
Di penghujung hari Rae sudah merasakan sakit menyengat di punggungnya secara berkala, tapi sihir menyembuhkannya dengan segera.
Di ujung persimpangan jalan yang mereka lalu Frya berkata, “di sana, di sana itu Snitchopalace,” menujuk ke arah sebuah kastil di kejauhan. Kastil Snitchopalace menjulang penuh keangkuhan di antara pepohonan dan tebing-tebing di sekitarnya. Matahari terbenam memberi semburat warna jingga sebagai latarbelakang, menjadi latar belakang menakjubkan.
Kuda yang ia tumpangi bergerak pelan. Rae menoleh dan memandang kagum. Arsitektur kastil itu mengingatkan Rae pada dongeng yang sering di bacanya.
Ahkirnya kuda mereka melambat di depan sebuah gerbang yang terbuat dari besi tempa. Simbol-simbol menghiasi keseluruhan penampangnya. Dua orang elf dengan telingga runcing berdiri saling bersilanggan dengan pedang dan busurnya. Elf dengan busur memiliki lingkara di atas kepalanya. Di sisi tengah mereka seorang manusia membawa buku di tangan kiri dan tongkat ditangan kanannya. Dia membelah ketika pintu mengayun terbuka, tanpa ada yang membukanya. Baru ketika mereka memasuki halaman lebih jauh Rae dapat melihat kesibukan di sana. Banyak sekali ras yang berkeliar, Rae dapat melihat kurcaci, goblin, dan cetaurus. Semua makhuk yang hanya ia lihat di dalam buku dongeng.
Frya meluncur turun dengan gerakan mulus. Rae mengangkat kucingnya kepelukan dan turun dengan sangat kikuk, hampir terjerembat dengan wajah menghantam tanah.
“FRYA!”teriak seorang anak laki-laki ketika rae sedang menyeimbangkan tubuhnya, dia berteriak dengan nada tak percaya, berlari menyosong mereka.
Dia bukan manusia, seketika Rae dapat mengetahuinya. Gerakan langkahnya anggun dan luwes seperti elf. Tapi dia juga bukan elf, Rae dapat melihat telinga tumpul seperti miliknya. Rambutnya putih seperti perak, berkilauan, sementara matanya hijau seperti hutan. Dia sangat tampan, membuat jantung Rae melompat ketika dia tersenyum.
Dia berhenti dan berdiri di depan Frya. Lalu membungkuk, senyumnya mengembang.
Rae menoleh pada Frya. Sang elf tersenyum padanya. Tidak selebar anak laki-laki itu, tapi Rae dapat melihat wajahnya berbinar senang.
“Denzel,” Frya membalas membungku pada anak itu. Rae merasakan tusukan iri yang tak ia ketahui asalnya.
“Kau memutuskan kembali?” tanya anak itu, Denzel pikir Rae berusaha mengingat nama itu.
“Sesuatu seperti itu,” jawab Frya.
“Jadi aku akan melihatmu disekitar sini untuk sementara waktu?” tanya Denzel.
“Sepertinya begitu,” jawab Frya dengan geli.
__ADS_1
“Tuan putri, sudah lama sekali,” sapa sesorang. Rae menoleh dan melihat anak laki-laki lain yang juga sama tampannya. Dia setinggi anak laki-laki yang pertama, tapi ada aura kewibawaan yang menguar dari dalam dirinya. Rambutnya berwarna coklat gelap. Begitu juga dengan matanya. Dia memasukan kedua tangannya ke saku. Ketika Rae menoleh padanya dia membungkuk. Seketika Rae merasakan perubahan sikap Frya. Senyumnya menghilang, dia membungkuk pada pria itu dengan dingin. Semula rae tak tahu bahwa membungkuk dengan cara yang dingin bisa dilakukan.
“Pangeran,” katanya. Suaranya membekukan Rae.
“Apa akhirnya tuan putri bersedia bergabung dengan rakyat jelata seperti kami?” kata pria itu ramah.
“Panggilan rakyat jelata sepertinya tidak cocok untuk anda, bukankah begitu Putra Mahkota Zeine” kata Frya dingin, Anak itu hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
“Kami undur diri pangeran. Ayo Rae kita baru saja tiba ada banyak hal yang harus kita urus.” Frya membungkuk, di ikuti Rae dengan gerakan yang sama.
“Sampai nanti, fry,” kata Denzel. Dia mendapat senyum hangat sebagai balasan dan lambaian tangan.
Frya sedikit berderap ketika meninggalkan ke dua orang itu.
“Siapa mereka?” tanya Rae ketika mereka sudah jauh. Frya berhenti di depan pintu masuk kastil, pintu itu menjulang tinggi lebih dari lima meter, ketika dia memasuki aula Rae tak henti-hentinya terkagum kagum. Walaupun itu tak menghentikannya untuk tetap bertanya.
“Kau membencinya?” tanya Rae.
Frya mendengus tak senang. Rae tak mengerti arti dengusan Frya, tapi dia membiarkannya. Rae tak bertanya lagi karena ekpresi Frya mengatakan bahwa dia tidak ingin menjelaskan lebih lanjut jadi dia mengajukan pertanyaan yang lain.
“Dan orang yang satunya?” tanya Rae.
“Denzel,” jawab Frya singkat. Pintu gerbang terbuka. “Ayo, kita harus menemukan Master Mounchi.”
Rae menghela nafas, tahu bahwa Frya tak akan memberinya informasi lebih lanjut.
Setelah menanyakan pada salah satu penjaga di mana Master Mounchi berada. Mereka berjalan menuju kantor Mounchi melewati lorong dengan jendela kaca besar yang membuat tempat ini di selimuti cahaya senja.
__ADS_1
Beberapa belokan lorong akhirnya mereka sampai di sebuah pintu kayu. Frya mengetuk pintunya tiga kali.
Pintu itu membuka dengan sendirinya. “Masuk,” kata suara dari dalam. Frya mendahului melangkah memasuki ruangan itu, di susul Rae.
Di hadapannya seorang pria paruh baya duduk di depan meja. Mata yang berwarna biru mengawasi Rae dengan tatapan menusuk, di balik kacamata. Rambutnya yang berwarna coklat gelap di potong pendek, wajahnya yang panjang terlihat tenang. Kedua tangannya di kepal di bawah dagunya.
“Putri Frya, senang bisa bertemu dengan anda kembali. Bagaimana perjalanan anda?” tanya pria itu ramah.
“Hanya sedikit kesalahfahaman di penginapan Master, tapi selebihnya perjalanan kami baik baik saja. Bagaimana kabar anda?” jawab Frya sambil menerima uluran tangan pria itu. Mereka berjabat tangan sesaat.
“silahkan duduk,” katanya. “Kalian pasti lelah setelah perjalanan.” Rae dan Frya masing masing mengambil tempat duduk di depan meja Master Mounchi. “saya baik-baik saja putri, terimakasih. Kami senang anda memutuskan kembali,” katanya seraya tersenyum.
“itu hanya persoalan waktu Master. Pada akhirnya aku tetap harus kembali. Master monchi, Perkenalkan ini Rae. Rae perkenalkan ini Master Mounchi.” Rae melepaskan kucingnya, dan bangkit, mengulurkan tangannya kanannya yang sedang tidak sedang memegang Fhyre.
“Senang bertemu denganmu Rae,” katanya sambil menjabat tangan Rae.
“Justru saya yang merasa senang Master,” kata Rae. Rae menirukan sikap ramah Frya. Mounchi melambaikan tangan, seperangkat cangkir tea berserta perlengkapannya terbang dari atas rack cabinet di belakan Mounchi. Mendarat dengan rapi di hadapan mereka. “Aku hanya punya teh celup aku harap kalian tak keberatan.”
“Tentu saja Master,” jawab Frya. Sebuah kantong teh terbang ke masing masing cangkir mereka dalam satu lambaian tangan Master Mounchi. Dari ujung ruangan keran air berputar terbuka dan airnya terbang dan mengalir ke dalam teko. Begitu air itu menyentuh dasar teko uap air mengepul. Teko itu kemudian melayang, menuangkan airnya ke masing-masing cangkir mereka.
“Gula, susu?” tanya Master Mounchi. Jemarinya yang panjang menujuk ke arah tempat gula dan susu dengan ramah.
“Tentu,” jawab Frya. Dia melambaikan tangan dan tempat susu melanyang menuangkan sebagian isi nya ke cangkir Frya. “Rae?” tanya Frya. Rae mengeleng sambil tersenyum. Dia tak yakin dengan sihir yang bisa ia hasilkan, dan terlalu malu untuk menuang susunya tanpa sihir.
__ADS_1