
Malam, membawa angin sejuk yang berhembus sepoi-sepoi. Daun-daun bergoyang, seakan
menari. Dia belum jua tertidur, entah sejak kapan. Waktu berputar sekelilingnya tanpa ia sadari. Rasanya melelahkan.
Semuanya terasa seperti mimpi.
Benarkah ini hidup yang ia ingankan. Benarkah ini yang ingin ia lakukan? Sekali lagi semuanya terasa tak nyata. Ini bukan hidup yang ia ingin jalani. Ini adalah kehidupan orang lain.
Bukan hidupnya…
Pagi sebentar lagi datang. Dan sekali lagi ia akan melihat matahari terbit. Untuk ke sekian kalinya. Dia menghela nafas. Lalu bangkit dari tempat tidurnya. Menyibak tirai yang memisahkan kamarnya dengan dunia luar. Dia melangkah keluar, udara malam menerpa wajahnya, meniup anak-anak rambut dengan ayunan lembut. Dari balkon tempatnya berdiri ia menatap keluar, ke arah langit malam.
Langit bertaburan bintang. Bulan bersinar dalam semburat kecil cahaya.
Ini hidupnya sekarang dan apa yang akan dilakukannya tentang itu.
Dia naik ke atas pembatas balkon. Merentangkan tangannya.
Dia harus mengakhirinya.
Dia menjatuhkan diri ke udara kosong di depannya.
Mengambil alih kembali hidupnya.
Tubuhnya meluncur turun dengan cepat. Mendarat dengan anggun ditanah. Lalu dia berlari secepat-cepatnya.
Langkahnya terhenti.
“Tuan putri, apa yang anda lakukan disini.” Salah satu penjaga gerbang istana menghentikan langkahnya. Dia meluncur anggun di depannya.
“Aku akan berjalan-jalan kehutan. Aku akan kembali.” Gadis itu menyibakkan rambutnya ke belakang telinga runcingnya.
“Tapi putri, ini bahkan belum fajar.”
“Aku akan baik-baik saja.” Kemudian dia berlari lagi. Tidak untuk melarikan diri lagi. Tapi untuk menemukan dirinya kembali.
“Putri!” sayup sayup dia mendengar pengawal istana berteriak. Tapi ia tak memperdulikannya.
__ADS_1
Dia harus kembali menemukan dirinya. Keluar dari semua ini…
***
Di sisi lain Ar’chismaytopia, di kerajaan yang lain; Herados bosan, bosan setengah mati dengan semua omong kosong konyol di hadapannya. Dia duduk di salah satu kursi di atas mimbar dengan tiga kursi tinggi, ayahnya berdiri di tengah, pamannya duduk di sisi kanan sementara dirinya di sisi kiri. Di depannya berdiri beberapa Svartálfar duduk di kursi tinggi sepanjang sisi ruangan. Ayahnya memaksanya untuk mengikuti rapat dewan. Entah sampai kapan para anggota dewan itu akan mengunakan kiasan berbunga-bunga dan langsung menuju pokok permasalahannya. Mereka telah berbicara hampir separuh hari dan barus saja selesai membicarakan situasi kerjaan saat seorang penyihir tengil datang. Ini bukan pertama kalinya jadi Herados tahu dengan benar apa yang dia harapkan.
Herados menguap dengan tidak sopan. Tentu saja dengan sengaja. Sesuatu yang sebenarnya dia juga tahu kalau itu sia-sia.
Ayahnya melemparkan tatapan memperingatkan padanya. Memang apa yang ayahnya harapkan dengan memintanya, ah… bukan memintanya tapi memerintahnya ikut sidang dewan ini, bersama para penyihir tengik yang
terus-menerus menjilat bokong ayahnya. Herados heran bagaimana ayahnya masih bisa duduk di singgasana tanpa terpeleset.
“Yang Mulia,” Si penyihir mulai berdiri dan mulai bicara. Dia adalah satu satunya penyihir di ruangan itu, dan satu satunya yang berdiri di tengah ruangan. Dia baru saja masuk, dan mulai berbicara di hadapan dewan “Dengan penuh kesulitan dan marabahaya, aku telah membahayakan nyawaku selama beberapa bulan terakhir ini, dalam misi menemukan pedang Ljósálfar.” Herados mencemooh. Dia tahu pasti penyihir itu tak melakukan apapun. Dia hanya bertopang dagu dan memata-matai orang-orang yang sebenarnya mencari pedang itu. Tapi Herados tak perduli pada pedang apapun. Dia hanya muak dengan orang bodoh dihadapannya.
Si penyihir menatap Herados dengan pandangan tak senang. Tapi terlalu pintar untuk membiarkan tindakan Herados mempengarhuinya.
“Kita harus segera menghancurkannya, Yang Mulia! Sebelum para hybrid menemukannya. Aku sudah mendengar bahwa para peranakan campuran itu mulai bergerak dalam pencarian. Mereka kaum terkutuk tidak boleh memiliki harapan untuk bisa menguasai Ar’chismaytopia.” Herados memandang penyihir tengil itu dengan bosan. Mendapati si penyihir itu tengah melemparkan tatapan takut sekilas pada pamannya.
Pamannya hanya menatap tak acuh pada penyihir itu. Sudah jadi rahasia umum jika pamannya memiliki seorang anak hybrid. Tak tanggung-tanggung dia menghamili seorang Ljósálfar, bukan seorang seorang penyihir tapi melainkan seorang Ljósálfar. Pamannya tak pernah mengakui terang-terangan di depan umum, tapi dia juga tak pernah menyangkalnya sebagai anak pula. Dan lagi wajah mereka terlalu mirip untuk di sangkal. Semua orang membicarakannya dibelakan pamamnya.
Sementara pamannya_Pangeran Holgafar menangapi acuh tak acuh. Seakan anak itu tak pernah ada. Pamannya juga tak pernah menikah, tidak dengan perempuan hybrid yang melahirkan anaknya. Bahkan ayah Herados—Raja
Tapi tak peduli apa yang pamannya lakukan, dia adalah pahlawan bagi Herados, panutannya.
“Hanya dengan mengamati para hybrid bergerak tidak akan membawa kita kemanapun,” kata pamannya santai. “Kita hanya akan selalu berada selangkah di belakang. Jika itu yang kau sebut dengan dengan mempertaruhkan nyawa, anak kecil pun dapat melakuan.”
Si penyihir hampir saja tersedak. Dia memandang pamannya dengan tatapan benci bercampur takut.
“Kita tidak hanya mengamati, tapi kita tahu pasti apa yang sedang para hybrid lakukan, yang mulia,” kata penyihir jelas sekali dia tergagap.
“Sudahkah kau menempatkan orang di dalam kelompok itu?” tanya pamannya sambil mengangkat alisnya.
“Yang mulia, dengan adanya Pangeran Zeine disana akan sangat sulit untuk memasukan Svartálfar
ke dalam kelompok itu.”
“Hmmm… tidak jika anak yang kita masukan adalah hybrid.”
__ADS_1
“Tapi aku dengar anda tidak akur dengan putra anda Pangeran Holgafar?” seketika setelah mengucapkannya penyihir itu terlihat menyesal dan ketakutan, suasana menjadi sunyi mencengkam.
Herados segera menegakkan duduknya. Dia melihat dari sudut matanya Pangeran Holgafar mengencangkan pengangannya. Tak ada yang tau apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Raja Bolgefar mengrebak meja mengagetkan semua orang.
“Jaga mulutmu, Penyihir!” bentaknya.
“Maafkan aku yang mulia,” katanya sambil membungkuk mundur. Dengan tatapan sengit berkilat dimatanya.
“Holgaf, anak hybrid mana yang kau maksud. Apa kau punya anak haram yang lain yang kau sembunyikan dariku!” bentak Raja. Raut wajahnya murka. Herados berdecak heran dengan acuh. Ayahnya melemparkan tatapan
tajam padanya. Herados pura-pura tak tahu.
“Apa?” tanyanya acuh. Ayahnya hanya mengelengkan kepala. Di benaknya dia berkata, andai anaknya lebih seperti saudaranya yang tidak pernah mempermalukannya. Kecuali aib yang pernah dilakukanya dengan menghamili hybrid ljosalvar. Tapi semua itu telah dia bayar dengan pengabdian, dan tak pernah sekalipun dia menujukan perhatiannya pada anaknya. Jika saja dia tak pernah sekalipun memiliki anak dengan hybrid itu. Akan lebih baik. Tapi raja tahu dia tak bisa meminta yang lebih baik dari sekarang. Semua orang pernah jatuh. Apalagi pada hybrid ljosalvar. Sang raja tahu bagaimana kecantikan hybrid Ljósálfar bisa sangat membutakan.
Sementara anaknya. Seperti kebanyakan anak Svartálfar lainnya. Ceroboh, tidak peduli, dan suka main-main. Hanya saja anaknya tidak menujukan kearah pendewasaan Svartálfar. Dia tetap tak bertanggung jawab
seperti dirinya selama ini. Sang paman hanya menatap sang raja dengan tak peduli. “Tentu kau ingat saudara sepupu kita Elgorf.”
“Ya, ada apa denganya,” kata raja singkat.
“Ingat betapa dia senang sekali pada wanita dan dia bukan pemilih. Kalau aku tidak lupa, aku ingat dia memiliki satu atau dua orang peranakan manusia.”
Sang raja mengaruk dagunya berpikir.
“Suruh orang untuk memangil Elgorf ke istana. Aku akan membicarakan ini dengannya!” raja menujuk ke salah satu pengawal kerajaan. Salah satu memberi hormat dan meninggalkan ruangan. “Dan kau!”
. “Ketika aku mendapatkan calon yang tepat. Pastikan dia masuk ke kelompok itu dengan mulus.” Setelah mengatakannya sang raja melambaikan tangan menyuruh para dewan bubar.
“Baik yang mulia,” kata penyihir itu membungkuk dan pergi.
Herados
__ADS_1
Frya