
"Pah sebenarnya kita mau kemana sih?" Tanya Devano sambil melihat sekeliling perjalanan.
"Tunggu sebentar lagi, sayang. Kita akan sampai" Jawab Galvin yang juga masih belum memberitahu.
Sedangkan Marisa hanya diam sambil memangku Devano di pahanya.
Perjalanan terus berlanjut sampai mobil mewah itu berhenti di sebuah tempat yang di penuhi oleh pepohonan.
"Sudah sampai" Seru Galvin.
Marisa dan Devano semakin keheranan, tidak ada apapun disana. Kenapa lelaki dewasa itu membawa mereka kesini?
"Kita dimana, Galvin?" Sahut Marisa sambil celingak celinguk ke arah luar jendela.
"Nanti kalian akan tahu setelah turun dari mobil, sebaiknya kita keluar sekarang. Ayok!" Galvin mengajak istri dan anaknya turun dari kendaraan hitam tersebut.
Galvin membawa Marisa dan Devano lebih dalam lagi.
Dan ketika sudah sampai di tempat yang Galvin maksud, mereka pun terkejut melihat pemandangan di depannya.
Sebuah danau indah dan rerumputan hijau langsung memanjakan mata mereka, keduanya terbelalak dan ternganga tak percaya.
"I-ini....... D-danau???"
__ADS_1
"Iya, bagaimana?? Apa kalian suka?"
"SUKAAAA....... DEVANO SUKA PAHH........ " Teriak Devano sembari meloncat loncat kegirangan.
"Pah Devano boleh tidak lari lari kesana???" Tunjuk Devano.
"Boleh, asal jangan terlalu dekat dengan danau ya" Ucap Galvin memperingati.
"Iya, pah!"
Tanpa menunggu lama Devano langsung berlarian mengelilingi tempat tersebut, bocah kecil itu nampak riang gembira. Bahkan Devano tidak takut meski tempat tersebut hanya ada mereka bertiga.
Setelah Devano pergi Galvin kembali memfokuskan diri pada Marisa yang berdiri di sampingnya yang hanya terdiam tanpa suara.
"I-ini....... Sangat indah" Ucap Marisa bergeming.
Galvin tersenyum lega, tak sia-sia ia membawa keluarga kecilnya ke tempat ini.
"Dari mana kau tau tempat ini, Galvin? Aku rasa ini bukan tempat yang diketahui banyak orang"
"Aku sudah dari dulu tahu tempat ini, dulu Ayahku sering mengajakku kemari. Tapi sekarang aku jarang mengunjunginya. Biasanya aku kemari hanya untuk menenangkan diri, tempat ini sangat cocok untuk ku" Ungkap Galvin jujur.
Mereka kembali menatap ke arah depan, hanya memandang danau hijau yang nampak tenang disertai tempat yang asri.
__ADS_1
"Dulu aku sangat tertutup pada kalian, dan sekarang.... Aku ingin kalian tau semua tentang diriku, dimulai dari tempat ini. Tempat favorit dimana aku mencurahkan semua keluh kesah ku" Tutur Galvin bercerita.
Marisa menoleh ke samping dan sedikit mendongakkan kepalanya saat melihat wajah Galvin.
"Ku rasa aku juga mulai suka tempat ini" Ungkap Marisa diikuti senyum manis di bibirnya.
"Benarkah???"
"Tentu! Jarang sekali ada tempat yang seperti ini di tengah perkotaan"
Galvin tersenyum bangga, ia pun lantas merangkul pundak sang istri agar lebih dekat dengan dirinya.
"Kalau tau begini aku bisa siapkan karpet dan beberapa makanan untuk kita duduk di dekat danau itu"
"Sudah, tidak apa-apa. Kita masih bisa duduk di rumput-rumput ini, ayok kita kesana" Ajak Galvin sambil menarik lengan Marisa mendekati danau tersebut.
Mereka berlari dengan penuh gembira, helaian rambut panjang marisa berterbangan kebelakang dan membuat wanita itu semakin cantik dilihatnya.
"Galvin jangan lari-lari..... " Teriak Marisa.
Namun Galvin sama sekali tak menghiraukan perkataan sang istri, ia terus berlari hingga akhirnya berhenti tepat di depan danau hijau itu.
Dan yang tak disangka-sangka Galvin berteriak dengan kencang.
__ADS_1
"AKU MENCINTAIMU MARISAAAAAA........ "