
Di saat pertempuran hebat tengah berlangsung Marisa terus-menerus meminta Galvin menuruni kecepatan tempo permainan, pria ini begitu brutal seolah-olah waktu bercinta mereka hanya tersisa beberapa menit lagi.
Dari arah belakang Galvin terus me maju-mundurkan tubuhnya untuk mendapat pelepasan yang ke tiga kali, hampir dua jam mereka bercinta Galvin maupun Marisa seakan tak ada niatan untuk mengakhiri penyatuan.
Mereka sangat menikmati moment-moment tersebut, melepas kerinduan dengan saling memberikan kenikmatan satu sama lain.
Siang hari yang panas tak membuat mereka ingin buru-buru berguyur di kamar mandi untuk menyegarkan diri, hanya keringat lah yang membasahi seluruh tubuh mereka berdua.
******* Marisa terdengar merdu di telinga Galvin, ia semakin suka membuat istrinya meracau dan menjerit di dalam kukungannya.
Tubuh Marisa bak candu yang selama ini tidak Galvin sadari keberadaannya, bersama Marisa ia selalu dalam situasi bergairah, ia sendiri pun tak tahu bagaimana cara agar menghentikan hasrat yang selalu menggelilingi jiwanya.
Setelah puas dengan gaya ***** ***** Galvin pun merubah gaya bercinta mereka, pria itu menduduki Marisa di atas perutnya supaya Marisa dapat memimpin permainan.
Marisa terlebih dahulu mencium bibir sang suami sebelum akhirnya ia memasukan si perkasa ke dalam tempatnya dan mulai menggoyangkan tubuh dengan tempo yang tidak cepat maupun tidak pelan.
Sedangkan Galvin sibuk memainkan dua gundukan Marisa yang ikut bergoyang ke sana kemari saat Marisa bergerak, Galvin menghisap benda itu layaknya seorang bayi yang baru lahir.
Marisa pun akhirnya menuruti permintaan Galvin dan bermain lebih cepat, mereka berdua mendesah dan mengerang bersama-sama, tak ada yang lebih nikmat memang selain surga dunia apalagi jika bisa sepuasnya melakukan hal itu tanpa ada halangan apapun.
Drttt...... Drttt...... Drttt......
Sebuah suara panggilan telepon membuat kedua manusia tersebut menoleh pada ponsel Galvin yang tergeletak di atas nakas, Marisa langsung memandang wajah suaminya seolah memberi isyarat.
"Biarkan saja" Ucap Galvin.
Namun ponsel itu lagi-lagi berdering dan membuat Marisa tak leluasa melakukan percintaan.
"Galvin..... Sebaiknya angkat saja telepon itu" Suruh Marisa sambil berhenti melakukan aktivitasnya.
"Baiklah, tapi aku ingin pelepasan dulu" Dengan cepat Galvin merubah posisi hingga mereka berbaring sambil berhadap-hadapan, ia mengangkat satu kaki Marisa dan memasukan juniornya lagi.
Kali ini Galvin bermain sangat cepat, Marisa pun berteriak lebih keras sampai Galvin akhirnya mendapat pelepasan untuk yang kesekian kali.
Keduanya ambruk dengan nafas mereka terengah-engah saat menyudahi permainan.
__ADS_1
Galvin kemudian mencium bibir Marisa dan mengucapkan terima kasih pada sang istri, barulah ia bangkit untuk memakai boxer lalu mengangkat sambungan telepon.
Dilihat sang asisten lah yang menghubungi Galvin beberapa kali, Galvin sudah menduga apa yang akan bawahannya tersebut katakan.
Tak mau membuang waktu Galvin pun men-deal tombol hijau dilayar ponselnya.
"Hallo... "
"Hallo Tuan, maaf menganggu waktu anda.. "
"Ya tidak apa-apa, katakan ada apa...?"
Marisa yang terbaring di ranjang hanya bisa mengamati apa yang dilakukan suaminya, ia sangat lelah dan butuh istirahat sejenak.
"Aku masih ada urusan disini, mungkin.... Beberapa hari lagi aku akan pulang. Kau urus saja apa yang bisa dikerjakan sekarang, aku mempercayai mu"
"Baik Tuan, kalau begitu saya akan kembali bekerja. Terimakasih atas waktunya, selamat siang"
Tutttt...................
Telepon pun berakhir dengan cepat, Galvin pun berbalik dan hendak kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Urusan pekerjaan?" Tanya Marisa.
"Iya, tapi sudah aku serahkan semua pada asisten ku" Jawab Galvin.
"Sepertinya mereka sedang membutuhkan mu, apa tidak sebaiknya.... Kita pulang sekarang?" Tanyanya lagi yang langsung dibalas gelengan oleh Galvin.
"Tidak, tidak perlu! Lagipula ini bukan hal yang serius. Sudah aku tangani kau tenang saja" Ucap Galvin menjelaskan.
"Tapi....... "
"Sssstttttt........! Tidak ada yang perlu di khawatiran, aku sengaja mengulur waktu agar bisa menghabiskan waktu besama mu. Jadi lebih baik kita nikmati saja hari-hari selama masih ada disini, Oke" Ujar Galvin tanpa mau ada penolakan.
Marisa pun mengangguk pasrah, tak dipungkiri ia juga sama seperti Galvin yang masih ingin menghabiskan waktu berdua meski hanya didalam kamar saja.
__ADS_1
"Baiklah aku mengerti"
Galvin tersenyum dan menarik tengkuk Marisa untuk mencium bibir merah itu, Galvin sangat suka menjelajahi setiap rongga mulut Marisa sampai bunyi decapan kian menggema di setiap sudut ruangan.
Marisa meletakkan kedua lengan di atas dadaa bidang Galvin sembari mengelus lembut kulit liat itu.
Galvin juga melepas selimut yang melilit tubuh istrinya kemudian mengangkat Marisa layaknya seekor koala, Galvin membawa Marisa ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tetapi sesampainya di sana Galvin justru menghimpit Marisa ke dinding tanpa melepas gendongannya.
Mereka pun bercumbu dengan sangat mesra hingga menimbulkan ******* ******* halus yang keluar dari bibir Marisa.
Galvin menyalakan air shower lalu kembali memasukkan miliknya pada milik sang istri dan mulai menaik-turunkan badan Marisa di bawah guyuran air.
Sensasi yang berbeda pun mereka rasakan dengan bercinta di kamar mandi, suara erangan bahkan mengalahkan percikan air yang berjatuhan ke bawah lantai.
Saat tenaga Galvin mulai terkuras lelaki tersebut menurunkan Marisa dan menyuruh wanita itu untuk tetap berdiri.
Sedangkan Galvin berjongkok dan membuka kaki Marisa sedikit lebar.
Hal yang tak diduga pun terjadi lagi, Galvin kembali mengeksplor tempat tersembunyi itu dengan lidahnya, Galvin memberi Marisa sentuhan lembut yang mana membuat Marisa merasa nyaman dan semakin tergila-gila.
Tiga puluh menit kemudian, barulah mereka benar-benar melakukan ritual mandi yang sesungguhnya.
Perut mereka sudah berbunyi pertanda memasuki jam makan siang.
Kali ini Marisa tidak hanya menyiapkan pakaian untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk sang suami.
"Pakaian yang kau bawa hanya sedikit, tidak akan cukup untuk besok. Bagaimana jika kita membeli pakaian untukmu nanti malam?" ajak Marisa saat ia melihat pakaian yang dibawa Galvin dalam tas ransel.
"Boleh, sekalian membeli oleh-oleh untuk Devano" sahutnya.
"Baiklah"
Setelah selesai memakai baju Marisa lantas memesan makan siang, kali ini makanan yang Marisa pesan lebih banyak dibanding saat Galvin memesan makanan untuk sarapan. Karena seusai bercinta mereka tidak langsung tidur maka otomatis tenaga mereka benar-benar habis tak tersisa.
__ADS_1
***
Hai guys, maaf mamie baru up. sebenarnya udah dari kemarin mamie up tapi masih di review terus dan hari ini episode nya di tolak karena terlalu vurgar 🤣🤭 jadi mamie harus revisi lagi wkwkwk. mohon maaf ya readers 😆🙏