
Keesokan harinya Marisa mulai merasakan sakit di seluruh tubuhnya, ia mulai meminta dipijat di bagian punggung untuk meredakan rasa nyeri.
Rasa sakit itu membuat Marisa tak nyaman, ia merubah ubah posisi agar rasa sakit itu hilang.
Dari mulai duduk hingga berjalan-jalan keluar tetapi tak membuat sakit perutnya menghilang.
"Yang mana yang sakit nak?"
"Tolong usap bagian punggung bun... " Pinta Marisa sembari membungkukkan badannya.
Sang Bunda dengan sabar menuruti semua kemauan anaknya, bagaimana pun ia pernah merasakan keadaan seperti Marisa saat ini. Menunggu pembukaan selanjutnya memang sesuatu yang paling sulit dirasanya.
Beberapa kali Marisa mengaduh kesakitan membuat semua orang khawatir dan cemas melihatnya.
"Nak makan dulu sedikit ya, ibu sudah belikan bubur untuk kamu" Bujuk Arini pada menantunya.
"Nanti saja bu, Marisa belum lapar saat ini"
"Kalau begitu minum dulu ya, kamu harus punya energi untuk melahirkan nanti" Tawar Arini.
Marisa pun mengangguk dan mengambil air yang diberikan mertuanya tersebut.
***
Malam harinya Marisa belum juga melahirkan, dokter yang memeriksa Marisa tadi sore juga mengatakan masih belum saatnya.
Hingga malam tiba Marisa merasa perutnya sakit luar biasa.
"Aduhhh...... Bun sakitt...... Ini sakit sekaliiii.....!!" Marisa tiba-tiba berteriak kesakitan, ia memegang perutnya yang mengencang.
Ibunda Marisa langsung bangkit dan ikut panik dibuatnya.
"Kenapa nak??"
"Sakit Buunnn....... Marisa tidak kuattt...... "
__ADS_1
"Hah jangan-jangan..... "
Arini yang melihat itu langsung memanggil dokter dan beberapa perawat.
Para ahli medis berdatangan dan memeriksa kondisi Marisa.
"Sudah pembukaan terakhir, siapkan alat-alat nya!" Ucap dokter.
"Baik dok" Seluruh perawat pun mengambil beberapa peralatan yang dibutuhkan.
"Tolong untuk sebagian orang keluar ya, jangan terlalu banyak berkerumun"
"Aduh bagaimana ini?! Galvin masih belum datang juga" Arini dibuat kebingungan, namun mau tak mau mereka harus keluar dari ruangan tersebut.
Marisa yang berada di dalam akhirnya ditemani oleh sang Bunda, namun ketika perawat hendak menutup pintu tiba-tiba seorang pria berlari dan menahan pintu tersebut.
"Tunggu...!! Saya suaminya, izinkan saya masuk" Ucap Galvin terengah-engah.
"Oh baiklah, silahkan"
Galvin pun langsung masuk ke dalam dan menghampiri Marisa, perempuan itu nampak terkejut namun rasa sakitnya membuat wanita itu tak bisa berkata-kata.
"Eughhhh........ Sakittttttt......... "
"Aku yakin kau bisa..... Jangan menyerah sayang, aku ada disampingmu...... " Ucap Galvin menyemangati sang istri.
"Ayo Nona, mengejan yang keras" Perintah dokter.
"Eughhhhhhhh.... ...!!"
"Huhh.... Huhh....... Eughhhhhhhh!!!"
Galvin menatap tak tega pada Marisa, melihat perjuangan wanita itu membuat Galvin seolah ingin menggantikan posisi Marisa, kini ia hanya bisa menyemangati wanitanya.
"Ayo sayang kau bisa..... "
__ADS_1
Hampir satu jam Marisa berjuang bayi yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir ke dunia dengan selamat, sang dokter memberikannya pada galvin selaku ayah dari bayi tersebut.
"Selamat Tuan, bayi Anda laki-laki"
Galvin menatap haru saat menggendong putra keduanya, ia menatap ke arah Marisa penuh kebahagiaan begitupun dengan Marisa.
Galvin tak bisa membendung air matanya, ia menangis bahagia.
"Terimakasih Marisa, kau sudah mau melahirkan anak untuk ku lagi.... Terimakasih.... Aku mencintaimu" Ungkap Galvin mengecup kening Marisa.
"Aku pun mencintai mu.... "
"Bolehkah aku yang memberi nama untuk bayinya?"
"Tentu.... Kau beri nama dia siapa? "
"Aku beri nama dia Louis Yudha Emerson"
...~TAMAT~...
β’
β’
β’
β’
Hai Semuanya... π
Terimakasih Udah Setia Baca Novel Mamie Yang Satu Ini, Gak Kerasa Udah Tamat Lagi Ceritanya ππ’
Mohon Maaf Juga Mamie Gak Bisa Up Sampe Ratusan Episode ππ»
Semoga Kalian Puas Ya Sama Ceritanya, Next Pantengin Terus Novel Lainnyaπ₯°π₯°
__ADS_1
Terimakasih Banyak ππ
Love β€