Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Pertemuan Dua Pria


__ADS_3

"Karna aku mencintai Marisa...!


Aku yang selalu ada untuknya....!


Aku yang menghibur dia disaat kau hanya bisa membuatnya menangis......!


Aku menolak semua gadis hanya demi wanita satu anak yang memiliki suami brengsekkk seperti dirimu....!!!" Ucap Abrian menggelegar.


Deg!


Galvin langsung tercekat, mematung dan membisu, kepalanya seperti dihantam oleh batu yang begitu besar.


Ucapan Abrian menusuk tepat di ulu hatinya, membuat sang empu membeku tak berdaya.


Rasa benci terhadap Abrian kini justru berbalik pada dirinya sendiri.


"Tapi dengan teganya kalian datang dan menunjukkan kemesraan di hadapanku setelah apa yang sudah aku lakukan...!!


Seharusnya aku yang bersanding dengan Marisa bukan dirimu....!!!"


Nafas Abrian memburu, semua unek-unek yang Abrian rasakan ia lontarkan pada Galvin. Tak peduli akan keberadaan orang-orang yang mendengarnya.

__ADS_1


"Seharusnya kau berterima kasih padaku!


Tapi lelaki tidak tahu diri seperti mu memang selalu ingin menang sendiri...! Kau memang lelaki egois, Galvin!"


Tatapan Galvin berubah sendu, namun ia berusaha menguatkan hatinya.


"Mungkin kau memang telah berbuat baik pada Marisa, namun tidak seharusnya kau jatuh cinta pada istri pria lain. Jika kau tau marisa memiliki suami seharusnya kau menutup hatimu!!" Tambah Galvin memperingati.


Abrian tersenyum miring, tertawa seperti orang yang menantang ketika mendengar nasihat Galvin.


"Kau tau cinta itu tidak bisa dipaksakan, jika aku bisa memilih pada siapa hatiku berlabuh aku pasti tidak akan memilih Marisa!!


Tapi sebagai lelaki kau pasti mengerti, lelaki mana yang akan menolak wanita seperti Marisa?!! Mungkin hanya lelaki bodoh seperti mu.... Cih!" Ejeknya pada Galvin.


Perkataan Abrian lagi-lagi membuat Galvin tak bisa berkutik, apa yang pria ini sampaikan memang benar adanya.


Galvin memang lelaki bodoh yang sudah menelantarkan istri seperti Marisa.


"Aku akui aku menyesal telah melakukan hal itu pada Marisa, tapi sekarang kami sudah bersama kembali. Aku peringatkan padamu untuk tidak mengusik lagi rumah tangga ku dan Marisa, aku tidak akan melepaskan Marisa sekuat apapun kau berusaha!" Tutur Galvin tegas.


Tapi Abrian justru tertawa terbahak-bahak, bukannya mencerna kata-kata Galvin dengan serius Abrian malah menganggap perkataan Galvin layaknya sebuah lelucon belaka.

__ADS_1


"HAHAHAHA................... !!


Kau pikir kau siapa hah?!! Kau pikir aku akan menuruti perkataan mu setelah apa yang sudah terjadi??


Hahaha.... Jangan harap Galvin!" Tolak Abrian secara langsung.


Galvin kembali dibuat emosi, kali ini ia harus benar-benar harus mewaspadai Abrian. Selagi belum ada kepastian apakah Abrian akan ditetapkan sebagai tersangka atau tidak Galvin tidak boleh lengah mengawasi gerak-gerik lelaki ini.


"Aku pastikan kau akan terkurung di penjara, Abrian! Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa!" Ancam Galvin.


"Apa kau lupa, Galvin?? Aku ini orang kaya, aku bisa melakukan apapun! Meski bukan aku yang melakukannya...!"


Galvin mengepalkan kedua tangannya, wajahnya pun berubah memerah menahan amarah didalam jiwa. Abrian ternyata tidak menyerah sampai disini, lelaki itu sungguh terobsesi pada Marisa.


"Kau.......!!"


"Maaf Tuan, waktu kalian sudah habis. Silahkan Anda ikuti saya" Belum sempat Galvin melanjutkan ucapannya polisi yang memantau mereka datang dan kembali membawa Abrian ke dalam sel.


"Ck....! Sialannnn.........!


Mau tak mau Galvin pun harus keluar dari sana, jika saja polisi itu tidak muncul sudah dipastikan jika Galvin akan memukul wajah Abrian. Tapi ia juga teringat akan perkataan Marisa, ia tidak boleh sama terhasut emosi.

__ADS_1


Akhirnya Galvin pun pulang dari sana menuju kediamannya.


__ADS_2