Anggap Aku Ada, Suamiku

Anggap Aku Ada, Suamiku
Harus Pergi


__ADS_3

Dua hari kemudian...


Setelah peristiwa romantis yang terjadi di danau beberapa hari yang lalu kini Galvin justru harus pergi ke Australia karena urusan bisnis.


Padahal mereka baru saja mengungkapkan perasaan satu sama lain dan seharusnya mereka tengah romantis romantis nya saat ini.


Tetapi karena tuntutan pekerjaan Galvin harus pergi ke negara kangguru itu sebagai pemimpin dari perusahaannya.


Sungguh berat untuk Galvin dan Marisa, Galvin sendiri pun bahkan sempat berpikir untuk tidak hadir di acara tersebut.


Namun, marisa tak mau menjadi penghambat pekerjaan sang suami, Marisa kemudian menasihati lelakinya untuk tetap pergi menghadiri acara yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.


Lagipula mana mungkin Marisa membiarkan Galvin tidak pergi dengan alasan ingin selalu dekat dengannya.

__ADS_1


Marisa juga tidak bisa ikut pergi dikarenakan ia tidak mungkin meninggalkan Devano yang masih harus bersekolah.


"Galvin kau harus tetap pergi ke sana, jika tidak itu pasti akan mempengaruhi perusahaan" Ucap Marisa pada sang suami.


"Tapi aku tidak bisa pergi tanpamu, bagaimana jika aku rindu disana??" Cecar Galvin beralasan.


Marisa menggeleng kepalanya, Galvin benar-benar manja dan selalu bersikap aneh semenjak kemarin.


Lelaki ini begitu berlebihan dan terkesan lebay, tetapi Marisa pun bisa merasakan apa yang Galvin rasa saat ini memanglah sulit bagi lelaki itu.


"Tidak lama?!! Jelas-jelas lima hari itu lama sekali marisa..... Aku bisa tidak tahan terlalu lama tanpamu" Protes Galvin sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang. Pria dewasa itu nampak seperti anak kecil sekarang.


"Kau ini.... Dulu kau bahkan hampir sebulan berada LA untuk mengurusi pekerjaannya mu" Kata Marisa menohok, Galvin langsung membeku dan membelalakkan matanya. Ucapan Marisa membuat Galvin skakmat dibuatnya.

__ADS_1


Ia jadi ingat jika dulu ia sering menghadiri pertemuan di luar negeri demi menghindari Marisa, dan sekarang ia sungguh menyesal telah melakukan itu. Kini dunia seolah berbalik dan Galvin seakan mendapat karma dari perbuatan.


"K- kenapa kau jadi bahas itu...?? D-dulu dan sekarang berbeda tidak bisa disamakan!" Ucap Galvin tergagap-gagap.


Marisa tertawa mendengarnya, ia tahu Galvin sedang mengelak tapi nada bicara nya sungguh menggelitik telinga Marisa.


"Ya sudah, aku tidak akan bahas itu lagi. Tapi kau harus tetap pergi ke Australia, ini acara penting kau harus ingat"


"Kenapa kau sangat ingin aku pergi sih??!! Memang kau tidak akan merindukan ku disini??" Tanya Galvin kesal, apakah istrinya ini sama sekali tidak merasakan apa yang sedang ia rasakan?? Ya benar saja!


"Bukan begitu, aku juga pasti akan sangat merindukanmu. Tapi akan sangat aneh rasanya jika kau tidak pergi hanya karena tidak ingin berpisah dariku, sedangkan kau tahu perusahaan sangatlah membutuhkanmu" Tutur Marisa meluruskan, Galvin sungguh sensitif jika berurusan dengannya.


"Ya sudah iya, aku akan pergi! Tapi kau harus janji akan selalu menghubungiku dan selalu ada disaat aku menghubungimu. Dan aku tidak mau jika kau sampai mengabaikan panggilan dariku jika aku sudah sampai disana, jika itu terjadi maka aku akan langsung pulang detik itu juga!" Ucap Galvin terdengar tegas.

__ADS_1


Marisa mengangkat satu tangannya dan membelai pipi sang suami, " Tentu saja, aku bahkan berjanji tidak akan mematikan sambungan telepon sebelum kau yang mematikan nya " Tambah Marisa.


Dan kini lelaki itu terlihat sedikit lega, meski masih berat untuk berpisah dengan istrinya beberapa hari ke depan tapi mau tak mau Galvin mesti menghadiri acara di Australia yang mana pertemuan itu sangat berpengaruh bagi perkembangan perusahaannya.


__ADS_2