Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Festifal Musim Semi


__ADS_3

Rae terbangun dengan linglung.  Dia merasa seakan telah tidur sangat lama dan lupa di mana ia berada. Sejenak dia yakin dirinya masih berada di kamarnya yang lama, kemudian dia  menyadari gundukan hangat yang tertidur disampingnya.


Hanya dalam sekejap ingatan akan keberadaan dirinya menerpanya. Dia menghela nafas. “Aku rasa, aku harus mulai terbiasa dengan segalanya,” katanya pada si kucing. Lalu bangkit dari tempat tidurnya, untuk berpakaian. Sudah berapa lama dia tertidur, pikirnya.


Frya telah memberinya banyak sekali pakaian. Hingga ia tak perlu khawatir. Pakaian Elf, yang berarti tunik panjang semata kaki dengan warna-warna kalem, pakaian itu membuat Rae terlihat anggun saat memakainya.


Beberapa saat kemudian dia mendengar pintu kamarnya di ketuk, Rae segera membukanya dan mendapati si elf sedang berdiri di hadapannya. Cantik seperti biasanya. Mengenakan pakaian warna biru muda dari bahan kain halus yang ringan, membuat rambut pirang putihnya semakin bercahaya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya si elf dengan tatapan khawatir, ketika Rae mempersilahkan masuk.


“Ya aku rasa, aku tak begitu ingat apa yang terjadi…” Rae terdiam, dia tak yakin seberapa lama dia tertidur. “Berapa lama kau tertidur,” tanyanya kepada si elf.


“Hanya beberapa jam, sekarang sudah cukup siang,” jawab si elf. “Mantra perintangmu sudah hilang. Aku dapat merasakan getaran sihirmu,” kata Frya tersenyum puas.


“Kau benar, tubuhku bergeleyar, rasanya aneh,” kata Rae takjub. “getaranku seperti getaranmu, tapi juga tidak sepertimu,” seru Rae. Dia menatap tangannya dengan takjub, walau getaran itu tak terlihat, dan hanya bisa ia rasakan. Getaran miliknya halus, tapi tak sehalus milik Frya.


“Sekarang kita tahu pasti bahwa kau adalah keturuan Ljósaflar,” jawab Frya.


Rae terdiam, kenyataan menghempaskannya kembali.


“Ada apa Rae.”


“Aku masih saja berharap kau salah, berharap aku hanyalah seorang manusia biasa, dan semua ini hanyalah khayalan, tapi kau pikir sekarang aku tidak lagi bisa lari dari kenyataan. Walaupun aku tidak ingin semua ini nyata, aku sunggu lega, lega ketika barierku menghilang dan fakta bahwa aku keturunan Ljósaflar akhirnya terungkap, aku sungguh lega,” kata Rae lirih. “Aku takut jika aku mungkin keturuan elf yang lain. Aku akan dibuang ketempat yang asing yang lain, jika itu terjadi, mungkin aku akan menjadi gila.”


“Itu pasti sangat berat bagimu,” kata Frya bersimpati. “Kau tak perlu khawatir Rae, meskipun kau bukan seorang Ljósaflar raja akan tetap menawarkanmu tempat tinggal.”


Rae mengangguk penuh rasa terimakasih. “Hanya saja semua ini membuatku menyadari bahwa hidup yang selama ini aku jalani hanyalah kebohongan.”


Frya mendekat dan mengengam tangannya. “Ketika kau hidup lebih lama dari masamu nanti, kau akan menerima bahwa tidak semua adalah hitam dan putih. Dan dalam hidup selalu penuh kejutan.”


Frya melepaskannya. “Kau benar-benar tak ingat apa yang terjadi semalam?” tanyanya.

__ADS_1


“Aku hanya ingat rasanya seperti terbakar, apa kau mendengar suara nyanyian yang aneh? Mereka tidak cocok dengan nyanyian yang kalian nyanyikan. Nada yang berbeda. Nyanyian itu muncul ketika kalian berhenti bernyanyi. Menurutku nyanyian musim semi kalian terdengar tidak selesai, seakan lagunya berhenti di tengah-tengah alunan.”


“Nyanyian?” tanya Frya dengan nada heran. Sambil berjalan menuju jendela. “Lagu perayaan musim semi tak akan berhenti di alunkan sampai perayaan selesai.”


“Tapi,” kata Rae bingung.


“Ceritakan tentang nyanyian yang kau dengar Rae. Mereka lebih dari satu?”


“Ya ada dua nyanyian, dan mereka terdengar seperti dari dalam kepalaku,” kata Rae seraya mengetuk kepalanya dengan jari telunjuknya. “Suara pertama berasal dari seorang wanita, aku tak ingat liriknya. Aku…, aku hanya merasa yakin jika nyanyian itu familiar, seakan aku sering mendengarnya, aku hanya tak ingat kapan, dan dimana. Seperti mimpi yang menghilang ketika kau terbangun, sekeras apapun kau mengingatnya, kau tetap tak bisa mengingatnya. Tapi anehnya nyanyian itu menenangkanku.”


“Kemudian suara wanita itu di susul oleh suara wanita yang lain. Mereka terdengar sama merdunya, hanya saja nyanyian kedua membuatku sedih. Membuatku merindukan sesuatu, seperti menyuruhku melepaskan sesuatu dalam diriku, sesuatu yang telah lama membuatku nyaman. Sementara nyanyian pertama membuatku merasa aman dan tentram, terlindungi. Tapi anehnya terasa membelengu.”


“Di sini,” Rae menunjuk dadanya. “Seperti ada yang berkecemuk, memintaku memilih, nyanyian mana yang ingin aku dengar. Nyanyian kedua, meskipun membuatku sedih dan kehilangan, dia memberiku ruang untuk bernafas, membebaskanku, membuat segalanya terasa ringan, lalu rasa terbakar itu muncul, membakar tubuhku, dari dalam dada dan mengalir ke seluruh tubuh. Aku ingin kembali mendengar nanyian pertama, tapi nyanyian itu perlahan terdengar semakin jauh. Kehilangan keinginannya untuk terus di dengar. Ketika akhirnya nyanyian itu menghilang, begitu juga rasa terbakar yang aku rasakan. Menghilang begitu saja, dan yang ada hanyalah ….” Rae berhenti mencoba menemukan kata yang benar. “Aku tak tahu bagaimana mengabarkannya.”


“Aku tak tahu pasti bagaimana bariermu ditanamkan ke tubuhmu, tapi mungkin nyanyian itu mantra yang mengikatmu.”


Frya duduk di kusen jendela dan menatap Rae. Rae duduk di atas tempat tidur dan menarik si kucing kedalam pangkuannya, dan mulai membelainya. Dia menyipitkan mata mengingat. “Samar-samar aku sepertinya ingat lirik nyanyian yang kedua.”


Tangan yang membawa takdir telah datang.


Maka sang pengikat harus melepaskan ikatnya.


Semua yang telah dia sembunyikan takkan bisa terus bersembunyi.


Karena anak yang dibuang telah kembali pulang.


Yang diikatan harus dilepaskan.


Yang terpisah harus disatukan.


Yang hilang akan ditemukan.

__ADS_1


Dan yang terbuang akan kembali ke tempatnya.


Tangan yang membawa takdir harus melemah sebelum menjadi kuat.


Sang cahaya harus menghilang untuk melindunginya


Sebelum kegelapan dapat dibungkam.


Dan kehancuran dapat di cegah.


“Itu, itu lirihknya,” pekik Rae dengan bersemangat. “Apa menurutmu itu berarti sesuatu?” tanya Rae, Frya yang duduk di depan jendela terlihat termenung mendengarnya.


“Mungkin pohon kehidupan berbicara padamu melalui nyanyian.”


“Apa kau tahu artinya?” tanya Rae bersemangat?


“Pohon kehidupan tak pernah memberikan penjelasan yang mudah,” katanya dengan nada menyerah. Rae tertawa mendengarnya. Frya tersenyum mendengar tawanya, “Aku senang mendengar suara tawamu, Rae.”


Rae tersenyum balik, “ya, harus tetap melanjukan hidup bukan,” katanya sambil tertawa.


Frya tersenyum balik. “Dari masa ke masa pohon kehidupan menujukkan keajaibannya, ada kala dia menyampaikan sebuah ramalan seperti yang terjadi sekarang. Yang kami tahu pasti, pohon kehidupan tak pernah menyampaikan kebohong, dia selalu memberitahu kebenaran walau sulit difahami pada awalnya, tapi pada akhirnya kebenaran yang diucapkannya akan terbukti menjadi nyata.”


“Jadi maksudmu, kemungkinan aku adalah anak yang dibuang dan sekarang kembali,” tanya Rae kecewa. Jika itu benar maka itu mengimplikasikan kemungkinan orang tua yang membesarkannya bukan orang tuanya. Rae tak ingin memikirkannya. Tapi pikiran itu tetap terlintas di benaknya.


Frya terdiam, seakan dia pun memikirkan hal yang sama dengan Rae. “Kita akan mencari tahu Rae.” katanya akhirnya. “Yang dapat aku tangkap, kemungkinan kau berasal dari Ar’chismaytopia. Dan ada sebuah takdir yang menantimu. Sekarang pilihanmu adalah apakah kau ingin mengetahui takdirmu atau kau ingin melepaskannya. Karena jika kau menjalani jalan yang pohon kehidupan telah diperlihatkan padamu, jalan itu takkan mudah.”


Ya, Rae akan mencari tahu. Sekarang setelah dia mengatahui makhluk apa dia sebenarnya. Rae ingin tahu siapa dirinya sebenarnya. Dan apa maksud pohon kehidupan sebenarnya. Rae menghela nafas, lalu mengengam tangan si elf. Tangan elf itu dingin, tapi penuh dengan energy sihir. “Terima kasih,” katanya. “Untuk  semuanya. Aku tak tahu jalan apa yang harus aku pilih, aku pikir aku akan menapakinya satu persatu dan melihat di mana langkahku akan membawaku.”


Frya tersenyum menepuk tangan Rae pelan lalu kembali ke jendela, “Kau menolong dirimu sendiri, jika saja kau memilih sisi hutan yang salah. Kau akan berada di tangan Svartálfar. Dan aku tak tahu nasib apa yang akan menantimu di sana. Tapi kau memilih hutan yang tepat.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2