Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Klinik


__ADS_3

Sesampainya di klinik Marisa langsung ditangani oleh dokter yang berada disana, Galvin setia menemani istrinya yang sedang dalam penanganan dokter.


Meski tidak ada luka namun Marisa mengeluh kesakitan, hal itu tentu membuat Galvin sangat khawatir.


Setelah mendapat pengobatan Marisa nampak sudah lebih baik, entah apa yang dokter itu beri tetapi Marisa sudah tidak lagi mengeluh kesakitan.


"Bagaimana dok, istri saya tidak kenapa-kenapa kan?" Tanya Galvin saat dokter itu selesai menangani Marisa.


"Istri anda tidak mengalami luka serius, hanya benturan keras yang membuatnya sakit. Tapi saya mohon untuk lebih berhati-hati apalagi jika sedang dalam keadaan mengandung" Jelas sang dokter.


"APA? MENGANDUNG???" Galvin dan Marisa seketika berteriak terkejut.


Keduanya saling pandang saat mendengar penjelasan dokter.


"I-istri saya mengandung, dok?" Tanya Galvin pada dokter.


Dokter yang melihat kebingungan diantara sepasang suami-istri itu bisa menebak jika mereka belum tahu kalau Marisa tengah berbadan dua.


"Iya Tuan, istri anda tengah mengandung. Tapi saya kurang tahu untuk usia bayinya, kalian bisa mendatangi dokter obgyn untuk keterangan lebih lanjut" Ucapnya lagi.


Keduanya mendengar perkataan dokter dengan seksama, masih dalam keadaan terkejut Marisa maupun Galvin masih mematung tanpa mengeluarkan suara apapun.


"Nanti akan saya beri beberapa obat yang harus di tebus di apotik, kalau begitu saya permisi dulu, Tuan dan Nona" Dokter itu pun pergi dari sana meninggalkan pasien yang masih dalam kondisi terkejut.


"Galvin.......

__ADS_1


A-aku hamil........ " Lirih Marisa.


Galvin pun tersadar dari lamunannya, tatapan beralih pada Marisa yang masih berbaring di atas brangkar.


"Apakah aku sedang bermimpi?" Gumam Galvin.


"Tidak Galvin, ini nyata! Aku hamil.... "


Brukk


"Oh sayang aku sangat senang........ Akhirnya kau hamil lagi..... Terimakasih kasih Marisa terimakasih...... "


Cup! Cup! Cup!


Akhirnya perjuangan Galvin untuk mempertahankan Marisa terwujud kembali, di kehamilan yang kedua ini Galvin berjanji tidak akan melewati momen-momen indah yang sebelumnya ia lewati.


Sedangkan Marisa hanya bisa menerima semua perlakuan Galvin, senyum pun tak pernah surut dan terus melekat di bibir manisnya.


Rasa haru yang Marisa rasakan seakan adalah hadiah terindah baginya, tak pernah Marisa bayangkan jika ia akan mengandung lagi anak dari Galvin, tetapi Tuhan masih ingin melihat mereka bersama hingga memperkenankan Marisa untuk hamil anak kedua.


Galvin pun melepaskan pelukannya seraya menangkup kedua pipi sang istri.


"Untung saja kau tidak kenapa-kenapa, jika tidak aku tidak tau apa yang akan terjadi pada anak kita" Ucap Galvin khawatir, sedetik kemudian ingatan kembali tertuju saat Nirmala mendorong tubuh Marisa hingga terjatuh.


Ia pun kembali emosi, wajahnya ikut berubah memerah.

__ADS_1


"Ini semua karena wanita itu!! Aku tidak akan tinggal diam, dia harus mendapatkan balasan karena telah mencelakaimu" Ujar Galvin menakutkan.


Melihat itu Marisa langsung menggenggam tangan suaminya sembari menenangkan amarah Galvin.


"Jangan Galvin! Aku mohon jangan lakukan itu, biarkan yang sudah-sudah yang terpenting bayi kita selamat" Cegah Marisa.


"Tidak Marisa, aku.... "


"Aku tidak mau ada kekacauan lagi, lagipula kau sudah memecatnya kan. Dia tidak akan menganggumu lagi, sekarang kau hanya boleh fokus pada bayi kita... Oke" Ujar Marisa berusaha menenangkan Galvin.


Galvin pun hanya bisa menghela nafas berat, tatapannya tertuju pada perut Marisa yang masih rata. Spontan tangan galvin terangkat untuk mengelus bagian tersebut.


"Apa itu salah satu keinginannya?" Tanya Galvin.


Marisa tersenyum kemudian mengangguk sebagai jawaban.


"Aku rasa iya"


Galvin pun seketika dibuat luluh, dipeluk nya kembali tubuh sang istri yang kini tengah berbadan dua itu.


"Baiklah... Kali ini akan aku kabulkan permintaan nya"


Marisa membalas pelukan Galvin tak kalah hangat.


"Terimakasih Galvin.... "

__ADS_1


__ADS_2