Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Rindu Berat


__ADS_3

Kini sudah hari ketiga Marisa ditinggalkan Galvin ke Australia, dan selama tiga hari itu pula dirinya selalu berkomunikasi dengan sang suami tanpa henti melalui ponsel pintarnya.


Hampir semua kegiatan Marisa ia selalu ditemani ponsel yang terhubung dengan Galvin di balik sambungan telepon, bahkan hingga tidur menjelang sambungan telepon itu masih terhubung satu sama lain meski zona waktu diantara dua negera itu berbeda.


Seperti sekarang ini, Marisa yang baru saja menidurkan Devano nampak masih bertelponan dengan Galvin.


"Apa kau ingin tidur sekarang?" Tanya Galvin disana.


"Ini masih jam sembilan, aku terbiasa tidur jam satu pagi" Jawab Marisa diiring tawa kecilnya.


"Hahaha..... Kau benar juga, setelah devano tidur kita biasanya bencinta terlebih dahulu" Ucap Galvin terbahak-bahak ketika mengingat kegiatan mereka hingga dini hari.


"Ya begitulah, tapi sepertinya malam ini aku bisa tidur lebih awal" Ungkap Marisa.


"Tapi aku belum mengantuk, apa yang akan ku lakukan setelah kau tidur?? Aku pasti kepikiran dirimu lagi" Lirih Galvin sendu.


"Kau juga pasti lelah disana, sebaiknya kau juga tidur jika sudah selesai bekerja"


"Huffft.......... Aku tidak bisa tidur selama disini, aku selalu terbangun kapanpun. Mungkin karena tidak ada dirimu"


"Benarkah?? Ya sudah, sabar saja. Kan tinggal dua hari lagi kau disana, setelah itu kita bisa bersama"


"Meski dua hari tapi terasa lama bagiku, tidakkah kau merasakan itu juga?" Tanya Galvin penasaran.


Marisa nampak berpikir sebentar, menimang-nimang jawaban apa yang akan ia ajukan.


"Emm..... Ya, aku juga sedikit merasakannya" Jawab Marisa.


"Sedikit???" Teriak Galvin terdengar marah.


Marisa seketika membeku dan sedikit menjauhkan ponsel dari telingannya.

__ADS_1


Apakah ucapannya salah?


"I-iya......


K-kenapa kau marah seperti itu?"


"Hahhh......... Sudahlah, aku akan tutup teleponnya. Sebaiknya kau tidur" Ujar Galvin tiba-tiba.


Hal tersebut jelas membuat Marisa heran dan cemas, perubahan sikap Galvin membuat Marisa jadi kelabakan.


"Tunggu galvin....! Jangan tutup telponnya.


Maaf.... Maaf jika aku membuatmu kesal" Cegah Marisa dengan cepat.


"Sudahlah tidak usah dipikirkan, aku tau kau lelah dan ingin segera tidur" Ucap Galvin ketus.


"Tunggu Galvin..... Kau salah paham.... " Kata Marisa selembut mungkin.


Galvin yang tadinya diliputi oleh api seketika padam saat mendengar perkataan sang istri, hatinya langsung luluh dan menghangat.


"Kau berkata begini bukan hanya untuk merayu ku saja kan?"


"Tentu saja bukan, aku berkata jujur sesuai apa yang aku rasakan"


"Kau sedang tidak berbohong?"


"Untuk apa aku berbohong? Aku benar-benar merindukanmu. Tapi aku tak mau menganggu pekerjaan mu, makanya aku bersikap biasa-biasa saja" Jelasnya pada Galvin.


"Kalau begitu tunjukkan seberapa rindunya kau padaku!"


"Hah?? Apa maksudmu?" Tanya Marisa tak mengerti.

__ADS_1


"Aku ingin tau bagaimana kau mendefinisikan rasa rindumu itu" Ucap Galvin yang mana langsung mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video.


Marisa terdiam sebentar, pikiran-pikiran kotor mulai menggerogoti otak Marisa. Ia menggigit bibir bawahnya dan menatap ragu pada Galvin yang tengah menatap dirinya.


"M-maksudmu..... A-aku harus..... "


"Ya, lakukan seperti yang kau pikirkan"


"T-tapi.............. "


"Ayo sayang aku ingin melihatnya" Pinta Galvin tak sabar.


Dengan ragu-ragu Marisa pun bangkit dan meletakkan ponselnya di atas nakas yang langsung menghadap ke arahnya.


"A-aku malu, Galvin...... "


"Jangan malu, aku tidak akan menertawakan mu" Ucap Galvin meyakinkan.


Akhirnya dengan perlahan-lahan Marisa pun mulai membuka kancing piyama dan.....


*Kalian pikir saja sendiri🤣


•


•


•


•


Ditunggu Votenya Ya Teman-teman 😇😘

__ADS_1


__ADS_2