Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Kapal dan Badai


__ADS_3

Ombak berdebur dengan suara keras, berdentum setiap kali


menghantam lambung kapal, kayu-kayu bergemertak berkeriut seiring dengan


goyangan kapal. Angin bersiutan, kilat menyambar dan guntur mengelegar membuat


udara bergetar.


Udara dingin menusuk kulit, sementara bau busuk menguar bercampur


dengan bau pesing. Ruangan remang remang bermandikan cahaya dari lilin kecil,


yang dalam setiap hembusan angina bergoyag, mengoyangkan keteguhannya untuk


menyala seakan engan. Tapi waktu membuktikan dia terus menyala meski angin


berusaha meniupnya.


Sebuah meja persegi terpaku di tengah-tengah ruangan, ada dua


buah cangkir kayu bertengger di atasnya. Di depannya dua orang pelaut duduk


berhadapan. Gerakan ombak membuat kapal bergoyang miring, cangkir mereka meluncur


ke satu sisi, sebelum cangkir itu mencapai ujung lainnya, ombak telah


mengerakan kapal miring ke sisi yang lain. Dan lagi cangkir mereka meluncur ke


sisi yang lain.


"Badai sialan," celuntuk si pria berubuh kurus, Ned si


mata satu. Dia menangkap cangkirnya dengan keakuratan yang cukup mencengangkan

__ADS_1


mengingat cara bicaranya, yang sudah menjadi indikasi seberapa mabuk dirinya.


"udara dingin ini bikin kaki ku ngilu."


"Aku tau apa yang bisa bikin kau hangat," kata Tod si


pria gempal sambil melirik ke seberang ruangan. Menatap gadis yang bergelung di


sisi lain ruangan.


Gadis itu  begidik


ketakutan, memeluk lutut dengan sebisa tangannya yang terbelengu di depan. Jeruji


memisahkan ruangannya dan tempat para pelaut itu duduk, tapi tidak dari pandangan


dan celotehan mereka yang mesum. Tawa mengelegar keluar kedua pelaut itu


melihat sik gadis ketakutan.


modern kontras dengan baju para pelaut, yang seakan-akan keluar dari buku


fantasi sejarah. Berulang kali gadis itu mengulang mantra yang sama dibenaknya,


ini hanya mimpi buruk. Tapi dia tak pernah terbangun.


"Master pasti sangat suka kau," kata si Tod, dia


menjilat bibirnya. Gadis itu tak perlu melirik untuk mengetahuinya, pria itu sering


berdiri di depan jeruji dan melontarkan kata-kata menjijikan.


Ned si mata satu tertawa. "Jangan bikin dia takut, Tod. Kita

__ADS_1


tau benar apa yang terjadi pada mereka, aku hanya berharap bisa mencicipi yang


satu ini."


"Kau benar Ned, semoga master tetep membiarkannya utuh


setelah memakainya."


Tod meneguk birnya. Mereka tertawa dan melontarkan komentar


cabul. Gadis itu mencoba sebaik-baiknya untuk tidak mendengarkan.


Mereka telah berlayar selama beberapa hari. Badai mengamuk sejak


beberapa malam yang lalu, suaranya riuh terdengar.


Sejak dia di bawa ke dalam kapal, Gadis itu telah berdoa agar kapal


mereka tengelam sejak suara halilintar terdengar di kejauhan, tapi kapal yang terlihat


lapuk itu tetap bertahan meski diterjang badai sejak berhari hari yang lalu. Waktu


seakan berhenti baginya, atau mungkin itu hanya perasaannya. Ketakutan terus


saja datang menancap tak mau pergi.


Dan ketika suara badai mulai mereda, ketakutan gadis itu semakin


menjadi. Inilah akhir baginya.


 


__ADS_1


Hai reader... salam kenal dari shameless writter please baca novel aku ya... kasih like coment dan follow.. aku butuh dukungan dan feedback kalian untuk terus bisa nulis dan berkarya. :) :) :)


__ADS_2