Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Perkelahian


__ADS_3

"Emmphh...........!! Emmphh..........!!


Pandangan Galvin tertuju pada Marisa yang berteriak dengan air mata yang sudah mengalir deras di wajahnya, mulut wanita itu dibekap oleh Abrian hingga tak bisa mengatakan apapun!


Mata Galvin seketika memanas!! Hatinya mengeluarkan bara api saat melihat kondisi sang istri.


"BRENGSEKKKKKKK..........!!!"


Galvin berlari mendekat dan menarik Abrian dari jangkauan istrinya, kemudian dengan sekali tarik Galvin langsung memukul pria itu hingga babak belur.


BUGH!


BUGH!


BUGH!


"BERANINYA KAU MENDEKATI ISTRIKU....!!"


BUGH!


"AKU AKAN MEMBUATMU MATI SEKARANG JUGA!!"


BUGH!!


Abrian yang ingin melawan seolah tak punya kesempatan, tenaga Galvin begitu kuat. Pria itu benar-benar mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menghajar Abrian habis-habisan.


Sedangkan Marisa langsung bangkit menjauh sambil mengeratkan pakaiannya yang sudah terbuka, Marisa menangis dengan keras, tubuhnya bergetar hebat karena rasa takut yang ia alami.


Jika Galvin tidak datang entah bagaimana nasibnya sekarang.

__ADS_1


"Ber.... Hen.... Ti....... Akhhhhh......!! Ku mohon..... Hen... Ti.... Kan...... "


BUGH!!


BUGH!!


Galvin memukul seluruh tubuh Abrian tanpa peduli jika lelaki itu akan mati atau tidak, yang jelas Galvin sungguh naik pitam dan tak mendengarkan apa yang Abrian katakan.


Darah pun bercucuran di seluruh tubuh Abrian, malaikat maut seperti akan menjemput dirinya sebentar lagi!


Melihat adegan di hadapannya Marisa mulai merasa cemas, takut jika Galvin sampai membunuh orang dengan tangannya sendiri.


Mau tidak mau Marisa pun mendekat dan mencoba menghentikan aksi sang suami.


"Galvin....... Sudah Galvin! Kau bisa membunuhnya..... "


"Tidak Galvin tidak...!! Biar polisi yang menanganinya. Hentikan Galvin....!"


Galvin menghempaskan tubuh Abrian hingga terpental ke atas lantai.


"Uhukkk..... Uhukkk..... "


Galvin beralih pada Marisa dan menatap tajam pada istrinya tersebut.


Namun pandangannya tiba-tiba tertuju pada bekas kecupan Abrian membekas begitu banyak di kulit putih Marisa, bahkan di bagian dadaa pun lelaki itu melakukannya.


Deru nafas Galvin makin terdengar cepat, amarahnya kian meningkat saat melihat jejak Abrian yang membekas disana.


Marisa menciut! Galvin menatap dirinya dengan tatapan yang sangat mengerikan.

__ADS_1


"Hiks........ G-galvin........... "


Belum sempat Marisa berbicara, Galvin langsung menarik lengannya dan berjalan keluar dari cafe meninggalkan Abrian yang terkulai lemah disana.


Galvin membuka pintu mobil dan mendorong Marisa ke dalam kendaraannya.


Kemudian barulah ia ikut masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan itu.


Marisa benar-benar takut melihat Galvin, bahkan ia tak berani melirik ke arah pria disampingnya ini.


Marisa hanya mampu menangis dengan apa yang sudah terjadi.


Galvin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, tangannya menyentuh stir kuat-kuat hingga uratnya pun terlihat dengan jelas. Sudah bisa dipastikan jika Galvin sedang menahan amarah yang tengah bergejolak.


***


Setibanya di depan kediaman mereka, Galvin kembali menarik Marisa ke dalam rumah hingga Marisa harus berlari terseret seret.


Membawa Marisa menuju lantai atas tepatnya ke dalam kamar mereka.


Setelah sampai di kamar Galvin menyeret lagi Marisa ke dalam kamar mandi dan menghidupkan shower hingga membasahi tubuh sang istri.


"Bersihkan tubuhmu! Aku tidak mau melihat ada bekas tanda pria lain sedikitpun!" Ucap Galvin dingin.


Setelah berkata demikian Galvin keluar dan membanting pintu kamar mandi dengan keras.


BRAKKK!


Marisa terlonjak kaget, ia pun menangis lagi disana. Tubuhnya merosot ke bawah diringi tetesan air yang mengalir ke seluruh tubuh.

__ADS_1


__ADS_2