Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Suatu Masalah?


__ADS_3

Dua hari berikutnya, kini adalah kepulangan Galvin dari Australia. Tapi marisa masih belum tau kapan lelaki itu akan sampai dan tiba.


Galvin seolah tak ingin memberitahu istrinya tersebut, dan seakan ingin memberi kejutan pada sang istri atas kepulangannya.


Marisa pun tak memaksa, ia pun penasaran dengan apa yang akan dilakukan suaminya itu.


"Mah, papah pulang kapan? Kok lama sekali?" Tanya Devano yang sudah terbaring hendak di tidurkan.


"Malam ini papah pulang sayang"


"Benarkah?? Kalau begitu Devano ingin menunggu papah saja" Ucap Devano bersemangat.


Namun, Marisa melarang anak tunggalnya itu untuk bergadang. Meski Devano sangat antusias akan kepulangan Galvin tetapi bergadang bukanlah hal yang bagus untuk dilakukan.


"Devano tidak boleh tidur malam, sayang. Tidurlah sekarang, nanti kalau Devano bergadang yang ada Devano sakit" Ujar Marisa menasehati.


"Tapi Devano ingin bertemu papah, mah... " Rengek bocah itu pada sang Ibu.


"Kalau menunggu pasti lama, lebih baik Devano tidur dan saat bangun sudah ada papah di rumah" Bujuknya.


Mendengar nasihat dari Ibunya, Devano pun akhirnya menurut dan memilih tidur dengan segera, berharap pagi segera tiba agar dirinya bisa bertemu dengan sang papah dengan cepat.


Setelah Devano tidur marisa lantas keluar dari sana, kemudian berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai dua.


Sesampainya di dalam kamar Marisa mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas, tidak ada panggilan atau pesan apapun dari Galvin.

__ADS_1


Jam masih menunjukkan pukul sembilan, kira-kira jam berapa suaminya sampai di rumah?? Rasanya ia sudah tak sabar ingin memeluk tubuh tegap itu.


Marisa pun kembali meletakkan ponsel saat ia hendak merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Tetapi, baru saja Marisa berbaring tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk.


Marisa lalu bangkit kembali dan mengecek siapa yang menelponnya, apakah itu Galvin??


Tetapi nama yang muncul bukanlah nama suaminya, melainkan salah satu pegawai Marisa di cafe.


"Mila? Tumben sekali dia menelpon... "


Marisa lantas mengangkat sambungan telepon itu dan bertanya ada apa.


"Hallo, Mila?"


"Iya, Mila ada apa?"


"Bisakah anda kemari sekarang? Ada masalah di cafe" Ucapnya.


Marisa mengernyitkan kedua alis, ini sudah waktunya cafe tutup. Memang ada masalah apa disana?


"Masalah? Apa yang terjadi?"


"Nanti akan saya beritahu jika anda sudah sampai" Jawab Mila, suaranya terasa berbeda dan terkesan menakutkan.

__ADS_1


"Tapi.... Ini sudah malam, aku akan kesana besok saja"


"Ini penting, Nyonya! Tolong segera kemari"


Marisa mendesah berat, Mila tidak mau memberitahu nya masalah apa yang terjadi. Tetapi wanita itu bersikeras agar dirinya datang ke cafe sekarang juga, sungguh Marisa menjadi bingung sekarang.


"Baiklah.... Aku akan kesana sekarang"


"Baik Nyonya, saya tunggu kedatangan Anda"


Tuttttttttt.........


Telepon pun ditutup oleh Mila, kini mau tak mau Marisa harus pergi ke cafe sekarang juga. Padahal dirinya tengah menanti kepulangan Galvin, tetapi masalah justru muncul diwaktu bersamaan.


Marisa lantas mengganti pakaian dan keluar dari kamar, ia memanggil Yanti yang baru saja selesai membersihkan area dapur.


"Yanti aku harus ke cafe sekarang, aku titip Devano sebentar"


"Baik Nyonya, Anda tenang saja.


Oh ya, Apakah anda kesana sendirian??" Tanya Yanti.


"Iya, ada masalah di cafe. Mungkin satu sampai dua jam aku baru pulang"


"Baik Nyonya, hati-hati dijalan"

__ADS_1


Marisa mengangguk sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya.


__ADS_2