
Rae langsung tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal, kelelahan tapi puas, dia hanya ingat samar-samar kasurnya berderit ketika Fhire bergabung dengannya di tempat tidur. Tendangan kaki Fhire di wajahnyalah yang membangunkan Rae pagi itu. Rae mengeliat dan bangun perlahan dari tempat tidurnya, meninggalkan Fhire yang menguap lebar. Frya telah bangun dan tengah bersiap.
“Pagi,” kata Rae sambil bergegas ke kamar mandi.
“Apa aku terlambat?” kata Rae begitu keluar dari kamar mandi.
“Tidak, tidak jika kau bergegas,” jawab Frya.
Segera setelah sarapan Rae bergegas ke ruang Master Azura, Master Azura menyambutnya dengan muka sebal seperti biasa. Rae menatap jam pasir di ruangan itu untuk memastikan dia tidak terlambar. Jam masih menujukan tepat pukul delapan, dia tidak terlambat. Tepat waktu malahan. Master Azura tanpa basa-basi segera menyuruhnya mengulangi mantra yang dua hari lalu belum juga dikuasai oleh Rae.
Setelah beberapa saat rasa puas yang dia rasakan karena kemajuan yang Rae peroleh dua hari ini menguap begitu saja, membuat Rae frustasi. Setelah beberapa saat Master Azura menyuruhnya beristirahat sebentar. Kekecewaan jelas tergambar di raut mukanya. Teman sekelasnya juga tidak membantu sama kelai. Kemajuan mereka yang jauh di depan Rae semakin membuatnya frustasi. Mereka menatap Rae dengan pandangan merendahkan, yang mana tentu saja tidak membantu Rae sama sekali dalam kemajuan belajarnya.
Setelah untuk ke sekian kalinya pertemuan mereka tetap tidak mengalami banyak kemajuan. Rae memberanikan diri, ia berjalan ke arah tasnya tergeletak lalu mengambil buku sihir yang membantunya melakukan beberapa sihir kecil akhir-akihr ini. Lalu mendekat pada Master Azura.
“Master bagaimana jika kita belajar sihir dari buku ini saja,” kata Rae sambil menyodorkan buku di tangannya.
Master Azura menatap bukunya sebentar lalu pandangannya beralih pada Rae dengan dingin. “Jika kau merasa lebih mampu mengajar dari pada diriku, silahkan… pintu itu selalu terbuka.” Rae tersentak mendengar nada tajam Master Azura. Ia tak menyangka akan mendapatkan akan mendapat jawaban seperti itu dari Master Azura.
Dia menarik kembali bukunya, nyalinya langsung menciut. “Tidak Master,” katanya dengan sangat menyesal telah melontarkan pendapatnya. Mood Master Azura setelahnya menjadi tidak lebih baik. Dia mengajar Rae dengan lebih dingin.
***
Rae menceritakan kejadian pagi ini dengan Master Azura pada Frya ketika makan siang,
“Apa benar-benar tidak ada kemajuan Rae, Dengan pelajaran sihirmu bersama Master Azura?”
“Tidak, aku tau aku tak sopan dengan menyarankan untuk belajar dari buku ini, tapi aku jelas lebih mudah melakukan sihir dengan instruksi dari buku ini, dibandingkan dengan pelajaran yang ia berikan selama beberapa hari ini,” dengan frustasi Rae memotong watermelon di depannya.
“Aku akan bicara pada Mounchi tentang ini,” kata Frya sambil mengambil stroberry dengan jarinya yang lentik dan memasukannya kemulut.
“Nae, aku tak ingin menimbulkan masalah,” Rae mengelengkan kepala.
“Tapi perlambatan dalam penguasaan sihir tidak bisa aku toleri,” sergah Frya.
“Ya, tapi Korien dan Rafael berhasil melakukan sihir dengan baik. Jadi kemungkinan aku lah yang bermasalah,” kata Rae. Frya hanya terdiam setelahnya.
Rae menikmati soupnya ketika tiba-tiba kapalanya seakan di dorong dengan cepat ke arah mangkuk di depannya. Frya dengan cepat menarik mangkuknya sehingga Rae hanya menghantam meja dengan keras.
“Ouch,” Rae mengosok hidungnya, dan memandang sekeliling. Dia sudut dia melihat Herados nyengir.
“Kau tak apa?” tanya Frya, dia manaruh kembali mangkuk soup Rae kembali ketempatnnya semula.
“Apa masalah dia,” gerutu Rae. Dia bangkit, Frya tidak menghentikannya. Ia berderap ke arah Herados.
“Halo hybrid,” kata Herados dengan senyum pongah masih menghiasi bibirnya. Senyum yang selalu menanggu Rae saat melihatnya.
“Apa masalahmu,” bentak Rae sengit.
“Apa maksudmu hybrid,” katanya Herados pura pura binggung.
Rae berkonstentrai dan merahi element kayu yang menjadi tempat duduk Herados dan kursi itu terjengkang kebelakang menimbulkan bunyi suara yang keras. Dengan sigap Herados meloncat berdiri.
__ADS_1
“Mau bertarung hybrid?” tanyanya kalem. Sementara expresi wajahnya terlihat puas mungkin karena sudah berhasil menganggu Rae.
“Rae!” Rae menoleh dan mencelos. Master Mounchi berdiri di belakangnya dengan mata biru mentap Rae dengan tajam.
“Sihir tidak diperbolehkan di ruang makan untuk alasan berkelahi.” Master Mounchi berbicara dengan kalem meski mata birunya menatap Rae dengan tatapan tajam.
“Herados yang mulai Master,” kata Rae hampir terdengar seperti kekanak-kanakan. Herados yang di sebut namanya mengacungkan jemarinya pada diri sendiri dengan ekpresi terluka. Membuat Rae ingin memukul wajah tampannya.
“Ini peringatan pertama, jika aku melihatmu melakukan sihir tidak pada tempatnya lagi, aku pastikan kau akan di hukum,” Master Mounchi memberikan tatapan peringatan pada Rae. Dia menatap Rae yang masih berdiri di dekat Herados dengan lama. Matanya seakan menembus Rae memberinya peringatan. Baru setelah Rae menjauh tatapan Master mounchi beralih dan dia berlalu.
Rae kembali ke tempat duduk di dekat Frya sambil mengerutu. Dia mendorong mangkuk supnya, tidak lagi tertarik untuk makan. Frya mengamatinya dengan geli. Kenapa hari ini Frya memilih untuk tidak mengubris pertengkaran mereka.
“Ayo kau harus berlatih memanah hari ini.”
Hari-hari yang berlalu tidak begitu tenang, Master Azura sepertinya telah mendengar keributan yang Rae buat dan memandang Rae dengan sengit.
“Jika kau bisa sihir harusnya kau perlihatkan itu di kelas bukan di ruang makan. Menimbulkan keributan saja,” kataya dengan ketus beberapa waktu lalu ketika dalam kelas. Sementara itu perkelahiannya dengan Herados masih berlangsung, beberapa waktu lalu dia menemukan tempat Rae berlatih, dan ketika Frya sedang mengajarinya bertahan dia membeku kan Rae, tepat disaat pedang Frya sedang mengayun dengan cepat ke arah lehernya. Frya yang merasakan ada hal yang salah dengan Rae dengan sigap menghentikan serangannya.
Akhir-akhir ini Frya sering pergi seharian, latihan fisik Rae menjadi berkurang, karena Rae sudah cukup mahir untuk berlatih sendiri Frya menyuruh Rae untuk berlatih sendiri, tapi dia tak mengijinkan Rae untuk ke hutan sendirian, jadi ketika Frya mulai lebih sering pergi dia mengajak Rae ke lapang berlatih.
Dengan cangung Rae berlatih pedang sendirian. Dari sudut matanya sepertinya dia mengenali anak laki-laki yang pertama kali ia jumpai ketika tiba di Snitchopalace sedang berlatih tanding dengan temannya, dengan sangat mempesona mereka berlatih tanding seakan sedang berdansa bersama.
Ketika dia mengayunkan pedangnya tiba-tiba pedang itu menumbuk sesuatu yang keras dan terlontar beberapa meter jauhnya.
“Konstentrasi Rae!” kata Herados dingin, dia sudah ada di depan Rae, pedangnya teracung ke arah Rae dalam posisi mengancap.
“Apa maumu?” kata Rae ketus.
Herados tak menjawabnya, alih alih malah bertanya, “di mana pengasuhmu?” katanya santai.
“Gunakan sihirmu hybrid,” teriak Herados marah.
“Bukan urusanmu” kata Rae sambil memungut pedangnya. Tiba-tiba saja Herados menyerangnya. Rae harus berguling untuk menghindar. Dan detik kemudian mereka sudah bertarung habis habisan. Rae tentu saja kalah langkah. Baru beberapa tebasan dan tangan Rae mulai gemetar.
“Ayo Rae aku bahkan tidak mengunakan seluruh kekuatanku,” teriak Herados girang.
“Pergi!” segah Rae, peluh menetes di seluruh wajah Rae. Dengan marah ia mulai merapalkan mantra dan memusat kekuatan untuk mengebuk Herados dari samping dengan pedangnya. Herados menepisnya dengan sekali tebasan seakan Rae hanyalah angin lalu. Pedangnya kembali melayang.
“RAE!!!” Raungan Master Mounchi bergaung keras di seluruh lapangan tanding.
Herados membuat suatu gerakan mutar dan menyarungkan pedangnya.
“Master Mounchi,” sapa Herados kalem, seakan tidak terjadi apapun.
“Pangeran,” sapa Master Mounchi sopan.
“Ikut aku Rae!” perintah Master Mounchi. Dia berderap. Rae mengikutinya, dan langkah mereka berakhir di kantor Master Mounchi.
Begitu pintu mengayun tertutup di belakang Master Mounchi berbalik, “Rae! Bukan kah aku telah mengingatkan padamu beberapa hari yang lalu, jangan berkelahi dengan pangeran kegelapan,” Master Mounchi menekankan tiap katanya.
“Ya masalahnya Herados yang mulai duluan Master,” rengek Rae.
__ADS_1
“Kau tau apa yang bisa dilakukan oleh Svártálfar dan dia bukan Svártálfar biasa, dia adalah putra mahkota kerajaan dark elf. Kau sama saja dengan menyodorkan kepalamu padanya. Apa kau tidak mengerti,”
Rae bersungut-sungut. “Tapi Master, aku sudah berusaha menghindar tapi dia terus saja muncul di hadapanku.” Master Mounchi terlihat sangat frustasi.
“Kau harus membuat ringkasan tentang sejarah perang elf, kumpulkan besok setelah makan siang sebagai hukuman. Dimulai dari sejarah awal Ar’chismaytopia. Satu hari satu perang selama satu bulan ini setiap hari tanpa alpha. Semoga hukuman ini akan menyadarkanmu betapa berbahayanya bermusuhan dengan Herados.”
“Tapi Master,” protes Rae.
“Tidak ada tapi,” tegas Master Mounchi. “Kau bisa mulai sekarang.” Dengan begitu dia mengusir Rae. Rae yang bersungut-sungut keluar dari kantor Mounchi. Dia tak bisa kembali ke lapangan untuk berlatih, Herados mungkin masih menunggunya di sana untuk membuat masalah. Sebaiknya dia langsung ke perpustakaan untuk mengerjakan tugasnya. Dia tahu Mounchi tidak main-main jadi walaupun enggan dia tetap melakukan apa yang Master Mounchi perintahkan.
Rae menemukan Master Callimachus duduk di belakan meja resepsionis, bersandar dengan nyaman di kursinya, sebuah buku besar terbuka di pangkuannya.
“Master,” bisik Rae.
“Bukan Master, Rae,” katanya dalam bisikan kalem sambil mendongkak dari bukunya.
Rae tersenyum jahil.
“Tak pernah kemari dan membuat onar he..? Aku dengar kau membuat keributan di ruang makan,” kata Master Callimachus lambat-lambat. “Berkelahi dengan Pangeran Herados eh… nyalimu besar juga.” Master Calllimachus tersenyum.
“Dia yang mulai,” jawab Rae sebal.
“Padahal kau sendiri yang bilang bahwa ilmu pengetahuan adalah senjata terbaik tapi aku tak pernah melihatmu.”
Rae tersenyum, “sibuk ini itu? Dan aku belum selesai mempelajari ini,” kata Rae sambil mengeluarkan bukunya. Callimachus menaruh bukunya, dan meraih buku Rae.
“Putri Frya memberimu itu?”
“Eh? Master tau Frya?” kata Rae.
“Tentu saja aku tahu,” Callimachus mengetuk buku yang di pegangnya, dia menaikan sebelah alisnya dengan sangat menawan. Kemudian menatap Rae dengan pandangan bertanya.
“Ah, aku menemukan di ruang belajar yang ada di kamar,” kata Rae masih dengan berbisik Rae sambil menujuk ke arah kamar. Callimuchus memandangnya dengan tak percaya. “Sumpah?” kata Rae berlebihan.
Callimuchus mengetuk bukunya sebentar sambil bergumam. “Aku tak tahu jika ada buku bagus dan bukan property perpustakaanku?” katanya sambil menghela nafas terdengar kecewa, mengembalikan buku Rae tapi dengan terus menatapnya dengan pandangan hampa. “Apa yang membawamu kemari?” tanya Callimachus. Rae menceritakan tugasnya dan apa yang membuatnya dapat hukuman itu. Sambil berbisik. Karena setiap kali Rae meninggikan suaranya Master Callimachus akan meng-huss-nya.
“Jadi aku butuh buku sejarah Master,” kata Rae nyengir. Master Callimachus mendengus lalu berdiri dari tempat duduknya yang nyaman.
“Ikut aku,” katanya lalu berjalan ke arah rak buku sejarah.
Master Callimachus menelusuri rak bukunya dengan jemarinya yang panjang dan termanikur dengan rapi. Menarik sebuah buku tebal lalu menyerahkannya pada Rae dan meninggalkan Rae sendirian untuk mengerjakan hukumannya.
Setelah beberapa lama Rae sejarah perang Svatalafar Rae mulai menyadari betapa kejamnya betapa kejamnya Svartálfar itu. Tanpa ia sadari langit telah menghitam Rae bahkan belum mulai menulis perkamennya, Rae harus kembali kekamarnya, membawa buku yang di pinjamnya, pamit pada Master Callimachus dan berhati-hati agar tidak bertemu Herados.
Dia berhasil sampai ke kamar tanpa bertemu Herados, jadi dia menunggu Frya yang kembali hampir selewat tengah malam sambil menulis resume sejarahnya, yang harus Rae akui dengan sedih tulisan nya tidak terlalu bagus. Dia jarang menulis dengan pena, bahkan sebelum Rae tiba di Ar’chismaytopia, dan di sinilah ia sekarang. Menulis dengan pena dan perkamen. Yang hasilnya tidak bagus sama sekali.
“Kenapa kau menulis esai panjang sekali?” tanya Frya menatap perkamen di tangan Rae.
“Kau balik malam sekali,” lalu Rae menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Herados.
“Kau tak bisa berlatih di lapangan kalau begitu,” sesal Frya. “Kau harus tidur, aku akan memikirkan tempat lain untukmu berlatih.”
__ADS_1