
Ombak berdebur dengan suara keras, berdentum setiap kali
menghantam lambung kapal, kayu-kayu bergemertak berkeriut seiring dengan
goyangan kapal. Angin bersiutan, kilat menyambar dan guntur mengelegar membuat
udara bergetar.
Udara dingin menusuk kulit, sementara bau busuk menguar bercampur
dengan bau pesing. Ruangan remang remang bermandikan cahaya dari lilin kecil,
yang dalam setiap hembusan angina bergoyag, mengoyangkan keteguhannya untuk
menyala seakan engan. Tapi waktu membuktikan dia terus menyala meski angin
berusaha meniupnya.
Sebuah meja persegi terpaku di tengah-tengah ruangan, ada dua
buah cangkir kayu bertengger di atasnya. Di depannya dua orang pelaut duduk
berhadapan. Gerakan ombak membuat kapal bergoyang miring, cangkir mereka meluncur
ke satu sisi, sebelum cangkir itu mencapai ujung lainnya, ombak telah
mengerakan kapal miring ke sisi yang lain. Dan lagi cangkir mereka meluncur ke
sisi yang lain.
"Badai sialan," celuntuk si pria berubuh kurus, Ned si
mata satu. Dia menangkap cangkirnya dengan keakuratan yang cukup mencengangkan
__ADS_1
mengingat cara bicaranya, yang sudah menjadi indikasi seberapa mabuk dirinya.
"udara dingin ini bikin kaki ku ngilu."
"Aku tau apa yang bisa bikin kau hangat," kata Tod si
pria gempal sambil melirik ke seberang ruangan. Menatap gadis yang bergelung di
sisi lain ruangan.
Gadis itu begidik
ketakutan, memeluk lutut dengan sebisa tangannya yang terbelengu di depan. Jeruji
memisahkan ruangannya dan tempat para pelaut itu duduk, tapi tidak dari pandangan
dan celotehan mereka yang mesum. Tawa mengelegar keluar kedua pelaut itu
melihat sik gadis ketakutan.
modern kontras dengan baju para pelaut, yang seakan-akan keluar dari buku
fantasi sejarah. Berulang kali gadis itu mengulang mantra yang sama dibenaknya,
ini hanya mimpi buruk. Tapi dia tak pernah terbangun.
"Master pasti sangat suka kau," kata si Tod, dia
menjilat bibirnya. Gadis itu tak perlu melirik untuk mengetahuinya, pria itu sering
berdiri di depan jeruji dan melontarkan kata-kata menjijikan.
Ned si mata satu tertawa. "Jangan bikin dia takut, Tod. Kita
__ADS_1
tau benar apa yang terjadi pada mereka, aku hanya berharap bisa mencicipi yang
satu ini."
"Kau benar Ned, semoga master tetep membiarkannya utuh
setelah memakainya."
Tod meneguk birnya. Mereka tertawa dan melontarkan komentar
cabul. Gadis itu mencoba sebaik-baiknya untuk tidak mendengarkan.
Mereka telah berlayar selama beberapa hari. Badai mengamuk sejak
beberapa malam yang lalu, suaranya riuh terdengar.
Sejak dia di bawa ke dalam kapal, Gadis itu telah berdoa agar kapal
mereka tengelam sejak suara halilintar terdengar di kejauhan, tapi kapal yang terlihat
lapuk itu tetap bertahan meski diterjang badai sejak berhari hari yang lalu. Waktu
seakan berhenti baginya, atau mungkin itu hanya perasaannya. Ketakutan terus
saja datang menancap tak mau pergi.
Dan ketika suara badai mulai mereda, ketakutan gadis itu semakin
menjadi. Inilah akhir baginya.
__ADS_1
Hai reader... salam kenal dari shameless writter please baca novel aku ya... kasih like coment dan follow.. aku butuh dukungan dan feedback kalian untuk terus bisa nulis dan berkarya. :) :) :)