Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Hukuman Abrian


__ADS_3

"Dengan ini kami nyatakan anda bersalah dan berhak dituntut dengan hukuman maksimal lima tahun penjara"


TAK TAK TAK!


Suara ketukan palu akhirnya terdengar dari tangan yang mulia hakim, tim Marisa bersorak atas tuntutan yang diterimanya.


Kini Abrian dan mila akhirnya dipenjara dalam kurun waktu yang sudah ditentukan, mereka bersyukur karena saat ini kedua orang tersebut tidak akan menganggu kehidupan Marisa lagi.


Mila yang sempat bertemu dengan Marisa menjerit meminta pengampunan, ia bersujud sambil menangis di bawah kaki Marisa mengharapkan sedikit saja belas kasihan kepadanya.


"Nyonya maafkan sayaaa....... Hiks..... Maafkan kesalahan saya Nyonya....... Saya khilaf..... Hiks..... "


"Saya minta maaf Nyonya....... Tolong cabut tuntutannya..... Hiks...... Saya mohonnnnn... "


Akan tetapi Marisa tetap dalam pendiriannya, ia harus tegas dan membiarkan hukum yang bertindak. Marisa tak bisa begitu saja luluh, bagaimana pun wanita yang tadinya pegawai Marisa di cafe harus di beri pelajaran, dia harus jera akan perbuatannya pada Marisa.


Sedangkan Abrian tak berkata apa-apa, lelaki itu hanya pasrah dan diam seolah mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Meski tak ada satu kata 'Maaf' pun yang terucap dari bibir Abrian.


Berita masuknya Abrian ke dalam penjara menjadi trending topik di berbagai media elektronik, isu buruk tentang Marisa pun kian memudar, mereka kini percaya jika Abrian lah orang yang salah.


Setelah selesai sidang Galvin dan Marisa lantas berpamitan pada kuasa hukum yang menangani kasus Marisa.


"Kami sangat berterima kasih atas bantuan anda, tanpa anda mungkin para pelaku tidak akan pernah dihukum"


"Sama-sama Tuan, Nyonya. itu sudah menjadi tugas saya, saya harap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, jika ada apa-apa hubungi saya saja" ucap lelaki tua itu.


"Ya, pasti kami akan sangat membutuhkan bantuan anda lagi. kalau begitu kami pamit pulang dulu" ucap Galvin sembari mengulurkan tangan untuk berjabatan.


"Sekali lagi kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada anda" ucap Marisa bersalaman.


"Sama-sama Nyonya, hati-hati dijalan"


Marisa dan Galvin pun masuk ke dalam mobil dan melaju menuju kediaman mereka.


"Aku bersyukur masalah ini telah selesai, aku harap kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi" Ujar Marisa berharap.

__ADS_1


Galvin menggeser duduknya lalu menggenggam tangan sang istri.


"Aku pastikan hal semacam ini tidak akan terulang lagi, tidak akan aku biarkan lelaki manapun mendekatimu... " Sahut Galvin pada Marisa.


"Terimakasih kasih Galvin....


Kau selalu ada saat aku membutuhkan mu...


Terimakasih kau selalu mendukung ku, maaf telah membuatmu khawatir.... " Lirih Marisa.


Galvin melepas genggamannya kemudian beralih merangkul pundak Marisa dan mengecup kening istrinya dengan lembut.


"Tetaplah seperti ini... "


Marisa pun mengangguk sembari menyandarkan kepalanya di dadaa bidang Galvin.


***


Hari berikutnya tak terasa sudah hampir satu bulan terlewati, hari sudah kembali seperti hari-hari sebelum kejadian itu terjadi, tak ada lagi berita mengenai Marisa yang beredar serta tak ada wartawan yang muncul ke hadapan Marisa. Berita itu seakan telah tenggelam ke dasar bumi paling dalam dan digantikan oleh berita-berita terbaru lainnya.


"Mah pah... Hari minggu besok Devano mau ikut berlibur dengan eyang, boleh ya??" Tanya Devano pada kedua orang tuanya.


"Memangnya eyang liburan kemana? Kenapa papah tidak tau" Ujar Galvin heran.


"Liburan ke Bandung, eyang bilang ada acara dengan teman arisannya. Semua teman eyang bawa cucu-cucu mereka, boleh ya mah pah.... " Pinta Devano memelas, ia ingin sekali ikut berlibur, karena neneknya bilang jika mereka akan berlibur ke tempat permainan.


"Kalau papah mengizinkan mamah juga akan izinkan Devano untuk ikut, tapi kalau papah bilang tidak boleh Devano juga harus menurut" Kata marisa berujar.


Pandangan Devano pun beralih pada sang papah, ia memasang wajah seimut mungkin untuk menghipnotis Ayahnya itu, karena Devano tau jika Galvin sudah berbicara maka tidak akan bisa di ubah lagi.


"Pahhhh............. Boleh yaaa............ Devano ingin ikut eyanggg........ "


Galvin saling lirik dengan Marisa, mereka tertawa kecil melihat tingkah laku menggemaskan putra semata wayangnya tersebut. Mau menolak pun rasanya amat sangat berat, Galvin merasa tak tega jika harus melarang bocah kecil ini.


"Baiklah.... Papah izinkan, Devano boleh ikut berlibur dengan eyang besok"

__ADS_1


"HOREEEEEEEEE...........!!! TERIMAKASIH PAHHHH....... "


***


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Devano baru saja tertidur. Malam minggu Marisa biasanya mengizinkan anaknya untuk tidur lebih larut karena esok hari tidak ada jadwal pergi ke sekolah.


Marisa pun kembali ke dalam kamar yang berada di lantai atas, saat ia membuka pintu kamar Marisa langsung disuguhkan oleh pemandangan indah di depannya.


Terlihat Galvin tengah membuka pakaiannya, kulit liat berotot itu nampak sangat indah dipandang, sudah lama Marisa tidak mengamati tubuh suaminya beberapa waktu ini.


Masalah yang Marisa alami membuat keduanya tidak pernah lagi berhubungan badan, entah lupa atau karena terlalu sibuk mengurusi urusan persidangan.


Galvin pun sama, lelaki itu sudah tak pernah meminta jatah padanya. Entah kenapa, jika di ingat-ingat lagi Galvin juga sudah tak pernah membicarakan mengenai hal tersebut.


Biasanya setiap malam mereka selalu melakukan kegiatan suami istri, tak akan pernah lupa meski ada halangan yang melanda. Apakah Galvin tidak ingin melakukannya? Atau mungkin Galvin masih belum berniat menyentuh Marisa karena teringat kissmark yang Abrian beri di beberapa bagian tubuhnya? Ya, semenjak saat itu Galvin memang tak pernah lagi menyentuhnya. Tapi semua tanda itu sudah menghilang tak berbekas. Apakah Galvin memang tak ingin melakukannya dulu?


Dengan malu-malu Marisa masuk ke dalam dan melewati Galvin yang tengah telanjangg setengah badan. Harum aroma badan Galvin langsung masuk ke indera penciuman Marisa, wanita itu meneguk ludah dengan susah payah.


"Devano sudah tidur?" tanya Galvin yang melihat istrinya masuk ke dalam kamar.


"I-iya sudah.... " jawab Marisa gugup.


Ia lantas duduk di tepi ranjang sambil menatap ke arah Galvin berada. Ada sesuatu yang bergejolak dalam tubuh Marisa secara tiba-tiba, ada rasa rindu yang ingin ia tuntaskan. Otak Marisa mulai berpikiran liar, sebagai wanita Marisa merasa malu pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa berpikiran mesum pada lelaki meski pada suaminya sendiri, tapi jujur Marisa merasa bergairah melihat tubuh kekar Galvin.


"G-galvin......... " Panggil Marisa tanpa sadar.


Pria yang tengah memilih baju didalam lemari itu pun menghentikan aktivitasnya lalu menoleh pada Marisa.


"Ya, ada apa?"


"Emmm......... I-ituu........... A-aku............ Emmm...... " Marisa yang hendak berbicara seketika gugup dan terbata-bata, membuat Galvin berbalik menatap bingung padanya.


"Kenapa Marisa?"


"A-akuuuu.......... "

__ADS_1


__ADS_2