
Sehari kemudian Frya mengajaknya Rae ke Celestia, Celestia merupakan ibukota kerajaan Ljósaflar. Sebelum mereka berangkat Kaltaria telah memberi Rae baju Ljósálfar, yaitu gaun ringan panjang dalam warna pastel, bayunya berwarna hijau. Kaltaria juga memberikan sebuah jubah dengan tudung, warna jubahnya coklat gelap hampir hitam. Frya menyuruhya untuk memakainya sepanjang perjalanan. “Tidak baik jika ada yang mengetahui dirimu sebelum kau bertemu dengan orang tua ku,” kata Frya. Mereka berdiri di depan pintu pondok Kaltaria. Frya menaikan tudung Rae hingga menutupi seluruh kepalanya dan sebagian dari wajahnya.
Seekor kuda berdiri tak jauh dari mereka.
Mereka berniat untuk bertemu dengan orang tua Frya dulu, sebelum Frya dapat menentukan langkah selanjutnya, Karena Rae tidak tahu cara menungang Kuda Frya hanya menyiapkan seekor kuda untuk mereka.
Tanpa tempat duduk.
Frya membantu Rae naik di belakang, dia mengangkat Rae yang tengah mengendong anak kucingnya dalam pelukan dengan mudahnya. Setelahnya dia melompat kebelakang Rae dengan elegan, seperti semua gerakannya, seakan dia terbang.
Mereka mengucapkan selamat tinggal pada Kaltaria, rantainya bergremincing setiap kali dia bergerak. Rae melihatnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Senyum Kaltaria selalu menenangkannya, akan tetapi rantai yang ia gunakan memberi rasa begidik di tengkuknya. Dia tak pernah bertanya, terlalu takut untuk bertanya. Mereka berkuda sedikit lebih cepat, karena Frya takut mereka tidak akan sampai di tempat aman sebelum matahari tengelam.
Mereka berkuda sepanjang jalan setapak tersembunyi di hutan itu, Rae terpana saat melintahi pepohonan di kedalaman hutan Reokwood, pepohonan itu seakan bergerak kesamping dengan sendirinya, memberi jalan bagi kuda mereka.
Tak hanya itu, kadang mereka juga bertemu dengan para penghuni hutan Reokwood. Mereka malu-malu mengintip dari jauh. Hutan ini tak begitu menakutkan di siang hari. Terutama saat ia tak sendirian.
Saat siang hari mereka menyiapkan tempat untuk berpiknik di sebuah pohon tumbang, dengan bekal yang dibawakan oleh Kaltaria. Kaltaria juga memberi mereka susu untuk kucingnya, dia telah menambahkan ramuan nutrisi agar kucingnya bisa bertahan tanpa susu dari induknya. Rae menaruh susu itu di sebuah mangkuk dan membiarkan kucingnya menjilati susu itu dengan rakus.
“Aku perlu memberimu sedikit gambaran tentang Ar’chismaytopia, setidaknya saat kita sampai di Celestia kau tidak akan terlalu kaget, karena kau berasal dari dunia luar, kau pasti tidak tahu terlalu banyak tenang tempat ini,” kata Frya Memulai. Rae menanguk mulai mengunyah daging kering di mulutunya. “Tempat ini seperti yang kau lihat ditinggali berbagai macam mahkluk sihir. Dari yang memiliki kercerdasan hinga yang tidak memiliki. Beberapa ras memiliki wilayah kekusaaan dengan system pemerintahaan mereka sendiri, ada tiga ras besar yang mendiami wilayah utama Ar’chismaytopia. Mereka adalah Ljósáflar, Svártálfar, dan yang terakhir dan yang memiliki kekuasaan terbesar adalah kerajaan penyihir. Kami menjaga keseimbangan kedamaian diantara ke tiga kerjaan hinga akhir-akhir ini..,” Frya terlihat ragu-ragu sejenak. Kemudian dia melanjutkan. “Sekarang Ljósáflar menarik diri di kedalam hutan Reokwood.” Rae penasaran akan tetapi melihat keragu-raguan Frya dia tidak bertanya lebih lanjut. Akan tetapi…
“Ljó… Ljósáflar dan Svártálfar?” tanya Rae. Kucingnya mendekat dan mengesekan kepalana ke lutut Rae, susu yang ada di mangkuknya sudah tandas. Rae mencuil sedikit daging kering di tangannya dang mengulurkannya pada si kucing. Kucing itu segera merengut dan mengunyahnya dengan bahagia.
“Ya, ada dua macam elf, Ljósálfar and Svártálfar. Aku adalah Ljósálfar atau yang biasa di kenal dengan elf cahaya. Dan yang satu lagi adalah Svártálfar atau dikenal juga sebagai dark elf.”
“Bagaimana membedakan keduannya?” tanya Rae. “Jadi, mari kita katakan aku,” Rae menunjuk dirinya, “seperti yang Kaltaria katakan hybrid.”
“Kau adalah hybrid Rae,” potong elf itu.
“Baiklah,” kata tak sabar. “Bagaimana kau tahu apakah aku kelahiran Ljósálfar atau kelahiran Svártálfar?” tanya rae alisnya terangkat ke atas saat melihat ke arah Frya.
__ADS_1
“Itu adalah pertanyaan bagus Rae.” Frya meliat ke arah gadis itu selama beberapa saat. Rae melihat kilat di mata Frya saat dia melakukannya. Rae sangat jarang melihat espresi efl itu berubah. Wajahnya selalu datar, dan dia selalu menyembunikan perasaan dengan sengan baik. “Dari penampilan mereka dapat dibedakaan saat gelap, kami Ljósálfar bersinar di kegelapan,” saat mendengarnya Rae memikirkan cat glow in the dark yang bisa terlihat di kegelapan. Kita tak hanya membuat diri kita terlihat tapi juga bersinar hingga jarak tertentu. Sementara Svártálfar mereka hanya bersinar dalam kegelapan tapi tidak bisa menyinari sekitarnya.” Rae memikirkan cat glow in the dark saat mendengarkannya. Cat yang bisa bersinar dalam kegelapan. “Penampilan Svártálfar lebih terlihat seperti manusia biasa bertelinga panja. Dan juga getaran sihir kita terasa berbeda. Berikan tanganmu!” Perintah Frya. Dia mengenam tangan Rae. “Apa yang kau rasakan?” tanya elf itu.
“”Kau memiliki getaran,” kata Rae tak mengerti.
“Getaran memiliki rasa yang berbada. Bisakah kau merasakan, perbedaannya?” elf itu kemudian diam dan memberi waktu pada Rae untuk menfokuskan pikirannya pada tangannya, tangan yang saling berpegangan satu sama lain. Tangan Elf itu putih panjang mengengam tangan Rae yang sedikit lebih pendek dari tangan elf itu.
“Sangat sulit untuk membedakannya jika kau tidak memiliki pembanding,” kata Rae frustasi.
“Cobalah sedikit lebih keras,” kata elf itu.
Rae dia beberapa saat.
“Getaramu terasa halus dan hangat,” kata Rae setelah beberapa saat yang cukup lama.
“Kau benar Rae,” kata elf itu tersenyum puas saat mendengar jawaban Rae. “Getaran kami terasa halus dan hangat, sementara Svártálfar terasa tajam dan dingin.”
“Untuk saat ini sangat sulit untuk yakin apakah kau keturunan Ljósálfar atau kau keturunan Svártálfar karena getaranmu tidak bisa dirasakan. Tapi…”
Tiba-tiba Frya mengegakan tubuhnya dalam posisi waspada. Menghentikan semua penjelasannya yang lebih lanjut. Ketakutan Rae sebelumnya digantikan oleh ketakutan yang lain. Apa yang membuat elf ini waspada? Apakah ada bahaya yang mengintai mereka di sini? Rae juga melihat kearah perhatian Frya tertuju. Tapi dia tak melihat apapun.
“Apa yang terjadi?” tanya Rae ketakutan.
Elf itu tidak menjawab, “ayo kita lanjutkan perjalan kita.” Kemudian elf itu mulai mempack barang-barang mereka. Rae membantunyan, dan kemudian perjalanan mereka pun dimulai.
***
__ADS_1
Hutan di sekitar mereka mulai berubah Pepohonan tumbuh lebih besar dan lebih tinggi, semakin mereka kedalam, semakin mistik hutan itu terasa. “Kita bisa beristirahat disini malam ini,” kata elf itu sambil menunjuk sebuah pohon besar. Malam suda turun, dan kepala Rae mulai sering terantuk antuk karena mengantuk. Meskipun pemandangan hutan ini sangat memukau, akan tetapi kelelahan sering datang menyapa.
Rae menatap ke arah yang di tujuk oleh elf itu dengan mata mengantuk. Elf itu melompat turun dan membantu Rae turun.
“Apa kau yakin? Mengapa kita tidak berisstirahat di bawah sini?” tanya Rae. Dia meletakan kucingnya ketanah.
“Akan lebih aman di atas sana, kita sudah berada tak jauh dari kota Theireane, salah satu kota Ljósálfar. Aku sedikit khawatir akan Ljósálfar yang berkeliaran di sekitar sini. Aku tidak mau ada elf lain di dekatmu sebelum kita menghapus barrier mu. Sudah lama tak ada manusia yang datang kemarin, terlebih lagi yang tak memiliki getaran sihir. Itu hanya akan menimbulkan kecurigan.” Elf itu melepaskan kuda mereka. “Aku akanmembantumu naik keatas,” dia mengangkat pinggang rae dan seakan Rae hana seringan kapas, dia melompat dari satu cabang ke cabang lain dengan keeleganan seorng elf. Dia seperti terbang.
“Bagaimana dengan kucingku?” tanya Rae ketika elf itu berhenti di tengan sebuah cabang besar. Yang lebarnya cukup untuk meereka beristirahat.
“Dia akan mengikuti, biarkan dia menjelajahi terterinya,” Elf itu kemudian mulai menyanyikan mantra sihir. Rae merasakan kehangatan mengitarinya, dan angin berhenti bertiup di sekelilingnya.
“Tapi apakah dia akan baik-baik saja?” tanya Rae khawatir. Mengamati kucingnya di bawah yang tengah mengendus endus area di sekelilingnya.
“tentu saja, dia bukan hewan rumahan, dia juga harus mengasah instingnya. Kau harus membiarkannya lepas dari pengawasaanmu, sehingga dia bisa belajar berburu dan cara bertahan hidup. Tidur Rae, besok sebelum fajar kita akan berangkat. Dan aku harap kita sudah tiba di Celestia sebelum gelap.” Elf itu membaringkan tubuhnya dengan nyaman, Rae mengikuti di sebelahnya.
“Apa elf lain tidak akan menyadari jika kita berada di sini saat mereka lewat?” bisik Rae sambil berbaring membelakangi si elf, dengan pungung saling berhadapan. Memandang langit malam dan dedaunan.
“Mungkin mereka akan menyadari, tapi untuk elf tidur di atas pohon adalah hal yang wajar. Selama mereka tidak melihatmu atau menyentuhmu aku tak terlalu khawatir. Getaran sihir hanya bisa di rasakan jika bersentuhan, jadi jika mereka melihatmu selama mereka tak menyentuhmu pun tak masalah.”
Rae jatuh tertidur segera setelahnya. Dia tidak tertidur nyentak, dia masih dapat merasakan saat kucingnya berbaring meringkuk di sebelanya, memberinya kehangatan.
__ADS_1