
Keesokan harinya Galvin kembali bekerja ke kantor, awalnya ia masih ingin bekerja di rumah sambil menemani Marisa yang masih belum melanjutkan pekerjaannya di cafe.
Tetapi Marisa berusaha meyakinkan kan Galvin jika dirinya tidak apa-apa di tinggal pria itu bekerja, toh di rumah juga ada banyak pembantu yang akan menemani.
Marisa tak mau Galvin terus-menerus menunda pekerjaan yang sudah lama harus diselesaikan, perusahaan membutuhkan Galvin, Marisa melakukan itu juga demi Galvin dan para karyawan suaminya.
Dengan terpaksa Galvin pun menuruti permintaan Marisa, ia lalu kembali menyelesaikan pekerjaan di perusahaan. Sang asisten terlihat senang saat melihat Galvin turun dari mobil hitam mengkilat tersebut, senyumnya bak orang yang baru saja terselamatkan dari sebuah kesulitan.
Bagaimana tidak, selama Galvin tidak ke kantor semua urusan perusahaan dia yang menyelesaikannya hingga berhari-hari tak pulang ke rumah.
"Selamat datang kembali, Tuan Galvin. Kami senang anda akhirnya kesini" Ucap sang asisten pada Galvin.
Galvin hanya mengangguk sebagai tanggapan, ia pun masuk ke dalam gedung perusahaan di temani oleh asisten yang setia berjalan di belakangnya.
Saat Galvin berjalan menuju lift saat itu juga ia berpapasan dengan Nirmala yang nampak baru saja menyelesaikan pekerjaan.
Senyum mengembang terukir di bibir gadis itu, ia mendekat ke arah Galvin dan memberi sapaan terbaiknya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan Galvin" Sapa Nirmala antusias.
Galvin memutar bola mata malas, masih terlintas jelas di ingatannya ketika terakhir kali ia bertemu dengan wanita ini di kantor.
Flashback on
Ketika kasus Marisa tengah marak di perbincangkan Galvin langsung menyerahkan semua urusan kantor kepada bawahannya, namun ada satu hari dimana ia harus menghadiri meeting penting dengan perusahaan dari Singapura, pertemuan itu tak bisa diwakilkan dan harus dengan pemimpin dari perusahaan itu sendiri.
Alhasil Galvin pun datang ke perusahaan, ketika meeting sudah selesai Galvin dengan segera harus kembali pulang.
Tetapi saat di lobi Nirmala menghadang langkahnya menuju pintu keluar.
Mendengar itu Galvin tidak mungkin membalasnya dengan tidak sopan, apalagi ini masih di dalam kantor.
"Ya, terimakasih atas perhatian" Balas Galvin singkat.
"Sama-sama Tuan, anda jangan bersedih terus. Dalam rumah tangga pasti lika-liku yang harus di jalani, meski ada salah satu yang berkhianat tapi anda harus tetap sabar Tuan" Ucapnya lagi.
__ADS_1
Kali ini Galvin justru merasa tersinggung, alisnya menyatu dan menatap elang pada wanita di depannya.
"Apa maksudmu?!! Siapa yang kau maksud berkhianat??" Sentak Galvin menuntut penjelasan.
"Saya melihat beritanya Tuan, istri anda.... "
"Tutup mulutmu!! Kau tidak tau apa-apa Nirmala..... Jangan menuduh istriku yang tidak-tidak, aku tidak membayar mu untuk itu!" Geram Galvin sembari menunjuk wajah Nirmala.
Nirmala mendadak jadi takut, kenapa jadi begini?? Bukankah berita mengenai perselingkuhan istri dari bossnya ini benar adanya?? Tetapi kenapa Galvin malah membentaknya? Apa ia salah bicara?
"M-maaf Tuan..... S-saya hanya..... "
"Tuan Galvin para wartawan tiba-tiba saja berdatangan, anda harus segera masuk ke mobil sebelum mereka bertambah banyak!!" Ucap sang asisten yang berlari ke arah mereka.
Galvin seketika panik, sebelum ia pergi Galvin memberikan tatapan tajam pada Nirmala. Jika saja situasi sedang tidak seperti ini sudah pasti Galvin tidak akan membiarkan Nirmala begitu saja, namun saat ini bukanlah waktu yang pas untuk sekedar berdebat dengan wanita seperti Nirmala.
Dan akhirnya Galvin keluar dari sana untuk menghindari kerumunan para paparazi.
__ADS_1
Flashback off