Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Lythia


__ADS_3

Fajar datang tanpa ketara, hanya sembura warna cerah menghiasi langit yang menujukkan kedatangannya, Rae mengeliat, dan melihat Frya masih duduk di tempatnya, sementara kelinci lain telah bertengger di atas api unggun.


“Kau bisa saja membangunkanku dan membiarkan ku berjaga. Jadi kau bisa tidur,” kata Rae.


“Aku juga baru saja terbangun Rae,” kata Frya. Rae menatapnya dengan sangsi.


“Ayo kita makan, dan meneruskan perjalanan. Semoga kita sudah keluar dari hutan ini sebelum senja turun.”


Mereka merapikan kemah mereka, Frya menimbun api unggunnya dengan tanah memastikan tak ada bara yang masih menyala.


“Kau harus membiarkannya berjalan sendirian Rae. dia harus belajar mandiri,” kata Frya menghentikan Rae meraup kucingnya.


“Kau yakin?” tanya Rae sambil memandang kucingnya dengan tatapan khawatir.


“Ya, kau harus belajar mempercayainya,” dengan ragu-ragu Rae naik ke pelana kudanya terus menatap kucingnya ketika dia mengebah kudanya.


Fhire mengeyong dan berlari mengejarnya. Rae memperhatikannya dengan was was.


Sepanjang perjalanan Rae mengawasi kucingnya seperti induk ayam yang mengawasi anaknya


Menjelang siang vegetation yang mereka lewati mulai menampakan perubahan, pepohonan mulai jarang, hingga akhirnya pepohonan terakhir digantikan oleh padang ilalang yang mulai menujukan bunga-bungannya. Frya kembali menghentikan kudanya, dan mereka berhenti sejenak untuk menikmati makan siang.


“Setelah ini kita akan mulai memasuki kawasan manusia, kau harus mengendong kucingmu. Aku tak ingin ada manusia yang tertarik padanya,” Rae mengangguk.


Mereka tak berhenti lama, segera setelah roti terakhir di santap mereka berangkat. Rae meraup kucingnya yang memberontak, tak ingin kehilangan kebebasannya.


Ketika senja tiba, Rae dapat melihat desa pertama di kejauhan, seperti melihat desa kuno, Rae sangat bersemangat untuk melihatnya. Rae menatap Frya, dan melihat raut mukanya tegang.


“Ada apa?” tanyanya.


“Itu desa Lythia desa terdekat dengan hutan. Dulu desa itu memiliki hubungan yang baik dengan kerajaan Ljosalfar. Tapi setelah kami menutup diri aku tak tahu bagaimana mereka akan bereaksi melihat ku melintas. Sudah beberapa tahun sejak bangsa Ljósaflar berjalan bebas di bumi archismaytopia.”

__ADS_1


Mereka memasuki desa dengan perasaan was-was, jalan utama yang mereka lalui membelah desa, para penduduk desa berhenti bekerja dan mengawasi mereka  dengan seksama, raut khawatir menghiasa wajah mereka.


Rae bernafas lega saat akhirnya mereka keluar dari desa.


“Fuih…” Rae menghela nafas. “Itu tadi sangat menegangkan.”


“Aku tak menyangka keadaannya seburuk ini,” kata Frya murung. Berapa mil kemudian mereka berhenti di sebuah penginapan kecil.


Hanya ada mereka berdua yang menginap malam ini. Si pemilik penginapan adalah penyihir bertubuh besar, dengan kepala botak, ketika Frya masuk dia terlihat seperti sedikit ketakutan. tapi tetap membiarkannya masuk.


“Kami membutuhkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur,” kata Frya tenang.


“Tentu,” si pemilik penginapan, mengeloyor ke arah tangga. Dia berhenti di salah satu pintu, menujukan kamar bagi mereka.


“Apa kau menyediakan makan malam?” tanya Frya.


“Ya, miss. Makan malam pukul tujuh.”


“Kami ingin makan malam di kirim kamar. Apa kau bisa mengaturnya.”


“Mereka takut padamu,” celuntuk Rae setelah pria itu menutup pintu kamar mereka.  Frya menguncinya dengan sihir.


Frya nyengir, “Aku tak bisa mengubahnya,” katanya sambil mulai melepaskan seluruh pakaiannya.


“Apa yang kau lakukan,” tanya Rae panik.


“Mandi, mau apa lagi?” tanya sang elf. Seraya masuk kekamar mandi. Dia tidak merasa malu dengan tubuhnya.


Rae menghela nafas konyol.


Malam ini Frya tak mengijinkannya keluar dari kamar. Tak aman, menurutnya. Dia bahkan mengunci kamarnya dengan sihir pertahanan.

__ADS_1


“Kita tak tahu apakah tempat ini aman. Sebaiknya kita berjaga-jaga.”


“Apakah kita perlu berjaga bergantian,” tanya Rae.


“Tidak, aku sudah membuat mantra pelindung, dan menambahkan sebuah mantra yang akan membangunkanku jika mantra pelindungnya rusak. Kita bisa tidur nyenyak Rae.”


Rae menangguk.


“Kenapa mereka takut padamu?” tanya Rae beberapa saat setelah Frya mematikan penerangan kamar. Kucingnya bergelung hangat di sampingnya.


Dia mendengar Frya menghela nafas.


“Karena sesuatu yang terjadi tujuh belas tahun lalu,” Rae diam saja menunggu Frya meneruskan. “Tepat setelah inagurasi raja penyihir. Sang ratu menolak untuk mengakui keberadaan dan kekuasaan sang raja, dan memutuskan hubungan dengan kerajaan manusia. Masa kacau, tak ada yang tahu apa alasan sang ratu untuk beberapa saat. Sampai akhirnya kebenaranya terungkap. Sang ratu jatuh cinta pada sang raja tanpa mengetahui siapa dia sebenarnya. Dan sang raja mengkhianantinya.  Para Ljósaflar memasang benderang perang siap menyerang untuk membalas dendam. Para penyhir ketakutan. Karena perang di Ar’chismaytopia bisa saja terlangsung bertahun-tahun. Dan berpotensi menghancurkan segalanya. Sang ratu menghentikan perang sebelum berkorbar. Kami menerima perdamaian yang diperintahkan sang ratu. Tapi kami bersumpah, kami tidak membiarkan satu penyihirpun masuk ke tanah kami keluar hidup-hidup, sejak itu kami mengundurkan diri ke hutan-hutan terdalam kami.”


“Bukankah sang Ratu itu, ibumu Fry?” tanya Rae binggung.


“Bukan,” Frya membuat sebuah cahaya-cahaya kecil dengan lambaian tangannya di udara. Sehingga Rae dapat melihat siluet nya. Sang elf sedang melamun. “Ayahku di tunjuk untuk mengantikan sang ratu karena dia adalah kerabat terdekat sang ratu, ratu Ellesna. Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun eksistensi kami, seorang ratu mengundurkan diri. Tak lama setelah perang digagalkan, sang ratu mengambil keputusan untuk mengundurkan diri.”


“Kenapa dia lari dari tanggung jawabnya?” tanya Rae.


“Kau tak mengerti,” kata Frya tajam. “kami bangsa elf ketika kami mencintai, kami benar-benar memberikan seluruh hati kami padanya.” Suara Frya melembut, “Perasaan itu melumpuhkanmu, kau hanya akan merasa utuh saat bersamanya. Dan ketika orang itu mengkhianatimu, kau takkan pernah merasa utuh kembali, ada bagian dari dirimu yang akan selalu kau rindukan, menciptakan ke kosongan dalam dirimu.” Rae bingung dengan perubahan pembicaraan Frya. Tapi dia tetap mendengarkan. Frya sedang dalam suasana sendu.


“Cinta adalah sesuatu yang sakral bagi kami. Kemampuan mencintai bagi bangsa Ljósaflar merupakan merupakan bukti ketulusan hati. Cinta menunjukan kau mampu mendahulukan orang lain sebelum dirimu.”


“Karena itu ketika sang ratu mencintai manusianya dengan begitu dalam, itu memberi arti bahwa sang ratu mampu untuk mengasihi, oleh karenanya dia adalah ratu yang baik. Dan bagi seorang Ljósaflar, cinta adalah sebuah komitmen sekali seumur hidup. Sekali kau memberikan hatimu, kau tak bisa mengambilnya kembali.”


“Kami mengerti rasa kehilangan sang ratu. Dia tak bisa menangani kerajaan dengan baik ketika dia sendiri tak mampu menyembuhkan luka hatinya. Oleh karena itu ketika dia tahu dia menyeret kerajaannya ke arah kehancuran bersamanya, maka dia mengambil cara pencegahan. Walaupun itu terlihat seperti beliau menghindari kewajibannya, akan tetapi justru tindakan sang ratu menunjukan bahwa dia mendahulukan rakyatnya di bandingkan dengan keegoisannya pada tahta. Dia melepaskan tahtanya.” Frya mengakhiri ceritanya. Setelah beberapa saat mereka terdiam dalam kesunyian.  Tersesat dalam pikiran masing-masing.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2