
"Tuan Galvin tungguuu......!!" Teriak Nirmala mengejar Galvin yang tak menghiraukan keberadaannya.
Nirmala kembali berdiri di depan Galvin mencegah pemilik perusahaan itu untuk masuk ke dalam lift.
"Kau ini mau apalagi sih?!! Aku sedang sibuk, apa matamu buta!!" Bentak Galvin marah.
Asisten Galvin langsung maju dan menyuruh Nirmala untuk pergi.
"Hei kau! Berani-beraninya kau menghalangi jalan tuan Galvin, minggir kami mau lewat...!!" Perintahnya pada Nirmala.
Namun Nirmala tak melangkah dari sana sedikit pun, ia tetap berdiri ditempat dengan nafas yang terengah-engah akibat mengejar bos nya tersebut. Bahkan beberapa karyawan merasa khawatir melihat perlakuan Nirmala yang tidak ada takut-takutnya.
"Saya ingin bicara sebentar saja, Tuan. Saya mohonnn....... " Pinta Nirmala sembari mengatupkan kedua lengannya.
"S-saya ingin meminta maaf atas kejadian waktu itu Tuan..... S-saya tidak bermaksud membuat Anda marah, saya minta maaf jika perkataan saya menyinggung hati Tuan Galvin. Tapi saya bersumpah saya benar-benar tidak ada maksud buruk ataupun ikut campur.
Saya mohon maaf Tuan Galvin..... Maafkan sayaa...... " Tutur Nirmala memelas, ia menatap Galvin dengan tatapan iba seolah memohon pengampunan yang sebesar-besarnya.
Tetapi tak ada reaksi apapun yang terpancar dari wajah pria itu, Galvin hanya menatap dingin pegawainya kemudian melangkah masuk ke dalam lift tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
Nirmala hanya melongo tak percaya, ternyata permintaan maafnya tidak di respon sama sekali, seakan permintaan maaf Nirmala hanya sebuah angin lalu.
"Kenapa dia pergi begitu saja?? A-apa jangan-jangan aku salah bicara lagi?? Ya Tuhan...... " Sesal Nirmala.
Sedangkan Galvin yang tengah berada di lift nampak sedang memendam kekesalannya, hanya karena seorang office girl saja ia dibuat pusing, bisa-bisa Galvin darah tinggi jika begini terus.
__ADS_1
"Tuan, maaf soal yang tadi. Apa saya perlu memecatnya??" Tanya Martin pada Galvin.
"Jika sudah seperti itu menurutmu apa perusahaan kita masih pantas mempertahankannya?" Ucap Galvin bertanya balik.
Martin menelan ludah dengan susah payah, dari nada bicara Galvin Martin sudah tahu apa yang bos nya ini maksud.
"Baik, Tuan. Maaf atas ketidak pekaan saya"
Ting!
Lift pun terbuka dan keduanya keluar menuju ruangan Presdir di lantai teratas.
***
"Nirmala sini kamu...!" Tarik seseorang pada Nirmala dan membawanya ke sebuah pantry.
"Nirmala apa yang kau lakukan pada Tuan galvin hah?!!" Sentaknya marah.
Nirmala makin tidak mengerti, atasannya ini tiba-tiba begitu murka entah kenapa.
"Ada apa bu Sri? Kenapa Ibu tiba-tiba marah?"
"Tadi aku mendapat telpon dari Tuan Martin, dia bilang kau bertindak tidak sopan pada Presdir Galvin. Apa yang kau lakukan hah?!!"
Nirmala membelalakkan matanya, terkejut karena asisten dari Galvin itu menelpon kepala cleaning servis dan melaporkan perlakuannya.
__ADS_1
"A-aku hanya minta maaf saja, aku tidak berbuat jahat.... " Bantah Nirmala menggeleng-gelengkan kepala.
"Benarkah??! Apa kau tau apa yang Tuan Martin katakan padaku...!!"
Nirmala menggeleng sebagai jawaban.
"Dia memintaku untuk memecatmu sekarang juga!"
DUARRRR......!!
Seketika Nirmala membolakan matanya, bagai disengat petir di siang bolong Nirmala mematung ditempat dengan rasa ketidakpercayaan!
Dipecat???
Tidak! Ia pasti salah dengar!
"T-tidak mungkin... ! Aku tidak mungkin dipecat.... Tidak!!" Ucap Nirmala tak Terima.
•
•
•
•
__ADS_1
Jangan Lupa Vote Karya Ini🥰