


"Aku akan menuruti semua perintah mu Galvin, aku tak akan membantah lagi.... Aku tak mau membuatmu kecewa.... "


Senyum Galvin makin terbentuk saat mendengar ucapan Marisa, ia membawa kembali Marisa ke dalam pelukannya.


Kini yang mereka butuhkan adalah sebuah pelukan dan saling mengerti satu sama lain.


Meski kejadian kemarin tak bisa dihindari tetapi hal tersebut bukanlah suatu alasan untuk Galvin dan Marisa saling menjauh.

__ADS_1


__ADS_2