
Flashback on
Pukul sembilan malam pesawat yang Galvin tumpangi akhirnya mendarat dengan sempurna di bandara internasional.
Hatinya sungguh bahagia karena bisa pulang dan bertemu dengan istri serta anaknya. Galvin sudah tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di rumah.
Galvin pun membawa kopernya dan masuk ke dalam mobil yang ia parkirkan di parkiran inap.
Mobil hitam itu pun melaju dan membelah keramaian kota.
Disaat perjalanan Galvin menyempatkan diri untuk menghubungi Marisa, ia ingin memberitahu wanitanya jika ia sudah sampai dan sedang dalam perjalanan pulang.
Namun, telepon Galvin tak diangkat oleh wanita itu.
Galvin pun kembali menelpon hingga sambungan ke lima kali panggilannya tetap tak ada respon.
Alis Galvin mengkerut bingung, apakah Marisa sudah tidur di jam seperti ini??
Karena tak mendapat jawaban Galvin lantas menelpon ke nomor rumahnya.
Dalam satu kali panggilan sambungan teleponnya langsung terhubung ke nomor rumah.
"Hallo?"
Suara perempuan yang tak lain adalah Yanti sang pembantu terdengar dari balik ponsel Galvin.
"Hallo Yanti, ini aku"
"Tuan Galvin?? Ah... Maaf Tuan saya kira bukan anda. Iya Tuan, ada apa?"
"Apakah istriku ada disana? Tadi aku menelpon nya tetapi tidak diangkat, mungkinkah ia sudah tidur?" Tanya Galvin.
"Nyonya Marisa tadi sedang keluar, Tuan. Katanya akan ke cafe sebentar"
__ADS_1
"Ke cafe??"
"Iya Tuan, Nyonya bilang ada masalah di cafe. Jadi beliau pergi"
"Dari jam berapa dia pergi?"
"Baru beberapa menit yang lalu, Tuan"
"Baiklah, aku akan kesana sekarang. Terima kasih"
"Sama-sama, Tuan"
Tuttttt............
Mendengar sang istri yang sedang berada di cafe Galvin pun membelokkan arah tujuannya, ia ingin menyusul Marisa ke sana.
Siapa tahu istrinya sedang butuh bantuan, lagipula ada masalah apa dengan cafe Marisa?? Pasti perempuan itu sedang cemas saat ini.
Galvin mempercepat gerak laju kendaraannya, ia ingin cepat-cepat bertatap muka dengan sang istri, memberi kejutan pada wanita itu di kala kecemasan yang tengah dirasakan marisa.
Sesampainya di depan cafe Galvin langsung keluar dari mobil, cafe istrinya sudah tutup dan terlihat sangat sepi.
Benarkah Marisa ada di dalam sana?
Kaki jenjang Galvin lantas melangkah ke dalam tempat itu.
Clekkk
Pintu cafe tidak dikunci! Artinya memang ada orang di dalam sana.
Namun saat ia masuk tidak ada siapapun.
Langkah kaki Galvin terus berjalan, pandangannya menelusuri setiap sudut cafe.
__ADS_1
Benar-benar tidak ada siapapun!
"Jangan bergerak sayang... Kau kan sudah pernah melakukan hal seperti ini"
Deg!
Suara samar-samar terdengar jelas melewati gendang telinga Galvin!
Pria itu langsung menoleh ke arah sumber suara.
Suara lelaki itu terdengar dari dalam pintu bercat kayu yang tak jauh darinya.
"Jangan takut sayang.... Aku akan melakukannya dengan pelan"
Galvin mempercepat langkah kakinya, sesampainya di depan pintu galvin tak langsung membuka pintu tersebut, ia ingin tahu siapa orang yang ada di dalam sana.
"Tenanglah..... Kau melakukannya dengan orang yang mencintaimu, Marisa"
Duarrr!!!
Galvin terbelalak dengan lebar, suara lelaki itu menyebut nama istrinya! Apa yang dilakukan mereka berdua???
Tanpa menunggu lama Galvin langsung menendang pintu tersebut dengan sekuat tenaga hingga terbuka dalam sekali hentakan.
BRAKKK......
"Galvin....?"
Jedarrrr!!!!
Bagai disambar petir di dalam ruangan, Galvin seketika mematung di tempat melihat pemandangan di hadapannya!
Melihat sang istri yang berada dalam kukungan pria yang tak lain adalah Abrian!
__ADS_1
Jantung serta hati Galvin seolah terlepas dari tempatnya dan terbelah hingga berkeping-keping melihat adegan intim yang baru saja akan dimulai oleh dua manusia tesebut.
Flashback off