Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)

Ar'Chismaytopia Rae Saga(Indonesia)
Perjalanan yang Lain


__ADS_3

Rae tetap tinggal di Celestia selama beberapa hari, sampai bau dunia luar Rae menghilang, entah Frya mengatakkannya sebagai candaan atau dia memang serius, Rae tak mengetahuinya. Akan tetapi akhirnya setelah sekian lama terkurung di istana, Rae di biarkan keluar melihat-lihat kota Celestia.


Frya membawa Rae dan kucingnya berkeliling Celestia, melihat–lihat kehidupan sehari hari para elf. Kota Celestia di siang hari penuh dengan kesibukan yang lambat, tak satupun rae lihat ada elf berlari tergesa-gesa ataupun berderap. Frya mengajaknya berjalan ke pusat perbelajaan Celestia, di sepanjang sisi jalan toko-toko kecil berjajar, menjual berbagai macam barang. Rae berhenti di sebuah bengkel kerja. Seorang Ljosalfar laki-laki tengah mengukir kayu dengan tangan. Rae memandangnya dengan pandangan bertanya.


“Mengapa dia tak mengunakan sihir untuk mengukir?”


“Dia memang mengunakan sihir, sihir yang lebih rumit dari pada sebuah cara untuk menghasilkan suatu benda, atau menciptakan. Dia memberi jiwa pada ukirannya, sihir yang lebih rumit dari pada sihir manapun. Lihatlah hasil karyanya,” frya menunjuk ke berbagai macam patung yang di pajang di etalase.


Rae terperangah penuh kekaguman, menjelajahi kota merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan baginya, dia bisa melihat bagaimana kegiatan sehari-hari para elf, rasanya seperti melihat ke dalam buku cerita.


Di waktu lain mereka berjalan-jalan di hutan Celestia. Frya menyuruhnya membiarkan kucingnya menjelajah. Kucingnya menjelajahi hutan dengan keingintahuan, berlari di antara pepohonan, sementara Frya mengajari Rae ilmu sihir, membuat rae khawatir ketika dia berlari agak terlalu jauh.


“Kucing api pada dasarnya adalah hewan liar, mereka tidak bisa dikurung, atau mereka tidak akan bahagia,” kata Frya mengembalikan perhatian Rae ke latihannya.


“Mengapa mereka dinamakan kucing api?”


“Karena sihir mereka mengandung element api, seperti naga, hanya saja mereka tidak menyemburkan api. Kau tak perlu mengkhawatirkannya Rae, sudah sifat alami mereka untuk menjelajah dan berburu. Ikatan kalian akan selalu membawanya kembali padamu.” Rae menangguk, tapi tetap tak bisa menghapuskan rasa khawatir dihatinya.


Di tengah perjalanan mereka Frya berkata. “Kita akan berangkat ke Snitchopalace besok. Kau sudah cukup mengerti cara kerja sihir. Itu akan membantumu membaur dengan yang lainnya, mereka hanya akan mengira kau ceroboh,” kata Frya, membuat Rae berhenti mencoba memunculkan api.


Kucingnya kembali pada mereka dengan membawa seekor kelinci dimulutnya. Dia menyengolkan kepalanya pada Rae menyodorkan kelincinya padanya. Rae tertawa lalu berjongkok.


“Tidak terimakasih, untukmu saja,” Rae membelai kepalanya. Si kucing tak membalasnya, dia membiarkan kelincinya asik memainkan si kelinci. Rae kasihan pada kelinci itu. Tapi begitulah sifat kucing.


“Kenapa aku harus ke snitchopalace?” tanya Rae hati-hati.


“Snitchopalace merupakan pusat ilmu pengetahuan di ar’chismaytopia. Kau akan belajar sihir di sana.”


“Apa aku tak bisa belajar sihir di sini saja?” tanya Rae.

__ADS_1


Frya tersenyum, “karena kau akan belajar lebih cepat disana. Kami bangsa elf memiliki rentang hidup yang sangat lama, karena itu kami tak pernah terburu-buru dalam banyak hal. Termasuk mempelajari sesuatu. Kami menginginkan kesempurnaan. Di sini kau akan terhambat dengan sirkulus hidup kami yang lambat.”


“Tentu,” jawab Rae murung.


“dan aku juga harus kembali ke snitchopalace,” kata Frya. Mood rae langsung berubah.


***


Frya mempersiap perjalanan mereka. Keesokan harinya Frya memberinya mantel perjalanan setelah mereka sarapan, lalu mengajaknya menemui sang raja dan ratu yang sudah menanti di hall utama, untuk berpamitan.


“Terimakasih atas kebaikan Yang Mulia,” kata Rae sambil membungkuk memberi hormat. Kucingnya duduk dengan sopan di sampingnya, sambil menjilati kakinya.


“kau harus belajar dengan giat Rae, dan hati-hati di jalan.” Sang ratu mendekat dan memberi pelukan, yang membuat Rae merasa hangat, walaupun dia merasa hal itu sedikit aneh.


“Jaga diri baik-baik Rae. Kami menunggu kunjunganmu berikutnya. Aku harap kau sudah mampu membela diri ketika kau mengunjungi Celestia lagi,” kata sang raja.


“Kau sudah siap,” tanya Frya. Rae menangguk.  Rae Meraup kucingnya.


Frya menoleh dengan pandangan bertanya. Rae mengeleng dan tersenyum cerah. Tak ada gunanya mengingatnya sekarang. Sekarang segala sesuatunya menjadi tak bisa Rae mengerti. Dan dia tak ingin membiarkan pikirannya berkelana. Pikiran liarnya bisa membawanya ke mana-mana.


Akhirnya mereka berangkat, mengunakan dua buah kuda. Frya telah mengajarkannya bagaimana menaiki kuda, di suatu waktu. Kucingnya duduk di depan Rae, terlihat nyaman, tangan Rae meraupnya agar aman. Mereka membiarkan kudanya berderap santai melintasi jalan berbatu Celestia.


“Akan berapa lama perjalananan kita?” tanya Rae.


“Paling lama empat hari, kita bisa saja mengunakan portal untuk membawamu kesana, tapi kurasa kau ingin mengenal sedikit Ar’chismaytopia.” Kuda mereka berderap dengan lembut.


Begitu keluar dari kota Celestia, mereka berkuda melintasi hutan. Fyra menjelaskan berbagai macam makluk yang mereka temui dijalan. Semua mahkluk yang hanya Rae baca di dalam buku cerita dongen, di tempat ini mereka berjalan dan bernafas.


Ketika mereka sampai di jalur utama, hutan di belakang mereka menutup. Jalan yang mereka lalui sebelumnya menghilang.

__ADS_1


Setelah berjalan hampir setengah hari Frya mengajak mereka berhenti sejenak untuk makan. Frya telah membawa beberapa buah dan roti untuk bekal perjalanan mereka. Mereka berhenti di sebuah tanah lapang, sambil makan siang.


Setelah sejenak beristirahat, mereka kemudian melanjutkan perjalanan hingga menjelang senja. Frya memelankan langkah kaki kudanya, dan berhenti di sebuah padang kecil di tengah rimbunnya pepohonan.


“Kita bermalam di sini,” kata Frya sambil melompat turun dari kudanya, dia membantu Rae menurunkan kucingnya, kemudian melepaskan pelana kudanya. Kucing Rae mengeliat turun, Rae melepaskannya, kucing itu segera berlari menyelidik daerah barunya, sementera Rae melepaskan pelana kudanya, berada di atas punggung kuda membuat punggungnya terasa sakit.


“Terlalu berbahaya untuk meneruskan perjalanan di malam hari,” kata Frya. Mereka membuat bumi perkemahan kecil, Rae mengumpulkan ranting-ranting untuk api unggun, walaupun sebenarnya dia ingin merebahkan diri sejenak, sementara Frya memantrai daerah sekitarnya, membuat barier. “Hutan Reokwood bisa sangat berbahaya. Terutama setelah matahari tenggelam,” katanya menjawab pandangan bertanya Rae.


Rae mencoba menghidupkan api dengan sihir, butuh beberapa kali percobaan sebelum akhirnya dia berhasil, Frya dengan sabar membiarkannya melakukannya. Ketika akhirinya apinya menyala Rae memekik kegirangan. Tiba-tiba hutan yang semula tenang seakan berteriak dalam suara gaduh, Rae terhenyak seketika, dia memandang dengan waspada. Sekarang justru ketika dia memiliki teman dia merasakan aura menakutkan yang menyelimuti hutan.


Frya menepuk lutut Rae untuk menenangkan. Tapi gerakannya tidak membuat Rae lebih tenang karena.


Tiba-tiba tubuhnya waspada, dalam sekejap Frya melontarkan mantra dan sebuah kerikil melesat ke arah hutan. Frya berdiri dan mengampiri kemana kerikil tadi melesat. Dia kembali dengan seekor kelinci yang sudah mati di tangannya. Rae bernafas lega. Tapi wajah mendung menghiasi wajah Rae.


Rae memperhatikannya menguliti kelinci itu dengan tangkas, “jika kau hidup bersama alam kau takkan perlu khawatir kau akan kelaparan, tapi jika kau hanya ingin mengisi perutmu bukan menyembuhkan laparmu, maka seisi hutan takkan pernah cukup bagimu,” katanya dengan nada menyesal. Dia membumbui kelincinya sebelum memangganya di atas api unggun.


Beberapa saat kemudian kucingnya kembali dengan membawa tikus dimulutnya, dia meletakkannya di depan Rae. “Kucing pintar,” Rae menepuk kepalanya. Si kucing membalas belainnya, kemudian memainkan makananya.


“Makhluk yang beruntung,” kata Frya.


“Kenapa?” tanya Rae kembali mengarahkan perhatiannya pada Frya..


“Mereka tidak memiliki banyak rasa khawatir,” jawabnya  dengan tersenyum.


Bumbu sederhannya yang Frya berikan pada kelinci mereka membuatnya terasa sangat lezat di mulut Rae. Mereka menyatap makan malam, lalu Frya menyuruhnya tidur, sementara dia duduk menghadap api unggun, dia mengeluarkan sebuah logam dari kantongnya, lalu mulai bernyanyi, sementara tangannya terus meminjat, logam itu. Rae tertidur mendengar suara nyanyian merdu Frya.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2